JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Penanganan Lalat Buah Pada Tanaman Jeruk

Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi lebih luas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60 % (Dwiastuti et.al., 2004).

Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan. Hal ini sangat merugikan karena dapat menghambat peningkatan produksi dan mutu buah. Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya (Dwiastuti et.al., 2004).

Bioekologi Lalat Buah

Dalam siklus hidupnya lalat buah mempunyai 4 stadium hidup yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat buah betina memasukkan telur kedalam kulit buah jeruk atau di dalam luka atau cacat buah secara berkelompok. Lalat betina bertelur ± 15 butir. Telur berwarna putih transparan berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva lalat buah hidup dan berkembang di dalam daging buah selama 6-9 hari. Larva dapat dilihat apabila buah yang terserang dibelah, sehingga terlihat belatung-belatung kecil dengan ukuran 4-10 mm. Larva mengorek daging buah sambil mengeluarkan enzim perusak atau pencerna yang berfungsi melunakkan daging buah sehingga mudah dihisap dan dicerna. Enzim tersebut diketahui yang mempercepat pembusukan, selain bakteri pembusuk yang mempercepat aktivitas pembusukan buah (Dwiastuti et.al., 2004).

Jika aktivitas pembusukan buah sudah mencapai tahap lanjut, buah akan jatuh ke tanah. Bersamaan dengan masaknya buah, larva lalat buah siap memasuki tahap pupa. Larva masuk dalam tanah dan menjadi pupa. Pupa berwarna kecoklatan berbentuk oval dengan panjang 5 mm (Dwiastuti et.al., 2004).

Lalat dewasa pada umumnya berwarna merah kecoklatan, dada berwarna gelap dengan 2 garis kuning membujur dan pada bagian perut terdapat garis melintang. Lalat betina ujung perutnya lebih runcing dibandingkan lalat jantan. Siklus hidup dari telur menjadi dewasa berlangsung ± 16-24 hari. Fase kritis tanaman yaitu pada saat tanaman mulai berbuah terutama pada saat buah menjelang masak (Dwiastuti et.al., 2004).

Lalat buah yang mempunyai ukuran tubuh relatif kecil dan siklus hidup yang pendek peka terhadap lingkungan yang kurang baik. Suhu optimal untuk perkembangan lalat buah ± 26°C, sedangkan kelembaban relatif sekitar 70%. Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan pupa. Kelembaban tanah yang sesuai untuk stadia pupa adalah 0-9%. Cahaya mempunyai pengaruh langsung terhadap perkembangan lalat buah. Lalat buah betina akan meletakkan telur lebih cepat dalam kondisi yang terang, sebaliknya pupa lalat buah tidak akan menetas apabila terkena sinar (Dwiastuti et.al., 2004).

Lalat buah pada jeruk paling banyak menyerang pada pemelo (Citrus grandis) dan sedikit yang menyerang jeruk manis (Citrus sinensis) maupun keprok (Citrus reticulata) dan Siam (Citrus suhuensis). Pada pamelo, serangan lalat buah kadang-kadang bersamaan dengan serangan penggerek buah Citripestis sagitiferella, sehingga agak sulit membedakan serangan tersebut. Lalat buah yang menyerang jeruk pada pamelo dan jeruk manis sudah diidentifikasi sebagai Bactrocera carambolae dan Bactrocera papayae. Sedangkan yang menyerang siam belum teridentifikasi. Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah saat buah menjelang masak. Hama ini banyak ditemukan di sentra-sentra produksi jeruk seperti di Sumatera Utara dan Jawa Timur (Dwiastuti et.al., 2004).

Pengendalian Lalat Buah

Lalat buah dapat dikendalikan dengan berbagai cara mulai dari mekanis, kultur teknis, biologi dan kimia. Di alam, lalat buah mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari genus biosteres dan opius dan beberapa predator seperti semut, sayap jala Chrysopidae va. (ordo Neuroptera) kepik Pentatomide (ordo Hemiptera) dan beberapa kumbang tanah (ordo Coleoptera). Peran mush alami belum banyak dimanfaatkan mengingat populasinya yang rendah dan banyaknya petani yang mengendalikan hama menggunakan insektisida. Parasitoid dan predator ini lebih rentan terhadap insektisida daripada hama yang diserangnya (Dwiastuti et.al., 2004).

Cara mekanis untuk mengendalikan lalat buah adalah dengan pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak dipanen terutama buah sortiran untuk menghindarkan hama tersebut menjadi inang potensial, akan menjadi sumber serangan berikutnya. Pengendalian mekanis dilakukan juga dengan mengumpulkan buah yang busuk atau sudah terserang kemudian dibenamkan kedalam tanah atau dibakar. Pembungkusan buah mulai umur 1,5 bulan untuk mencegah peletakkan telur (oviposisi), merupakan cara mekanis yang paling baik untuk diterapkan sebagai antisipasi terhadap serangan lalat buah (Dwiastuti et.al., 2004).

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah (membalik tanah) dibawah pohon/tajuk tanaman dengan tujuan agar pupa terangkat ke permukaan tanah sehingga terkena sinar matahari dan akhirnya mati (Dwiastuti et.al., 2004).

Pengendalian dengan cara kimia dilakukan dengan menggunakan senyawa perangkap/atraktan yang dikombinasikan dengan insektisida. Senyawa yang umum digunakan adalah Methyl Eugenol. Caranya dengan meneteskan pada segumpal kapas sampai basah namun tidak menetes, ditambah dengan insektisida dan dipasang pada perangkap yang sederhana, modifikasi dari model perangkap Stiener. Alat perangkap terbuat dari botol bekas air minum mineral yang lehernya berbentuk kerucut atau toples plastik. Perangkap dipasang dekat pertanaman atau pada cabang atau ranting tanaman jeruk. Pemasangan dilakukan sejak buah pentil (umur ± 1,5 bulan) sampai panen. Pemberian cairan atraktran diulang setiap 2 minggu sampai 1 bulan. Setiap satu hektar dapat dipasang 15-25 perangkap (Dwiastuti et.al., 2004).

Pustaka :

Dwiastuti, Mutia Erti, Anang Triwiratno, Otto Endarto, Susi Wuryantini, dan Yunimar. 2004. Panduan Teknis Pengenalan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk. Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, Batu.