JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengenalan dan Pengendalian Hama Kutu Sisik pada Tanaman Jeruk

Pengenalan dan Pengendalian Hama Kutu Sisik pada Tanaman Jeruk

Gejala Serangan

Kutu sisik menyerang tanaman jeruk dengan cara mengisap di permukaan kulit batang, cabang, ranting, daun dan buah. Daun yang terserang akan berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering serta terjadi retakan-retakan pada kulit. Jika serangan terjadi di sekeliling buah, akan menyebabkan buah gugur (Cahyani et.al., 2013). Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena buah menjadi kotor dan bila dibersihkan akan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah (Dwiastuti et.al., 2004).

Bioekologi

Kutu sisik Lepidosaphes beckii dewasanya (imago) berwarna gelap, bentuk bervariasi yaitu panjang, melingkar dan koma.  Kutu betina meletakkan telur secara berkelompok sebanyak 40-80 butir yang dilindungi tubuhnya. Pada musim kemarau telur menetas antara 15-20 hari, sedangkan pada musim hujan waktu penetasannya lebih panjang. Kutu betina ini mengalami 2 kali pergantian kulit sebelum mencapai stadium dewasa bersayap, sedangkan kutu jantan mengalami 4 kali pergantian kulit. Dalam satu tahun biasanya terdapat 3 generasi atau lebih. Kutu yang berbentuk koma lebih menyukai tajuk pohon yang padat dan serangannya biasanya lebih parah pada bagian tengah tajuk pohon (Dwiastuti et.al., 2004).

Sedangkan kutu sisik Unaspis citri betinanya meletakkan telur secara terpisah. Peletakkan telur kedua tidak akan berlangsung apabila telur pertama belum menetas. Pada kondisi dingin, larva tidak menjadi dewasa dan bersembunyi di bagian dalam tubuh kutu betina dewasa. Kutu berbentuk bulat (oblong), berwarna oranye terang atau merah. Kutu betina mengalami 2 stadium sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan 3 stadium. Secara umum, kutu berwarna ungu kecoklatan sampai hitam dengan warna abu-abu sepanjang tepinya. Panjang kutu betina 1,5-2,25 mm (Dwiastuti et.al., 2004).

Pengendalian

Di alam, kutu sisik Lepidosaphes beckii dikendalikan oleh musuh alami seperti entomopatogen jamur merah (Aschersonia sp.) dan Fusarium coccophilum, parasitoid Aphystis lepidosaphes, Aphystis lingnanensis, dan Aspidiotiphagus citrinus, serta predator Coccinellid Orcus chalybeus dan Rhizobius lophanthae (Dwiastuti et.al., 2004).

Upaya pengendalian kutu sisik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Pengendalian diawali dengan melakukan monitoring terhadap populasi larva dan imago kutu sisik serta semut yang dapat memindahkan telur dan nimfa kutu sisik (Dwiastuti et.al., 2004).
  2. Pengendalian populasi semut yang dapat memindahkan telur dan nimfa kutu sisik.
  3. Sanitasi dengan cara memangkas bagian tanaman yang rimbun untuk menjaga kelembaban tanaman dengan alat yang steril dan dimusnahkan (Cahyani et.al., 2013).
  4. Penyemprotan pestisida hayati dari ekstrak hasil rendaman biji keben pada konsentrasi 20 g/l juga dapat menurunkan serangan hama kutu sisik pada tanaman jeruk.
  5. Pengendalian secara kimiawi dilakukan melalui penggunaan pestisida berbahan aktif Mineral Oil, Detergen, Organophosphates, Carbamat, Imidacloprid, Diflubenzuron, dan Kinoprene (Dwiastuti et.al., 2004).

Pustaka :

Cahyani R., Ami, Evy Oktavia, dan Nelly Saptayani. 2013. Pedoman Pengelolaan OPT Ramah Lingkungan pada Tanaman Jeruk dalam Iswari, Dwi, Anik Kustaryati, dan Issusilaningtyas Uswatun H (Penyunting). Direktorat Perlindungan Hortikultura, Jakarta.

Dwiastuti, Mutia Erti, Anang Triwiratno, Otto Endarto, Susi Wuryantini, dan Yunimar. 2004. Panduan Teknis Pengenalan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk. Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, Batu.