JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Pengomposan Jerami Dengan Biodekomposer M-dec

Salah satu komponen penting dari Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super pada Lahan Sawah Tadah Hujan adalah pengomposan jerami padi sebagai sumber bahan organic penting pada agro-ekosistem ini yang tanahnya sangat miskin dengan kandungan bahan organic. Lahan sawah yang dikelola petani di wilayah perbatasan Sanggau umumnya berupa tanah mineral berpasir yang sangat miskin dengan kandungan bahan organic. Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), DR. Ismail Wahab, ketika mengunjungi wilayah ini menyarankan untuk menambahkan pupuk organic 1-2 ton/ha dan mengembalikan kompos jerami ke sawah. Pada musim sebelumnya lahan persawahan di lokasi peringatan HPS ke-37 ini terserang hama Wereng Batang Coklat (WBC). Petani tidak mau mengambil resiko berulangnya serangan WBC ini sehingga seluruh jerami yang ada dieradikasi dengan cara dibakar. Sebagai kompensasinya para petani menambahkan pupuk organic dari kotoran sapi hingga 5 ton/ha karena mengharapkan hasil produksi padi yang tinggi pada lahan sawah tadah hujan mereka. Varietas padi yang ditanam juga dipilih VUB Inpari-33 yang tahan terhadap WBC biotipe 1, 2, dan 3. Strategi ini terbukti mampu menahan serangan WBC sekaligus melejitkan produktivitas padinya.

Bahan yang berupa jerami (lebih yang masih segar atau jika sudah kering dilembabkan sampai k.a ±60%) ditaruh dalam bedengan secara berlapis, tiap lapis dengan ketinggian ±30 cm, kemudian ditaburi dengan atau disiram larutan dekomposer. Tumpukan jerami dibuat berlapis-lapis hingga ketinggian 1-1,5 m.

Jerami dalam bedengan ditutup rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikan. Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air. Jika memungkinkan lebih baik pembuatan kompos dilakukan ditempat yang teduh. Setelah 3 minggu, kompos biasanya sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan 40-50oC, remah, warna coklat kehitaman

Dari satu ton jerami diperoleh kompos jerami sejumlah ± 300 kg dengan kualitas sebagai berikut: C-organik >12 %, C/N ratio 15-25%, kadar air 40-50 %, dan warna coklat muda kehitaman.

Pengomposan jerami dengan metode ventilasi tanpa pembalikan.

Jerami segar digiling hingga berukuran 1-3 cm. Hasil gilingan jerami ditumpuk dalam lapisan setinggi 20 cm, lebar 1 m dan panjang 1 m untuk membentuk tumpukan kompos 1 x 1 x 1 m3 (panjang x lebar x tinggi) dengan volume bahan kompos sekitar 1 m3 (~500 kg). Untuk menghindari jatuhnya tumpukan makan dibuatkan pagar bambu berukuran 1 x 1 x 1 m.

Teknik aerasi pengomposan dengan cara ventilasi dibuat dengan cara menempatkan sarang bambu di dasar tumpukan jerami (kurang lebih 30 cm di atas permukaan tanah) agar aerasi bisa terjadi dari bawah menuju ke atas tumpukan. Teknik aerasi yang lain dapat dilakukan dengan cara membuat lubang-lubang pada tumpukan jerami secara horinzontal menggunakan bambu atau paralon yang diberi lubang-lubang keberbagai arah tumpukan jerami.

Jerami ditumpuk secara longgar (jangan dipadatkan) untuk memperoleh aerasi yang baik. Kemudian tambahkan dekomposer secara merata di atas tumpukan tersebut. Setelah itu tumpukkan lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan tersebut setinggi 20 cm, dan basahi dengan air secara merata serta diinokulasi dengan mikroba yang berasal dari dekomposer. Demikian seterusnya sampai hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m.

Kompos ditutup dengan lembaran terpal/plastik untuk mempertahankan kelembaban dan meminimalkan evaporasi maupun kehilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya dalam waktu 24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada suhu sekitar 50oC atau lebih, dan tidak dilakukan pembalikan.

Kompos yang sudah matang ditandai dengan temperatur yang sudah konstan 40-50oC, remah dan berwarna coklat kehitaman. Kompos yang didapat sejumlah ± 500 kg, dengan kualitas sebagai berikut: C-organik >12%, C/N ratio 15-25 %, kadar air 40-50%, warna coklat muda kehitaman.