JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Perbanyakan tanaman kakao dapat dilakukan secara generatif  dengan menggunakan bijinya maupun secara vegetatif  dengan menggunakan metode cangkok, okulasi dan penyambungan (grafting). Perbanyakan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) secara klonal umumnya dilakukan dengan teknik penyambungan. Dalam penyambungan kakao dilakukan penggabungan sifat-sifat bahan tanaman klonal sebagai batang atas dan keunggulan sifat-sifat  bahan tanam benih sebagai batang bawah.  Keunggulan sifat-sifat  bahan tanaman klonal yang akan disambung umumnya sudah diketahui secara baik akan tetapi informasi mengenai jenis-jenis batang bawah unggul kakao hingga kini masih terbatas.

Salah satu teknik penyambungan pada tanaman kakao yang akhir-akhir ini sudah dikembangkan adalah metode sambung samping. Sambung samping merupakan teknik perbaikan tanaman kakao yang dilakukan dengan cara menyisipkan batang atas klon-klon unggul yang dikehendaki sifat-sifat baiknya pada sisi batang bawah (Hartman & Kester, 1983). Selain itu sambung samping dapat juga digunakan untuk memperbaiki tanaman yang rusak secara fisik, menambah jumlah klon dalam populasi tanaman, mengganti klon dan pemendekan tajuk (membuat tanaman menjadi pendek/dwarf). Beberapa keuntungan dari teknologi sambung samping adalah tanaman baru lebih cepat berbuah, pelaksanaannya lebih mudah dibandingkan dengan cara okulasi, batang bawah dapat berfungsi sebagai pelindung sementara bagi batang atas yang baru tumbuh dan kekosongan produksi dapat diminimalkan dengan cara mengatur saat pemotongan batang bawah (Sri Winarsih, 2004).

Peningkatan produktivitas kakao melalui metode sambung samping selama ini diterapkan pada jenis kakao Lindak yang populasinya di lapangan bervariasi karena perbanyakan generatif menggunakan benih hibrida F1. Benih hibrida F1 merupakan hasil persilangan dari klon-klon unggul yang terpilih. Meskipun memiliki keunggulan, karena kakao bersifat menyerbuk silang maka dalam populasi di lapangan akan timbul variasi genetic berupa bentuk buah, warna buah, ukuran buah serta kemampuan berproduksi pada setiap pohon hibrida tersebut (Winarsih & Prawoto, 1995). Penyerbukan silang selain menimbulkan variasi produksi, juga berpengaruh pada mutu biji yang dihasilkan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Soedarsono et al (1999) menunjukkan bahwa persentase biji ungu pada satu blok pertanaman kakao Mulia yang tidak murni dapat mencapai 69,14 %. Sumber pencemaran kemurnian populasi kakao Mulia dapat berasal dari kakao Lindak hasil sulaman, tanaman semaian maupun tanaman klonal palsu  (Sri Winarsih, 2004).

HASIL KAJIAN TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka dalam upaya memperbaiki tingkat produktivitas dan mutu hasil kakao di Kalimantan Barat maka telah dilakukan kajian teknologi sambung samping pada pertanaman kakao yang telah mulai menurun produktivitasnya. Tujuan umum dari kajian ini adalah mengkaji pengaruh system peremajaan tanaman pada pertanaman  kakao tua dengan teknologi sambung samping dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman dan mutu hasil buah kakao.

Keluaran umum dari kajian ini adalah satu paket teknologi berupa sistem peremajaan pertanaman kakao dengan teknologi sambung samping, yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasilnya serta diperolehnya dua klon kakao unggul dan adaptif. Kajian terdiri dari dua kegiatan yaitu : 1) Kajian teknologi sambung samping pada pertanaman kakao yang telah tua/rusak dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) tiga klon entris batang atas dari klon kakao unggul  dan 2) Kajian teknologi sambung samping dengan menggunakan entris batang atas dari beberapa klon unggul Kajian pertama menggunakan rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan enam perlakuan dalam empat ulangan.

