JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengaruh aplikasi seed-treatment terhadap pertumbuhan persemaian jeruk JC (Japanche citroen)

Pendahuluan

Pembangunan agroibisnis Jeruk diawali di perbenihan, artinya agribisnis jeruk yang berkelanjutan dan kompetitif menuntut dukungan industri benih yang tangguh, yaitu menghasilkan benih jeruk bermutu prima yang berlabel bebas penyakit, tersedia pada saat musim tanam dan dengan harga yang terjangkau petani.

Benih jeruk  bermutu: bebas dari 5 pathogen sistemik, yaitu : CVPD   (Citrus Vein Ploem Degeration), CTV (Citrus Tristeza Virus), CVEV (Citrus Vien Enation Virus), CEV (Citrus Exocortis Viroid)  dan CPs V (Citrus Psorosis Virus), dijamin kemurnian varietasnya, proses produksinya  berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku. Benih jeruk bebas penyakit  tidak berarti tahan  terhadap 5 pathogen sistemik (CVPD, CTV, CVEV, CEV dan CPsV), tetapi setelah ditanam dilapang dapat terinfeksi melalui serangga penular maupun peralatan yang digunakan dalam proses perbenihan.

Varietas jeruk yang banyak digunakan sebagai batang bawah yaitu jenis jeruk JC (Japanche citroen). Sebagai batang bawah (understump), jeruk JC memiliki sifat tahan kekeringan, tidak mudah mati saat dicabut untuk dipindahkan dan cocok (compatible) bila ditempel (okulasi) dengan beberapa macam varietas jeruk serta mampu menghasilkan buah cukup tinggi walaupun kadang rasa asamnya masih terbawa.

Tujuan

 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan benih terhadap pertumbuhan jeruk JC di saat persemaian.

Metodologi

Bahan seed-treatment yang digunakan yaitu mikroorganisme fungi mikoriza (fma), jamur tricoderma, dan bakteri Pseudomonas. jenis bibit jeruk yang digunakan untuk batang bawah yaitu jenis JC (Japanche citroen). Kegiatan ini dilaksanakan di IP2TP Selakau Tahun 2020. mikroorganisme penelitian ini mengunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dengan 10 Ulangan. Tempat tanam dilakukan di dua tempat yaitu di polybag dan di bedengan.

Variabel Pengamatan

Pengamatan yang dilaksanakan dilakukan terhadap: tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, besar lingkaran batang.

Hasil dan Pembahasan

Perbandingan pertumbuhan besar lingkar batang di lokasi tanam

Berdasarkan Gambar 1. pembesaran batang bawah yang di tanam di bedengan lebih cepat jika di bandingkan dengan penanaman di polybag. Hal ini disebabkan karena akar tanaman di bedengan dapat tumbuh bebas tidak terbatas ruang seperti didalam polybag. Akan tetapi pertumbuhan di dalam polybag lebih seragam jika di bandingkan dengan pertumbuhan di bedengan. Hal ini dikarenakan media tanam dalam hal ukuran polybag, jumlah tanah, unsur hara dll. relatif seragam dibandingkan di bedengan yang tidak terkontrol.

Gambar 1. Pertumbuhan besar lingkar batang di lokasi pertanaman

Secara umum berdasarkan hasil pengkajian pengunaan mikrobia tanah dapat meningkatkan pertumbuhan bibit di semaian baik dalam menigkatkan jumlah daun maupun tinggi tanaman, Hasil dari pemberian perlakuan pengaruh mikrobia tanah tanah seperti Mikoriza, Trichoderma dan basiilus  terhadap pertumbuhan tinggi batang dan jumlah daun terlihat seperti pada gambar 5. Terlihat bahwa pemberian  mikoriza tanpa mengunakan seed-treatment dengan fungisida memiliki pertumbuhan tinggi batang tertinggi pada pengamatan 35 Hari setelah semai kemudian di ikuti oleh Tricoderma tanpa perlakuan benih dan selanjutnya basilus dengan perlakuan benih, Sedangkan jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan Tricoderma tanpa perlakuan benih, basilus dengan perlakuan benih dan mikoriza tampa perlakuan benih hal ini menunjukan bahwa perlakuan benih dengan funggisida sangat mempegaruhi kinerja mikrobia tanah dari golonga jamur yaitu mikoriza dan  trichoderma  sedangkan mikrobia tanah dari golongan bakteri yaitu basilus  tidak terlalu berpengaruh terhadap pemberian perlakuan benih.

Kesimpulan

1. Perlakuan Fungi Mikoriza (FMA)

  • Aplikasi mikoriza sebaiknya tidak dacampurkan dengan pemberian perlakuan benih yang berbahan Funggisida
  • Aplikasi Mikoriza sebaiknya dilakukan dengan cara di tabur dan di gaul lansung pada media tanam di banding dibalurkan ke benih di kerenakan benih belum berkecambah sehingga simbiosis akar dengan mikoriza tidak terjadi. Bahkan menghasilkan pertumbuhan dan jumlah tanaman yang lebih sedikit jika dibandingan dengan kontrol yang tampa perlakuan

2. Perlakuan Jamur Tricoderma

  • Aplikasi trichoderma sebaiknya tidak dacampurkan dengan pemberian perlakuan benih yang berbahan Funggisida
  • Aplikasi trichoderma sebaiknya dilakukan dengan cara di tabur dan di gaul lansung pada media tanam di banding dibalurkan ke benih di kerenakan bahan organik yang sudah tersedia pada media merupakan sumber energi utama dari jamur trichoderma

3. Perlakuan Basilus

  • Aplikasi Bakteri Basilus dapat di campur dengan mengunakan perlakuan benih yang berbahan fungisida, hal ini di karenakan keberadaan funggisida saat perlakuan benih tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri.
  • Aplikasi basilus sebaiknya dilkukan dengan cara lansung di siramkan ke media tanam dari pada melakukan perendaman benih dengan basilus.

 

Daftar Pustaka

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2017. Pedoman Teknis Produksi Benih Hortikultura Melalui Mekanisme APBNP TA. 2017.

Balitjestro. 2014. Prospek Berkebun Jeruk JC (Japanche citroen). https://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/prospek-berkebun-jeruk-jc-japanche-citroen/.

Balitjestro. 2015. Penyediaan Benih Jeruk Bebas Penyakit. https://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/penyediaan-benih-jeruk-bebas-penyakit/ [28 Juli 2017]

BPS Provinsi Kalimantan Barat. 2016. Kalimantan Barat Dalam Angka 2015. Pontianak, BPS Provinsi Kalimantan Barat.

Departemen Pertanian. 2006. Arah dan Strategi Sistem Perbenihan Tanaman Nasional. Jakarta ISBN 979-1159-03-3.  53 hal.

Mulyanto, Hadi. 2014. Petunjuk Teknis Okulasi Benih Jeruk. https://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/petunjuk-teknis-okulasi-benih-jeruk/ [28 Des 2020]

Supriyanto A, M.E. Dwiastuti, A.Triwiratno, O.Endarto dan Sutopo, 1999. Pengendalian Penyakit

 

Klik tombol dibawah untuk mengunduh artikel (file pdf)