JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Rekomendasi Teknologi Pengendalian Bulai pada Tanaman Jagung di Sanggau Ledo

Rekomendasi Teknologi Pengendalian Bulai pada Tanaman Jagung di Sanggau Ledo

Permasalahan yang dijumpai pada daerah yang berbasis jagung Desa Sinar Tebudak (2007) adalah adanya serangan penyakit bulai pada tanaman jagung, rendahnya produktivitas tanaman sayuran, tanaman padi dan lada dan masalah perkandangan pada ternak sapi. Untuk mengendalikan penyaklit Bulai pada tanaman jagung dilakukan dengan rotasi tanaman, menggunakan bibit unggul dan perbaikan budidaya dan pasca panen, sedangkan peningkatan pendapatan dapat dilakukan dengan usahatani terpadu, dalam hal ini yang menguntungkan adalah jagung ternak sapi, sayuran, padi dan lada juga dengan pengolahan produk pertaniannya.

Sekitar 60 % lahan tanaman jagung di desa Sinar Tebudak tahun 2007 beralih fungsi ke tanaman lainnya seperti tanaman karet, sawit dan sayuran, hal ini disebabkan karena adanya serangan penyakit bulai, rendahnya harga jagung (kalah bersaing) dengan komoditas perkebunan seperti karet dan sawit.   Kerugian akibat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung sebanding dengan penurunan produktivitasnya artinya bila serangan bulai mencapai 50 % maka mengakibatkan penurunan produktivitasnya sebesar 50 %.
Hasil Survey (2007) bahwa sekitar 80 – 90 % tanaman jagung di Sanggau Ledo terserang penyakit bulai, hal ini disebabkan karena penggunaan lahan secara terus menerus (intensif) sehingga menyebabkan terjadinya serangan bulai.  Menurut (Wasman, 2008) bahwa untuk mengatasi penyakit bulai perlu dilakukan penanaman serempak, eradikasi tanaman dan penanaman varietas tahan bulai.

PROSEDUR

  1. Benih sebelum ditanam, dicampur dengan Seromil yang dilarutkan dengan air  untuk mencegah terserang bulai.
  2. Penanaman : jarak tanam 75 x 40 cm dengan 2 biji/lubang.
  3. Varietas : tahan terhadap bulai :  Bisi 816, Bima 3
  4. Pemupukan : Urea 300, SP36 100, KCl 100 kg/ha dan pupuk organik 2 – 3 ton/ha
    • Pupuk urea diberikan 25 % pada saat 7-10 hari setelah tanam (hst). 50 % pada saat umur 28 -30 hst dan sisanya 40-45 hst
    • Pupuk SP-36 seluruhnya pada saat 7-10 hst
    • Pupuk KCL diberikan 75 % 7-10 hst  dan sisanya 28 -30 hst . Setelah pupuk ditabur dalam larikan, ditutup kembali dengan tanah untuk menghindari kehilangan pupuk melalui penguapan dan air hujan.
  1. Pemeliharaan Tanaman
  • Penjarangan dan penyulaman dilakukan ketika tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam.
  • Jumlah tanaman yang disisakan setelah penjarangan adalah dua batang per rumpun.
  • Tanaman yang  disisakan adalah yang paling baik  pertumbuhannya.
  • Penyiangan :
    • Penyiangan dapat dilakukan dengan ditebas atau herbisida
    • Dilakukan pada saat tanaman berumur 14 – 20 hst.
    • Alat yang digunakan: kored atau cangkul kecil.
    • Penyemprotan herbisida dilakukan dengan dosis 2 liter/ha
  • Pengendalian Hama
  • Hama utama yang menyerang tanaman jagung adalah ulat bibit, penggerek batang dan tongkol.
  • Dapat dikendalikan dengan Carbufuron.
  • Bila hama penggerek batang diberi 3-4 butir Carbufuron/ tanaman.

 

REKOMENDASI
Penyebab Mewabahnya Penyakit Bulai :

  • Penanaman varietas jagung rentan bulai
  • Penanaman jagung berkesinambungan
  • Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan
  • Cara aplikasi fungisida tak sesuai
  • Tidak adanya tindakan eradikasi
  • Adanya resistensi bulai thd metalaksil
  • Peningkatan virulensi bulai thd tan. Jagung

Rekomendasi Pengendalian Bulai

  • Menekan sumber inokulum dengan periode bebas tanaman jagung
  • Penanaman serempak pada areal luas
  • Menanam varietas jagung tahan bulai
  • Eradikasi tanaman jagung terkena bulai

Manfaat tanam serempak dan periode bebas jagung

  • Tanaman sumber inokulum tidak ada lagi
  • Peronosclerospora sp.(Obligat) mati krn hanya bisa hidup pada tanaman jagung hidup. Belum diketahui tanaman inang lainnya.
  • Kemungkinan sangat kecil terjadi serangan bulai, lebih-lebih dipadukan dgn varietas tahan dan eradikasi tanaman terinfeksi.
  • Penyakit bulai dapat punah di daerah yang melaksanakan periode bebas tanaman jagung.

Hasil Uji Varietas Jagung Terhadap Ketahanan Penyakit Bulai tahun 2008


Varietas

% Serangan Bulai

Bisi 8-16

1.04

BMD-2

4.55

Bima-3

5.50

R-01

10.95

Bisma

15.54

N-35

17.73

NT

20.79

Sukmaraga

22.91

Lamuru

36.73

Bisi-12

37.12

Nilai Ekonomi

Dampak hasil penelitian uji varietas jagung terhadap ketahanan penyakit bulai yang telah disosialisasikan melalui Balai Penyuluh Pertanian (BPP), Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang bahwa perlu dilakukan penanaman serampak, eradikasi tanaman dan periode bebas tanaman jagung dan menanam varietas jagung tahan bulai seperti Bisi 816 dan Bima 3.  Kerugian akibat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung sebanding dengan penurunan produktivitasnya artinya bila serangan bulai mencapai 50 % maka mengakibatkan penurunan produktivitasnya sebesar 50 %.  Hasil penelitian ternayata tanaman jagung dengan varietas Bisi 816, BMD-2  dan Bima 3 dapat menekan atau mengurangi serangan bulai sekitar 5 %.