Sedangkan kajian kedua menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengn enam  perlakuan dalam empat ulangan. Faktor-faktor yang diamati antara lain tingkat keberhasilan penyambungan, dan komponen pertumbuhannya. Hasil yang diperoleh  adalah  sebagai berikut : dari kajian pengaruh ZPT dan penggunaan klon unggul diperoleh tingkat keberhasilan antara 55 – 80 % dengan kondisi pertumbuhan tanaman sebagai berikut : panjang tunas berkisar antara 17,9 – 32,79 , jumlah cabang antara 1,85 – 2,75 dan  jumlah daun antara 8,52 – 11,12. Pada kajian ini tingkat keberhasilan terbaik diperoleh pada perlakuan menggunakan ZPT dengan batang atas entris dari klon GC – 7. Sedangkan terendah diperoleh pada perlakuan tanpa ZPT dengan klon batang atas UIT-1.  Sementara dari kajian pengaruh penggunaan beberapa klon unggul terhadap tingkat keberhasilan penyambungan diperoleh hasil sebagai berikut : Tingkat keberhasilan penyambungan berkisar antara 60 – 85 % dengan kondisi pertumbuhan panjang tunas antara 20,08 – 35,23, jumlah cabang berkisar antara 2,0 – 2,75 dan jumlah daun antara 6,5 – 14,25.   Pada kajian ini tingkat keberhasilan penyambungan  terbaik diperoleh dengan penggunaan klon lokal, sedangkan klon unggul terbaik adalah dengan menggunakan klon GC – 7 (72,5 %), sedangkan hasil terendah diperoleh dengan menggunakan klon PA 300. Berdasarkan hasil kajian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh yang dikombinasikan dengan penggunaan entris batang atas dari varietas unggul disamping dapat meningkatkan tingkat keberhasilan penyambungan dari rata-rata 60 % menjadi lebih dari 75 % juga dapat memperbaiki tingkat produktivitas dan mutu hasilnya serta daya adaptasi tanaman.

PROSEDUR TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING.

Prosedur pelaksanaan teknologi sambung samping adalah sebagai berikut :

Syarat– Syarat Batang Atas

  • l  Cabang berasal dari pohon yang kuat
  • l  Perkembangannya normal
  • l  Bebas dari hama dan penyakit
  • l  Bentuk cabang lurus dan diameternya disesuaikan  dengan batang bawah ± 1 cm.

Syarat–Syarat Batang Bawah :

  • l  Batang bawah harus sehat, kulit batang muda dibuka atau warna kambiumnya putih bersih
  • l  Apabila batang bawah kurang sehat, sebelum penyambungan lakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit

Bahan dan Alat  :

  • l  Batang bawah
  • l  Entries
  • l  Gunting pangkas
  • l  Pisau okulasi
  • l  Kantong plastic ukuran 18x8.5 cm, tebal 0.01 mm, (kantong gula pasir 0.25 kg)
  • l  Tali rafia yang telah dipotong- potong ± 1.25-1.50 m

Cara Menyambung  :

  • Penyambungan sebaiknya di lakukan pada awal musim hujan
  • Batang bawah dikerat pada ketinggian ± 50 cm dari permukaan tanah
  • Kulit batang diiris pada dua sisi secara vertikal dengan pisau okulasi, lebar 1-2 cm dan panjang  ± 2-4 cm(sama denga ukuran entries yang akan disambungkan)
  • Kulit sayatan dibuka dengan hati- hati, entries dimasukkan kedalam lubang sayatan sampai kedasar sayatan.
  • Sisi entries yang telah disayat miring diletakkan menghadap batang bawah.
  • Tutup kulit sayatan tekan dengan ibu jari tutup dengan plastic kemudian diikat kuat dengan tali raffia
  • Setelah dua sampai tiga minggu sudah dapat dilihat, sambungan berhasil ditandai entries masih segar sedangkan yang tidak berhasil kulit mengering atau busuk.
  • Plastic dapat dibuka setelah tunas tumbuh sepanjang ± 2 cm dengan cara bagian atas kantong plastic disobek
  • Lakukan penyiraman secukupnya secara rutin, buang tunas air yang tumbuh disekitar batang atas terutama dekat tempat penyambungan.
  • Tunas batang atas diikatkan kebatang bawah agar pertumbuhan mengarah keatas
  • Batang atas yang telah berumur 3-4 bulan dan panjangnya ± 60 cm dilakukan pemangkasan bentuk.
  • Tajuk batang bawah yang menaungi tunas hasil sambungan dipangkas seperdua bagian diatas sambungan.
  • Pengendalian hama, khususnya heliopeltis sp dan kutu putih
  • Pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada umur 7-10 hari setelah penyambungan dengan mengurangi ranting yang terlalu rimbun.
  • Pupuk sesuai dosis anjuran untuk mempercepat pertumbuhan batang atas.
  • Pemotongan batang bawah dilakukan batang atas mulai berbuah yaitu umur 1.5-2 tahun setelah penyambungan, caranya potong miring pada ketinggian ± 50cm diatas pertautan. Luka bekas potongan dioles dengan TB 192 .

