JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Pengenalan dan Pengendalian Fall Armyworm (Spodoptera Frugiperda), Ulat Grayak Jenis Baru Pada Tanaman Jagung

Hama merupakan salah satu faktor penghambat peningkatan produksi dan produktivitas tanaman. Salah satunya adalah hama ulat grayak yang biasa menyerang pertanaman di Indonesia, termasuk Jagung yang dapat menyebabkan pertumbuhan jagung kurang optimal hingga berakibat penurunan hasil. Namun kini, muncul ulat rayak jenis baru 

Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) yang merupakan serangga asli daerah tropis dari Amerika Serikat hingga Argentina. Di Indonesia, berdasarkan pemantauan Balai Besar Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Kementan, ternyata Fall Armyworm periode April – Juli 2019 telah ditemukan di 12 Provinsi di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Gorontalo (https://republika.co.id/berita/pw6dpk453/hama-ulat-grayak-jadi-ancaman-petani-jagung).  Agar serangan Fall Armyworm ini dapat segera ditangani sedini mungkin dan tidak sampai menimbulkan kerugian bagi petani, maka diperlukan informasi mengenai serangan hama ini, sehingga petani dapat mewaspadi dan mengambil langkah-langkah yang perlu dilakukan secara cepat agar tidak menimbulkan kerugian.  Serangan fall Armywor, jika tidak tertangani dengan baik, maka dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang signifikan antara 40% - 70%.

Ciri-Ciri Serangan

Seperti hama ulat pada umumnya, dimana fase yang membuat kerusakan pada tanaman adalah fase larva dan ulat, begitu juga pada Fall Armyworm (FAW) menyerang dan merusak daun jagung terutama daun muda yang masih menggulung. Daun yang dimakan larva FAW akan terus tumbuh menyebabkan lubang di daun tanaman yang merupakan ciri khas serangan FAW pada jagung. Terkadang, saat populasi FAW sangat tinggi, FAW dapat pula menyerang bagian tongkol jagung sehingga dapat menyebabkan kerusakan secara langsung pada hasil panen. Akan tetapi kebanyakan perilaku makan yang teramati ada di daun muda yang masih menggulung. Larva yang berumur 8 hingga 14 hari dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman jagung, terutama ketika titik tumbuh tanaman muda dimakan. Serangan FAW pada tahap vegetatif awal dapat menyebabkan lebih banyak kerusakan daun dan kehilangan hasil dibandingkan infestasi pada tahap vegetatif akhir. Ketika populasi FAW tinggi pada tanaman, larva dewasa terkadang pindah ke tongkol mengurangi kualitas produk saat panen. Hujan lebat dapat menghanyutkan larva muda dari daun dan menenggelamkannya pada daun muda yang masih menggulung. Berdasarkan pemantauan di lapangan oleh BBPOPT, serangan Fally Armyworm lebih banyak ditemukan pada tanaman jagung yang masih muda dibandingkan dengan tanaman jagung yang sudah memasuki fase generative.

Informasi lebih lengkap dapat dilihat dilink di bawah ini: