JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Teknologi Bio-Detas Pada Tanaman Kedelai di Lahan Kering

BIO-DETAS adalah inovasi teknologi bertanam kedelai dengan komponen utama varietas unggul adaptif, pupuk hayati Agrisoy dan pupuk organic untuk memperbaiki kesuburan fisik dan biologi tanah, serta pestisida hayati VirGra dan atau Be-Bas di sawah tadah hujan. Berdasarkan data BPS Prov. Kalbar (2015) diketahui bahwa produktivitas rata-rata kedelai di Kalimantan Barat hanya 1,56 ton/ha. Pada lahan sawah tadah hujan di Sulawesi Selatan, teknologi BIO-DETAS mampu memberikan hasil kedelai rata-rata 2,72 ton/ha dan keuntungan Rp.11.592.000/ha dengan harga jual kedelai pada saat panen Rp.6.000/kg. Luas lahan di Kalimantan Barat didominasi oleh lahan kering dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) seluas 9.257.907 hektar dari total luas lahan 14.680.700 ha. Sementara sentra produksi kedelai di Kabupaten Sambas menggunakan lahan sawah pasang surut dengan luas tanam hanya 1.029 ha dengan produktivitas 1,84 ton/ha. Produktivitas kedelai di lahan kering seperti di Kab. Bengkayang hanya 1,22 ton/ha pada tanah regosol dan Kab. Landak hanya 1 ton/ha pada tanah PMK. Penerapan Inovasi Teknologi BIO-DETAS berpeluang mendongkrak produktivitas kedelai pada lahan kering di Kalimantan Barat. Inovasi Teknologi BIO-DETAS budidaya kedelai pada lahan sawah tadah hujan direkomendasikan oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (2005) adalah sebagai berikut:
1. Setelah padi dipanen, jerami dipotong 1-3 cm di atas permukaan tanah. Gulma yang masih tumbuh disemprot dengan herbisida pratanam 2-3 liter/ha. Buatlah saluran drainase pada setiap lebar bedengan 4-5 meter.
2. Tanamn Varietas Unggul Baru seperti Anjasmoro, varietas genjah berbiji besar seperti Dega dan Argomulyo, atau varietas unggul berbiji sedang Dena-1.
3. Sebelum tanam, benih kedelai berdaya tumbuh > 80 % dicampur dengan pupuk hayati Agrisoy dosis 40 gram/8 kg benih sebagai inokulan Rhizobium yang mampu memacu pembentukan bintil akar tanaman kedelai. Apabila tanaman dapat membentuk bintil akar dengan baik maka lebih dar 60 % kebutuhan pupuk N tanaman dapat dipenuhi oleh tanaman itu sendiri melalui proses pengikatan Nitrogen yang ada di udara.
4. Benih ditanam dengan cara ditugal pada jarak tanam 40 cmx15 cm. Isilah 2-3 biji per lubang. Lubang tanam ditutup dengan pupuk organnik 1,0 ton/ha atau sekitar satu sendok makan per lubang. Waktu tanam diupayak tidak lebih dari 10 hari setelah panen tanaman padi.
5. Pupuk NPK diberikan secara diicir di sebelah barisan tanaman pada saat tanah cukup lembab dan tanaman berumur sekitar 10 hari dengan dosis 200 kg Phonska dan 50 kg SP-36 per ha.
6. Pengendalian gulam pertama dilakukan pada saat tanaman berumur sekitar 2 minggu, disemprot dengan herbisida kontak secara hati-hati agar tidak terkena tanaman kedelai. Pengendalian gulma selanjutnya dilakukan secara manual bergantung kondisi gulma di lapangan.
7. Pengendalian hama pemakan daun menggunakan pestisida Vir-Gra. Sedangkan untuk mengendalikan hama pengisap daun dan pengisap polong menggunakan pestisida hayati Be-Bas. Pengendalian hama/penyakit dapat juga menggunakan pestisida atau insektisida kimia yang sesuai.
8. Panen dilakukan dengan memotong batang dekat permukaan tanah pada saat tanaman sudah tua yang ditandai oleh daun-daun menguning dan rontok, polong berisi penuh berwarna coklat, dan mongering. Brangkasan segera dijemur dengan diberi alas. Selanjutnya dibijikan dengan menggunakan mesin perontok.