JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kajian Usahatani Padi Sawah dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Kabupaten Landak Kalimantan Barat

Kajian Usahatani Padi Sawah dengan Pendekatan PTT di Kab. Landak Kalimantan Barat

Tanaman padi merupakan komoditas pangan utama yang sangat fundamental bagi masyarakat. Pada tahun 2006 produktivitas padi di Kalimantan Barat masih rendah 3,3 ton/ha dengan produksi 882.822 ton, dan luas panen 267.292 ha. Sedangkan di Kabupaten Landak yang merupakan salah satu sentral produksi padi di Kalimantan Barat mempunyai luas panen sebesar 41.840 ha atau 29,6%, dengan produktivitas 3,4 ton/ha dan produksi 141.292 ton atau 16%. Rendahnya produktivitas padi disebabkan benih yang ditanam kurang bermutu karena berasal dari benih sebelumnya, pemupukan tidak sesuai anjuran, umur bibit tua, sistem tanam tidak teratur dan pengendalian Organisme Penggangu Tanaman jarang dilakukan.

 

Salah satu upaya peningkatan produksi padi, Badan Litbang Pertanian menganjurkan inovasi teknologi dengan pendekatan model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan inovasi kelembagaan berupa adanya jaringan kerjasama antara lembaga permodalan, produksi, pengolahan hasil dan pemasaran. Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu merupakan alternatif pegelolaan padi secara intensif pada lahan sawah irigasi meliputi pegelolaan tanah, air, hara, hama dan gulma terpadu.

Lokasi di Kabupaten Landak yang memiliki lahan sawah produktif dan beririgasi semi teknis, yaitu Desa Keranji Paidang, Desa Aur Sampuk dan desa Paloan merupakan representasi lahan irigasi semi teknis tempat dilaksanakannya PTT.

Strategi pengembangan model PTT yaitu sosialisasi dan apresiasi Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (PPSP atau PRA) sehingga diperoleh masalah dan kebutuhan teknologi yang diperlukan. Berdasarkan hasil PRA di Desa Keranji Paidang adanya permasalahan serangan tikus yang menyerang tanaman pada masa vegetatif dan generatif, hama ulat gerayak yang menyerang tanaman pada pertumbuhan generatif dimana ulat gerayak tersebut memotong bulir padi yang hampir panen, hama keong mas yang menyerang tanaman pada masa pertumbuhan vegetatif pada umur 1-10 HST, hama walang sangit menyerang pada saat tanaman sedang masak susu dan keasaman tanah  yang tinggi akibat irigasi belum optimal.

Identifikasi masalah usahatani padi di Desa Aur Sampuk yaitu adanya hama keong mas yang menyerang pada masa pertumbuhan vegetatif pada waktu tanaman baru dipindahkan dari persemaian, hama walang sangit yang menyerang tanaman pada saat masak susu, hama penggerek batang yang menyerang tanaman pada masa pertumbuhan vegetatif, kurangnya modal usaha tani untuk membeli saprodi sehingga pemberian pupuk tidak sesuai dengan dosis anjuran, sedangkan varietas yang digunakan umumnya Ciherang dan Mekongga, untuk penanganan pasca panen petani menggunakan pedal tresher dimana kapasitasnya dalam merontok  gabah masih rendah.

Permasalahan yang dihadapi oleh petani Desa Paloan adalah Kandungan Fe tinggi akibatnya pertumbuhan tanaman terganggu sehingga gabah yang dihasilkan tidak bersih dan terdapat bercak merah digabah tersebut, adanya hama keong mas yang menyerang tanaman muda dimana petani harus menyulam tanamannya 1-3 kali, hama walang sangit yang menyerang pada stadia masak susu dan bulir padi yang terserang akan terlihat bekas tusukan mengakibatkan banyak bulir padi yang hampa, kurangnya modal petani untuk membeli sarana produksi sehingga produksinya belum optimal.

Berdasarkan hasil PRA tersebut diatas maka perlu dilakukannya kajian usahatani padi sawah dengan PTT di Kabupaten Landak. Penggunaan komponen teknologi PTT yang telah ada disesuaikan dengan kondisi setempat sehingga komponen teknologi yang nantinya digunakan spesifik lokasi. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi dengan pendekatan PTT di Kabupaten Landak serta melakukan analisis kelayakan usahatani.

 

METODE PELAKSANAAN

Pelaksanaan dilakukan di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu sentral produksi padi. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juni – Oktober 2008. Varietas yang digunakan adalah Ciherang karena merupakan varietas yang sudah beradaptasi dengan baik. Sebelum dilakukannya kegiatan pengkajian terlebih dahulu dilakukan PRA dengan tujuan untuk memahami dan mengidentifikasi masalah yang  dihadapi petani di lokasi kegiatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Data yang dikumpulkan meliputi data primer diperoleh dari hasil wawancara dan diskusi dengan petani secara partisipatif dan sekunder diperolah dari dinas terkait.

 

Tabel 1. Komponen Teknologi Dengan Pendekatan PTT dan Pola Petani


Komponen Teknologi dengan

Pendekatan PTT

Komponen Teknologi dengan

Pola Petani

-Varietas yang digunakan Ciherang

-Benih yang digunakan bermutu dan sehat lebel Ungu (Pokok)

-Pengolahan tanah dengan sempurna menggunakan handtractor

-Pengairan dilokasi kegiatan dengan irigasi semi teksis

-Dosis pupuk berdasarkan hasil anlisis tanah (SP-36 150 kg/ha, KCl 48 kg/ha & Urea 150 kg/ha pemberian berdasarkan BWD)

-Pengendalian hama dan peyakit dilakukan secara terpadu sesuai OPT sasaran

 

-Jumlah bibit yg ditanam 2- 3 bibit/lobang tanam & cara tanam legowo 4 : 1

-Bibit ditanam umur 15 – 21 hari

-Varietas yang digunakan Ciherang

-Benih yg digunakan berasal dari pertanaman sebelumnya

-Pengolahan tanah dengan sempurna menggunakan handtractor

-Pengairan dilokasi kegiatan dengan irigasi semi teknis

-Dosis pupuk sesuai kemampuan petani (Urea 100 kg/ha, SP-36 3 kg/ha sedangkan KCl tidak digunakan)

-Penggunaan pestisida tidak sesuai anjuran (tergantung modal usahatani dan dosisnya tidak terkontrol)

-Jumlah bibit yg ditanam 3 - 6 bibit/lobang tanam & cara tanam tegel yg tidak beraturan

-Bibit ditanam umur 21 – 30 hari

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Tabel 2. Komponen Pengamatan antara Pendekatan PTT dan Pola Petani.


Komponen Pengamatan

Pendekatan PTT

Pola Petani

Tinggi Tanaman (cm)

98,88 a

92,63 b

Jumlah Anakan Maksimum

16,84 a

14,56 b

Jumlah Anakan Produktif

15,08 a

13,10 b

Jumlah Gabah/Malai (butir)

141,21 a

123,70 a

Jumlah Gabah Bernas/Malai (%)

92,06 a

90,33 b

Produksi GKP (ton/ha)

3,6

2,75

 

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut T pada taraf 5%.

Pengamatan yang dilakukan terhadap komponen hasil menujukan bahwa jumlah rerata gabah per malai dengan pendekatan PTT sebanyak 141,21 butir sedangkan pola petani rerata sebanyak 123,70 butir. Persentase gabah bernas dengan pendekatan PTT rerata sebesar 92,06% sedangkan pola petani rerata sebesar 90,33%. Hasil produksi gabah kring giling dengan pendekatan PTT rerata sebesar 3,6 ton/ha sedangkan pola petani rerata sebesar 2,75 ton/ha. Berdasarkan hasil produksi tanaman padi antara teknologi pendekatan PTT dan pola petani terjadi perbedaan sebesar 800 kg. Perbedaan hasil ini tidak terjadi singnifikan karena dalam proses pengolahan lahan dan cara pemeliharaan tanaman tidak terlalu jauh perbedaan. Peningkatan hasil tanaman yang diperoleh dengan pendekatan  PTT dapat mencapai 16 – 37 % sesuai menurut tingkat dan skala luasan usaha (Abdulrachman, 2007).

Menurut  Departemen Pertanian (2007) Bukti nyata pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dapat dilihat antara lain dari peningkatan produksi padi dari tahun ketahun. Penurunan produksi padi lebih banyak disebabkan oleh serangan hama penyakit dan anomali iklim. Budidaya padi dengan model pendekatan PTT pada prinsipnya memadukan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang (sinergis) guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi usahatani, kemajuan teknologi seperti perakitan varietas baru, pengelolaan hara spesifik lokasi, peningkatan monitoring hama/penyakit dan penggunaan bahan organik yang disertai dengan penerapan beberapa komponen teknologi yang saling menunjang (penyiangan dengan menggunakan alat gasrok, pengairan berselang, penggunaan bibit tunggal dan cara tanam) di 28 kabupaten selama tahun 2002-2993 meningkatkan hasil panen rata-rata 19% dan pendapatan 15% (Badan Litbang Pertanian, 2007).