Teknologi Hidroponik di Lahan Perkotaan

Kategori Induk: Sayur Kategori: Budidaya Sayuran Dilihat: 2714

Menurut literatur, bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu, seperti ditemukannya  taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina. Pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir atas hasil karya Dr. WF. Gericke, dengan uji cobanya berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral. Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya. Saat ini, hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah tangga. Kemajuan dibidang teknologi ikut berperan dalam pengembangan sistem hidroponik yang semakin serba otomatis dan terkontrol terutama berkaitan dengan pengaturan formula dan ratio nutrisi termasuk teknik distribusi nutrisi. Sampai saat ini dikenal paling tidak ada 6 sistem hidroponik yang kemudian berkembang dengan berbagai variannya.

Sistem hidroponik pada skala industri besar merupakan bagian dari sistem pertanian modern menggunakan greenhouse yang diatur serba otamatis. Hidroponik menjadi pilihan paling realistis untuk pertanian masa depan, selain karena beberapa keunggulan yang ditawarkan juga karena semakin hari semakin berkurang tanah pertanian yang layak, baik karena over fertilizer atau karena populasi manusia.

Berdasarkan pengalaman dilapangan, saat melakukan pertanaman dengan sistem hidroponik, bahwa tanaman berkembang dengan cepat, sehingga sistem hidpronik ini mempunyai banyak kelebihan. Kelebihan yang utama adalah keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin. Selain itu, Keuntungan lainnya :

Kementrian Pertanian melalui Balibangtan BPTP Kalimantan Barat tahun anggaran 2018 kegiatan KRPL melalui Penguatan Tagrimart adalah melakukan pertanam dengan sistem hiroponik. Tanaman sayuran yang ditanam meliputi : Bayam Merah, Bayam Hijau, Kailan, Kangkung, dan pada saat tulisan ini dibuat, pertanaman telah memasuki masa panen. Hasilnya, Sayuran Bayam merah 5 kg, Bayam Hijau 5 kg, Kailan 10 Kg dan Kankung 15 Kg.

Dari uraian di atas dapat disumpulkan bahwa bercocok tanam tanpa tanah memberi keuntungan yang lebih besar, terutama bagi penduduk perkotaan yang memiliki lahan sempit atau gersang. Cara ini memberi nilai plus dalam menciptakan penghijauan di tempat-tempat yang tidak memungkinkan lagi ditanam pohon dengan media tanah.