JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rekomendasi Kebijakan mendukung Gernas Kakao di Kalimantan Barat

Rekomendasi Kebijakan Mendukung Gernas Kakao di Kalimantan Barat

Latar belakangnya Gernas Kakao dikarenakan menurunnya tingkat produktivitas kakao yang disebabkan umur  tanaman tua, kondisi tanaman rusak, tidak terawat, terserang hama penyakit. Provinsi Kalimantan Barat sebagai salah satu sentra produksi kakao di Kalimantan khususnya daerah perbatasan penting diperhatikan.  Adapun tujuan dari Gernas Kakao adalah peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil. Pendekatan Gerakan melalui petani yang tergabung dalam kelompok tani, bantuan bibit dan sarana produksi pada tahun pertama dibiayai dari pemerintah, tahun kedua melalui pembiayaan lembaga perbankan dengan agunan sertifikat tanah masing-masing petani. Pendampingan oleh pemerintah kabupaten dan provinsi. Dalam pelaksanaan Gernas Kakao tentunya ditemui kendala dan hambatan. Untuk mengantisipasi kendala dan hambatan tersebut perlu upaya solusi pemecahannya.  Solusi pemecahan tersebut melalui rekomendasi kebijakan.

 

Kebijakan Mendukung Gernas Kakao

Dari hasil analisis tanah yang dilaksanakan oleh Tim Pusat Gernas Kakao diperoleh rekomendasi pemupukan (Tabel 1). Dalam pelaksanaan dilapangan diperlukan dosis pupuk untuk masing-masing kegiatan yang meliputi ;intensifikasi, peremajaan, dan rehabilitasi. Dosis pupuk tanaman kakao berdasarkan umur tanaman (rekomendasi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao tahun 2008 dan analisis tanah  dari Faperta Universitas Tanjungpura 2010).

Tabel 1. Rekomendasi pemupukan kakao di Kecamatan Sekayam, 2010

Umur

Unit

NPK

15-15-15

Urea

(N=46%)

Sp-36

P205 (36%)

KCl

K2O (60%)

Bibit

gr/bibit

15,3

0,35

0,62

0,17

0-1 tahun

gr/ph/th

76,7

1,04

1,04

0,825

1-2 tahun

gr/ph/th

138

2,5

2,5

0,5

2-3 tahun

gr/ph/th

276

5

5

1

3-4 tahun

gr/ph/th

552

10

10

2

4 tahun

gr/ph/th

674,7

15

15

1,3

Sumber:Data Primer, (2009)

Dalam pelaksanaan rehabilitasi tanaman (sambung samping) harus didasarkan tahapan antara lain; batang bawah, entres, penyukupan entres dan pengikatan, pengamatan, penyulaman dan pembukaan tutup entres, perawatan tunas sambungan. Dua kunci keberhasilan sambung samping antara lain; 1.perhatikan kebutuhan air pada entres, jangan sampai entres mengalami dehidrasi, 2. Pastikan agar luka bekas sayatan terhindar dari air hujan karena dapat memacu perkembangan penyakit.

Pada kegiatan intensifikasi tanaman yang bertujuan memperbaiki  kondisi  kebun yang  tanamannya  kurang  terawat dan  terserang  OPT  (hama,  penyakit  dan  gulma)  melalui pemeliharaan tanaman sesuai dengan baku teknis (pedoman teknis gernas kakao). Hal-hal yang perlu mendapat perhatian antara lain; pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan gulma.

Pemangkasan pohon kakao di sentra produksi kakao Kabupaten Sanggau menggunakan 4 macam pemangkasan antara lain; pangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan dan pangkasan produksi.  Dalam pemangkasan tanaman kakao direncanakan jadwal pangkas dan kerusakan tanaman akibat salah pangkas. Pengelolaan naungan dalam kegiatan intensifikasi perlu mendapat perhatian.  Intensitas penaungan diatur sedemikan rupa sehingga cahaya masih besa meneruskan cahaya sekitar 60-80% dari cahaya langsung (disesuaikan dengan musimnya). Pada musim hujan, intensitas naungan harus lebih sedikit daripada musim kemarau. Produktivitas kakao tertinggi tercapai adanya penaung. Kegiatan penaungan meliputi beberapa aspek antara lain; sinar matahari, kelembaban udara, kelembaban tanah, unsur hara dan bahan organik tanah, hama penyakit serta gulma.

Pengendalian Hama dan Penyakit Kakao pada prinsipnya dilakukan secara pendekatan ekologis. Beberapa komponen teknologi pengendalian yang dapat dipadukan antara lain; kultur teknis, mekanis, biologis, pemanfaatan tanaman tahan dan kimiawi (Sulistyowati, 2008). Pengendalian PBK terpadu terbagi pada dua yaitu pada daerah bebas PBK dan daerah serangan.  Provinsi Kalimantan Barat sebagai daerah serangan PBK teknik pengendalian meliputi; pemangkasan, pemupukan, panen sering, sanitasi, pengendalian hayati, penyemprotan insektisida, penyarungan buah, trapping imago, pemanfaatan tanaman tahan. Pengendalian gulma pada umur tanaman muda sampai 5 tahun, pada tanaman dewasa yang kondisinya baik tajuk tanaman menutup rapat sehingga pertumbuhan gulma tertekan.

