JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Info Aktual

Temu Lapang dalam rangka Pendampingan Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH) tahun 2014 di Desa Peniti Besar, Kabupaten Mempawah, mengungkap sisi berat perjuangan membangun kawasan hortikultura yang berorientasi bisnis ini.  Bermula dari bantuan sosial-ekonomi dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional kepada Pemerintah Kabupaten Pontianak, sekarang Kabupaten Mempawah, dalam rangka membangun model pemanfaatan lahan gambut terdegradasi untuk pengembangan kawasan hortikultura dengan fokus meminimalkan kebakaran lahan.  Hasilnya pengembangan kawasan hortikultura seluas 20 hektar dengan komoditas utama buah naga.  Pengembangan oleh Kelompoktani Mekar ini  didahului dengan kunjungan Bupati Mempawah dan diikuti pelatihan bagi 10 anggota poktan ke sentra buah naga di Yogyakarta.  Bupati Mempawah, Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., mendukung dengan membangun jalan masuk dari beton tetapi masih kurang 2 km ke lokasi kebun.  Setelah mulai berproduksi buah naga banyak terserang penyakit jamur Fusarium sp.  BPTP Kalimantan Barat mencoba memecahkan masalah serangan penyakit jamur ini dengan mengintroduksikan penggunaan agensia hayati jamur Trichoderma harzianum dan  Mikoriza sp. serta kombinasi perlakuan pupuk dari kotoran sapi dan kotoran ayam.  Dari hasil pengamatan ini diketahui kombinasi perlakuan Trichoderma harzianum dan  Mikoriza sp memberikan hasil terbaik.  Sedangkan penggunaan pupuk yang utama adalah pupuk organik dari bahan kotoran sapi dan kambing.  Para petani mengamati penggunaan pupuk kotoran kambing juga memberikan hasil terbaik.

Tidak percuma penyuluh senior BPTP Kalimantan Barat, Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc.,  yang juga Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perhiptani Provinsi Kalimantan Barat menyisipkan kegiatan Lokakarya Penyuluhan Pertanian pada acara Tanam Perdana SL-PTT Padi tahun 2014 di Desa Seranggam, Selakau Timur, Kabupaten Sambas.  Ketika membuka acara ini Bupati Sambas memberikan tantangan agar penyuluh pertanian mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan melalui kegiatan SL-PTT Padi.   

Pada acara Forum Penyuluhan di Hotel Kapuas Darma, Pontianak, bulan Agustus 2014 lalu, seorang penyuluh pertanian mengeluhkan kesulitannya mengolah data evaluasi penyuluhan pertanian karena yang diukur adalah data perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.  Hal ini berimbas pada lemahnya pengukuran kinerja diseminasi inovasi teknologi pertanian oleh para pertanian di lapangan.  Akibatnya, karya tulis ilmiah para penyuluh pertanian di lapangan juga terkesan kurang ilmiah karena kurangnya analisis menggunakan tool seperti uji statistik non parametrik.  BPTP Kalimantan Barat diwakili oleh penyuluh senior yaitu Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc menawarkan solusi penggunaan computer software IBM-SPSS versi 21 untuk mengatasi masalah tersebut.

Salah satu dari sembilan indikator kinerja Penyuluh Pertanian adalah terdiseminasinya informasi teknologi pertanian kepada pelaku utama.  Hasil kinerja diseminasi tersebut harus tercermin dari perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pelaku utama atau petani.  Hingga saat ini kegiatan diseminasi inovasi teknologi banyak menggunakan metoda Sekolah Lapang (SL). Contohnya pada diseminasi inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi atau SL-PTT Padi.  Belum banyak penyuluh pertanian yang melakukan evaluasi kinerja diseminasi inovasi tersebut dengan mengukur perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani. Oleh karena itu penyuluh senior BPTP Kalimantan Barat yaitu Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc menawarkan bantuan melatih para penyuluh pertanian mengenai Pengolahan Data Sosial-ekonomi Penyuluhan Pertanian menggunakan software IBM-SPSS versi 21 terutama pada penggunaan Statistik Non Parametrik.  Tujuannya, agar laporan penyuluh pertanian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhiptani Kota Singkawang bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perhiptani Provinsi Kalimantan Barat merintis pengembangan poros Peneliti-Penyuluh-Petani.  Pada tahap awal dilakukan kerjasama dalam bentuk Lokakarya Meningkatkan Profesionalisme Penyuluh Pertanian pada 30 Agustus 2014 di BPP Singkawang Selatan.  Dalam lokakarya ini, Wakil Ketua DPW Perhiptani Provinsi Kalimantan Barat, Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc, menggarisbawahi pentingnya membuat benang merah kegiatan penyuluh pertanian mulai dari Identifiksi Potensi Wilayah (IPW), Menuangkan temuan masalah pada IPW untuk bahan menyusun Programa Penyuluhan Pertanian, Menjabarkan isi programa menjadi Rencana Kerja Penyuluh Pertanian, Melaksanakan penyuluhan pertanian mulai dari menyusun Lembar Persiapan Menyuluh, membuat Sinopsis, membuat materi penyuluhan pertanian dan laporan kegiatan penyuluhan, Membuat evaluasi pencapaian tujuan penyuluhan pertanian, Menyusun karya tulis ilmiah, diiringi dengan pengembangan kelembagaan petani.  Penyuluh pertanian yang ada sebagian besar penyuluh pertanian ahli sehingga materi penyuluhan pertanian perlu dibuat dalam media elektronik.