JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Teknik Mengendalikan Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung

PENDAHULUAN
Pada acara Promosi Ekspor Beras ke Malaysia yang dilaksanakan tanggal 20 Oktober 2017 di Desa Tunggal Bhakti, Kabupaten Sanggau, Menteri Pertanian juga mencanangkan agar Provinsi Kalimantan Barat juga dapat mengekspor jagung ke Malaysia. Pengembangan jagung di wilayah perbatasan ini dilakukan bekerjasama dengan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP). Untuk wilayah Desa Tunggal Bhakti, Kabupaten Sanggau, diharapkan kerjasama dengan Koperasi Agroinovasi Bhakti Bersama yang sudah berbadan hukum. Kondisinya adalah para petani belum terbiasa menanam jagung pipilan sebagaimana para petani di Desa Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Masalah utama yang dihadapi oleh para petani jagung di Kalimantan Barat diantaranya adalah serangan penyakit bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis. Oleh karena itu BPTP Kalimantan Barat membuat Demfarm jagung Lamuru seluas 6 hektar di Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Varietas Lamuru dikenal sebagai salah satu varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bulai.

DAMPAK
Penyakit Bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Peningkatan suhu dan kelembaban akhir-akhir ini diperkirakan akan semakin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora bulai melalui media udara, tanah ataupun benih.

CIRI-CIRI
Ciri umum yang ditimbulkan dari serangan bulai adalah munculnya butiran putih pada daun yang merupakan spora cendawan pathogen tersebut. Penyakit ini menyerang tanaman jagung varietas rentan hama penyakit dan umur muda (1-2 Minggu Setelah Tanam = MST) maka kehilangan hasil akibat infeksi penyakit ini dapat mencapai 100% (Puso). Masa kritis tanaman jagung terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari. Sejumlah daerah di Indonesia seperti Bengkayang, Kalimantan Barat, dilaporkan telah menjadi daerah endemic bulai. Upaya pencegahan yang dilakukan petani melalui perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil dilaporkan tidak membawa hasil karena adanya efek resistensi atau kekebalan terhadap bahan aktif tersebut.

GEJALA
Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan

PENYEBAB
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh tiga jenis spesis yaitu Peronosclerospora maydis, P. phillipinensis dan P. Sorghi

PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI
Penyakit bulai sangat ditakuti karena dapat menyebabkan gagal panen (puso). Oleh karena itu petani jagung harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bulai. Berikut ini adalah beberapa tips dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, tentang upaya yang dapat dilakukan petani dalam rangka mengendalikan penyakit bulai sebagai berikut:

  1. Penggunaan varietas tahan seperti jagung hibrida varietas Bima-1, Bima-3, Bima-9, Bima14 dan Bima-15 serta jagung komposit varietas Lagaligo dan Lamuru.
  2. Periode bebas tanaman jagung hal ini dikhususkan kepada daerah-daerah endemik bulai dimana jagung ditanam tidak serempak, sehingga terjadi variasi umur yang menyebabkan keberadaan bulai dilapangan selalu ada, sehingga menjadi sumber inokulum untuk pertanaman jagung berikutnya.
  3. Sanitasi lingkungan pertanaman jagung sangat perlu dilakukan oleh karena berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai sehingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya.
  4. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bulai dengan menanam tanaman dari bukan sereal.
  5. Eradikasi tanaman yang terserang bulai.
  6. Penggunaan fungisida (b.a. Metalaksil) sebagai perlakuan benih (seed treatment) untuk mencegah terjadinya infeksi bulai lebih awal dengan dosis 2,5 -5,0 g/kg benih.