Dari hasil kelayakan usahatani kakao bahwa usahatani layak untuk dikembangkan.  Analisis menggunakan dua perhitungan yakni tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja upahan. Dari Tabel 2 menunjukkan usaha tani kakao layak untuk dikembangkan.

Tabel 2. Analisis Kelayakan Usahatani Kakao Tenaga Kerja Keluarga dan Tenaga

Kerja Upahan Luas 1 Ha di desa Pengadang

Indikator

Tenaga Kerja Keluarga

Tenaga Kerja Upahan

NPV (RP)

76.325.374

63.565.151

IRR(%)

27,49

19,80

B/C

2,26

1,84

Modal (Rp)

216.503.015

267.723.015

Titik Impas Harga (Rp)

7.765

9.601

Titik Impas Produksi (kg)

12.029

14.873

BEP (tahun)

5

7

Sumber:Data Primer, (2009)

Peningkatkan pendapatan rumah tangga petani mutlak diperlukan, maka usaha intensifikasi dan diversifikasi diperlukan.  Dari hasil base line survey diperoleh usahatani kakao, usahatani padi, tanaman penaung dan usaha di luar pertanian sebesar Rp 25,1 juta/kk/tahun.  Pendapatan ini dapat ditingkatkan menjadi Rp 36,juta/kk/tahun (Tabel 3).

Tabel 3. Prakondisi dan target pendapatan rumah tangga petani di desa

Pengadang, Kecamatan Sekayam, 2010

Pendapatan per tahun

Prakondisi

Target

Sumber

Rp

Rp

Usahatani kakao

8.300.000

15.970.000

Tanaman penaung

4.800.000

6.800.000

Tanaman pangan

2.800.000

5.800.000

Luar dan Non pertanian

8.100.000

8.100.000

Jumlah

24.000.000

36.670.000

Sumber:Data Primer, (2009)

Penanganan panen dan pasca panen kakao harus mengikuti SOP yang berstandar Indonesia (SNI biji kakao SNI01-2323-1991). Standard ini meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat pendaan, cara pengemasan dan rekomendasi. Tahapan pengolahan meliputi kapasitas pengolahan, pemetikan dan sortasi buah, pemetikan dan sortasi buah, pemeraman buah, pemecahan buah, fermentas, perendaman dan pencucian, pengeringan, tempering, sortasi, pengemasan dan penyimpanan di gudang.

Aspek Manajemen dan Kelembagaan

Beberapa opsi kebijakan yang dapat dilakukan untuk pemberdayaan kelembagaan agribisnis kakao petani antara lain;

1.  Kelompok tani membentuk Gapoktan di setiap desa.  Gapoktan berfungsi sebagai lembaga penyedia sarana produksi, lembaga pembiayaan, lembaga pengolahan hasil dan lembaga pemasaran.

2.  Kelompok tani membentuk Gapoktan di setiap desa. Gapoktan berfungsi sebagai lembaga pengolahan hasil dan lembaga pemasaran

3.  Kelompok tani membentuk Gapoktan di setiap desa. Gapoktan berfungsi sebagai lembaga pemasaran saja

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Rendahnya produktivitas tanaman kakao di kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau diakibatkan karena klon lokal, umur tua, kurang pemeliharaan, tanaman terserang hama dan penyakit. Rendahnya mutu biji kakao di tingkat petani karena penguasaan teknologi pengolahan hasil masih rendah dan belum terlaksananya presedur pengolahan hasil Standard Nasional Indonesia secara baik dan benar.

Kontribusi usahatani kakao bagi pendapatan rumah tangga cukup besar. Pendapatan rumah tangga petani berasal dari usahatani (usahatani tanaman pangan, usahatani tanaman penaung/sela, dan dari off farm dan non farm).

Kelembagaan di tingkat petani masih lemah. Kelompok-kelompok tani belum menjalankan sebagai lembaga dan kelembagaan agribisnis kakao.  Gernas Kakao sebagai salah satu upaya gerakan peningkatan mutu dan produktivitas kakao di kawasan perbatasan Kabupaten Sanggau cukup tepat.

Pola tanam kakao  tumpang sari  dengan tanaman pisang merupkan model usahatani kakao yang sesuai dengan kondisi fisik, sosial dan ekonomi.Pemberian pupuk kandang/pupuk kompos mutlak diperlukan bagi peningkatan produksi kakao melalui kegiatan Gernas Kakao (intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan). Hal ini berkaitan dengan tingkat kesuburan tanah yang menurun di lokasi sentra produksi.

Pemberdayaan kelembagaan agribisnis kakao petani melalui pembentukan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Gapoktan berperan menjalankan fungsi lembaga dan kelembagaan agribisnis kakao (penyedia saproduksi, pembiayaan, pengolahan hasil dan pemasaran).

Koordinasi dan sinergi kegiatan Gernas Kakao baik ditingkat pusat, provinsi dan kabupaten perlu ditingkatkan. Pembentukan Tim Monev ditingkat provinsi dan kabupaten harus segera dibentuk yang melibatkan Perguruan Tinggi dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat.