JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Varietas Unggul Kedelai Yang Adaptif di Berbagai Agroekosistem Kalimantan Barat

Salah satu komponen penting untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kedelai per satuan luas adalah varietas unggul baru. Hal ini terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki varietas unggul kedelai berupa 1) daya hasil tinggi, 2) memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakityang mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian  hama  terpadu 3) umur genjah untuk meningkatkan indek pertanaman dan 4) keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2015). Namun penggunaan varietas unggul kedelai di petani masih rendah. Disisi lain Badan Litbang Pertanian, hingga saat ini sudah banyak melepaskan varietas unggul kedelai yang memiliki daya hasil 1,5 – 3,4 t/ha (Balitkabi, 2016).

Tabel 1. Perkembangan Beberapa Varietas Unggul Kedelai yang telah dilepas tahun 1998 – 2016

 

Sumber : Balitkabi, 2016

Walaupun demikian, tidak semua varietas unggul yang dihasilkan bisa cocok untuk disemua kondisi agroekosistem, sehingga adaptasi varietas unggul perlu dilakukan.  Selama ini, kedelai di Kalimantan Barat dikembangkan di daerah pasang surut Kabupaten Sambas, dengan produktivitas hanya 1,0 – 1,8 ton/ha dengan varietas yang digunakan sebagian besar varietas unggul baru Grobogan dan Anjasmoro. Kedua varietas ini memang paling populer dan menjadi primadona di lahan pasang surut Kalimantan Barat. Selain itu, varietas unggul yang lain seperti Argomulyo dan Burangrang juga sudah digunakan di Kabupaten Sambas, hanya sa varietas ini tidak sepopuler varietas Grobogan dan Anjasmoro. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, bagaimana dengan kabupaten dan agroekosistem yang lain, lahan kering misalnya, apakah varietas unggul tersebut juga cocok diterapkan di sana? Tahun 2012 – 2013, varietas unggul mulai diperkenalkan di kenalkan di Kabupaten kayong Utara, Bengkayang, Sintang dan Kubu Raya dengan hasil di lahan kering 0,5 – 0,88 ton/ha dan lahan bergambut 0,92 – 1,04 t/ha. Hasil ini memang lebih rendah di bandingkan di daerah sentra kedelai di kabupaten Sambas yang bisa mencapai 1,54 – 3,08 t/ha (Tabel 2). Dari hasil ini kita bisa memperoleh informasi varietas unggul yang bisa adaptasi di lahan kering dan gambut selain di lahan pasang surut.

Tabel 2. Hasil Ujiadaptasi Kedelai di Berbagai Agroekosistem di Kalimantan Barat Tahun 2012 – 2017

 Sumber : BPTP Kalimantan Barat, 2012 – 2017.

   

Dengan hasil tersebut, disarankan untuk lahan pasang surut gunakan varietas unggul kedelai Grobogan, Anjasmoro dan Argomulyo sedangkan lahan gambut di sarankan menggunakan varietas Argomulyo dan lahan kering disarankan menggunakan varietas Burangrang.

Sumber :

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2015. Perbenihan kedelai. Pelatihan Teknis Budidaya Kedelai Bagi Penyulun Pertanian dan Babinsa.

Balitkabi, 2016. Deskripsi Varietas Unggul Kedelai 1918 – 2016.

Nurita et al., 2012. Laporan Akhir Pendampingan SLPTT Padi, Jagung dan Kedelai. Pontianak. BPTP Kalimantan Barat, 2012

Nurita et al., 2012. Laporan Akhir Pendampingan SLPTT Padi, Jagung dan Kedelai. BPTP Kalimantan Barat, 2013. Pontianak

Nurita et al., 2013. Laporan Akhir Demfarm Kedelai. BPTP Kalimantan barat. Pontianak

Nurita et al., 2015. Laporan Akhir Pendampingan Upaya-Upaya Khusus Peningkatan Produksi dan Produktivitas Komoditas Strategis BPTP Kalimantan Barat, 2015

Dewi., D.O, 2017. Laporan Akhir Pengkajian Sistem Usahatani Kedelai di Lahan Pasang Surut Kalimantan Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat

 Oleh: Ir. Sari Nurita