PEMELIHARAAN TANAMAN PASCA SAMBUNG SAMPING

Pemeliharaan tanaman pasca sambung samping akan sangat menentukan  keberhasilan selanjutnya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ini antara lain adalah pemeliharaan batang pokok dan tunas yang baru tumbuh hasil sambung samping, pemangkasan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Tanpa melakukan pemeliharaan secara teratur dapat mengakibatkan kegagalan dari pekerjaan sambung samping yang telah dilakukan. Untuk lebih jelasnya maka akan dibahas faktor-faktor pemeliharaan tersebut sebagai berikut

1. Pemeliharaan batang pokok dan tunas hasil sambung samping.

Pada umur 3 – 4 bulan tunas hasil sambung samping diikat dengan tali rafia pada batang pokok  agar tumbuhnya lurus mengarah ke atas.

2. Pemangkasan bentuk.

Setelah panjang tunas mencapai panjang 60 cm kemudian dipotong pada batas 50 cm dari pangkal. Cabang sekunder yang tumbuh 2-3 batang diseleksi untuk diambil dua cabang yang pertumbuhannya simetris dan paling baik. Selanjutnya cabang sekunder yang tumbuh dipotong lagi pada jarak 40 cm dari pangkalnya. Cabang-cabang tersier yang tumbuh diperlakukan seperti cabang sekunder.

3. Penyiwingan.

Tajuk batang bawah disiwing 50 % tepat di bagian atas sambungan.  Tujuannya untuk memberi kesempatan pada tunas sambungan memperolaeh cahaya matahari yang cukup. Apabila penyambungan dilakukan pada satu sisi yang sama dan letak sambungan berhadapan muka, bagian tajuk yang disiwin juga saling berhadapan sehingga setelah disiwing akan membentuk lorong.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit.

Tunas baru hasil sambungan sangat rawan terhadap serangan hama dan penyakit.  Hama yang sering dijumpai adalah Helopeltis dan ulat Kilan, sedangkan penyakitnya adalah penyakit pembuluh kayu (VSD = Vascular Streak Deaback). Pengendalian yang dilakukan secara rutin adalah dengan penyomprotan insektisida dan fungisida akan sangat membantu perkembangan pertumbuhan tunas batang atas.

5. Pemupukan.

Untuk mempercepat pertumbuhan tunas sambungan maka tanaman perlu dipupuk. Dosis pemupukan disesuaikan dengan anjuran dan dilakukan dua kali setahun yaitu pada awal dan akhir musimpenghujan.

6. Pada umur tujuh bulan dilakukan pemangkasan produklsi pengendalian hama dan penyakit serta pembuangan tunas air

Pada pemangkasan produksi dilakukan pemangkasan terhadap cabang-cabang yang terlalu rimbun, cabang sakit, cabang kering, cabang menggantung dan tunas air.

7. Pembuangan tunas air.

Tunas air yang tumbuh di sekitar pertautan dibuang (diwiwil) agar tidak mengganggu pertumbuhan tunas hasil sambungan dan tidak meningkatkan kelembaban di sekigtar pertautan. Pembuangan tunas air harus dilakukan secara hati-hati agar tidak keliru dengan tunas hasil sambungan.