JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Kedelai Dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di Lahan Pasang Surut Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

Salah satu daerah sentra pengembangan kedelai di Kalimantan Barat adalah Kabupaten Sambas. Penanaman kedelai di lakukan setelah padi (pola tanam padi-kedelai) dari bulan Februari/awal April – Mei/Juni. Selama ini varietas yang digunakan adalah Anjasmoro yang sudah turun temurun dengan hasil 1,2 - 1,8 ton/ha. Untuk meningkatkan produktivitas kedelai, Pemerintah melakukan upaya khusus (UPSUS) peningkatan produksi kedelai melalui kegiatan GP-PTT, PAT-PIP dan pemberdayaa/ penangkaran. Dalam rangka mendukung UPSUS kedelai di Kabupaten Sambas, maka Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Kalimantan Barat melakukan demfarm kedelai di lahan pasang surut desa Simpang Empat Kec. Tangaran Kab. Sambas seluas 3 Ha dari bulan April – Juni 2015 dengan menerapkan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Dengan menggunakan teknologi PTT, diperoleh hasil varietas Grobogan 2,88 t/ha, Argomulyo 2,74 t/ha dan Burangrang 1,35 t/ha (Burangrang sempat terendam air pada saat pertumbuhan vegetatif sehingga hasilnya kurang optimal). Adapun komponen teknologi PTT yang diterapkan di lahan pasang surut desa Simpang Empat Kec. Tangaran adalah :
1. Varietas Ungul Baru
Varietas yang digunakan adalah Grobogan, Argomulyo dan Burangrang yang merupakan varietas kedelai berbiji besar dengan ukuran biji 14,5 – 18 gr/100 butir.
2. Benih bermutu dan berlabel
Benih yang digunakan merupakan benih dengan kelas Foundation Seed (FS) label putih. Kebutuhan benih kedelai 35 – 40 kg/ha.
3. Persiapan lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan tanpa olah tanah (TOT).
4. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan tugal, jarak tanam 40 x 20 cm dengan 2 biji/lubang, kemudian ditutup dengan tanah tipis.
5. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman kedelai yang mati pada umur 1 minggu setelah tanam. Penyulaman diharapkan tidak melebihi 1 MST karena tanaman yang disulam dikhawatirkan tumbuhnya tidak seragam dengan tanaman yang pertama.

6. Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada umur 10 HST dengan cara sebar pada saat tanah dalam keadaan lembab. Dosis pemupukan yang digunakan adalah 150 kg NPK/Ha, 36 kg SP36/Ha dan 12 kg KCl/ha
7. Penyiangan
Untuk menghindari persaingan dengan gulma, maka dilakukan penyiangan. Penyiangan dilakukan 2 kali atau tergantung pada banyaknya gulma. Penyiangan dilakukan menggunakan kored atau cangkul kecil atau dapat juga menggunakan herbisida.

8. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
OPT yang menyerang di lokasi demfarm adalah ulat grayak. Hama ini menyerang pada saat pertumbuhan generatif dan berkembang dengan cepat pada saat cuaca panas. Ulat ini memakan daun meninggalkan jaringan epidermis atas dan tulang daun sehingga menyebabkan daun terlihat dari jauh berwarna putih. Pengendalian ulat grayak dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif sihalotrin. Selain itu dapat juga menggunakan insektisida yang berbahan aktif permetrin, sipermetrin, dekametrin dan klorfluazinon.
9. Panen.
Panen dilakukan setelah semua daun tanaman sudah tua atau berwarna kuning atau telah gugur. Panen dilakukan menggunakan sabit gerigi atau sabit. Setelah dipanen, polong kedelai yang masih melekat dibatangnya segera dijemur. Kemudian biji dirontok dengan cara dipukul atau menggunakan mesin perontok bila tersedia. Setelah dirontok, biji segera dijemur atau dikeringkan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering