JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Salah satu  kota yang merupakan lokasi Program pendampingan pengembangan kawasan hortikultura di Kalimantan Barat adalah kota Pontianak. Pada umumnya lahan pertanian di kota Pontianak adalah lahan gambut. Komoditas hortikultura yang banyak diusahakan adalah sayuran, papaya,aloe vera dan tanaman rimpang.

Berdasarkan data Dinas Pertanian kota Pontianak, bahwa pengembangan kawasan hortikultura ada 4 kawasan yaitu: 1) Kawasan Darma Putra, 2) Kawasan Purnomo, 3) Kawasan Terminal Agribisnis dan 4) Kawasan Batu Layang. Salah satu kawasan yang mengembangkan komoditas sayuran adalah kawasan Darma Putra. Kawasan Darma Putra dikelola oleh kelompok tani dan kawasan ini lokasinya adalah di Darma Putra Luar, Siantan Hilir. Dalam satu kawasan dikelola oleh satu kelompok tani dan terdiri dari 25 orang petani.

Pengembangan kawasan hortikultura untuk komoditas sayuran telah mengarah ke sayur organik dan diusahakan di lahan gambut. Ada beberapa alasan mengapa budidaya sayuran organic semakin gencar dilakukan. Menurut Supriyanto (2010), saat ini kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat, permintaan akan produk sehat semakin meningkat (permintaan dunia 20% baru dipenuhi 2%) dan pengelolaan budidayanya dapat mengurangi ketergantungan pupuk anorganik dan pestisida yang harganya semakin meningkat.   

Asal mula lahan yang digunakan adalah berupa lahan hutan semak dengan pH > 5. Urut-urutan pengolahan tanah yang dilakukan adalah : penebasan, pengikisan gambut (digajak), pembakaran, pencangkulan , pembuatan bedengan. Penggunaan pupuk kandang 10 ton/ha dan abu 30 ton/ha (campuran pupuk kandang dan abu sebagai pupuk dasar). Sebagai pupuk tambahan digunakan Biomal  dan diaplikasikan 3 hari sekali. Biomal adalah merupakan  campuran buah-buah busuk , rebung dan sisa-sisa sayuran tidak layak jual dan ditambah EM.  Sedangkan jenis sayuran organic yang diusahakan adalah: sayuran daun (bayam, kangkung, gingseng, sawi) dan sayuran buah (tomat, terung, dan cabe).

Salah satu anggota kelompok tani, di kawasan Darma Putra telah menjual hasil kebunnya ke supermarket di kota Pontianak. Harga di tingkat petani untuk jenis sayur organic terung Rp 12.000,-/kg, slada Rp 12.000,-/kg,bayam, kangkung Rp 2.000,- ,sawi Rp 3.000,- dan ginseng Rp 20.000,- /kg.

 

Di dalam pengembangan sayuran organic didaerah kawasan masih ada beberapa hal yang belum dilakukan oleh kelompok tani antara lain penggunaan varietas unggul sesuai permintaan pasar, managemen produksi dan penggunaan biopestisida, managemen pemanfaatan tanaman inang dan pemanfaatan musuh alami. Selain itu dukungan prasarana pendukung seperti bangsal pembuatan pupuk organic, bangsal pembuatan biopestisida/pestisida nabati, kebun produksi bahan pembuatan biopestisida dan bangsal panen dan pengelolaan hasil serta untuk display produk. Untuk teknologi produksi  BPTP akan berperan aktif melakukan pendampingan sedangkan untuk prasarana pendukung diharapkan pihak terkait memberikan dukungannya.

Dalam upaya meningkatkan kapasitas kerja melalui peningkatan pelayanan, baik ke dalam BPTP Kalimantan Barat sendiri, maupun bagi para pengguna (stakeholder dan petani), tanggal 11-12 Mei 2010 telah dilakukan sosialisasi ISO9001:2008 di aula BPTP Kalimantan Barat yang diikuti segenap pegawai BPTP Kalimantan Barat.  Materi yang disampaikan oleh Tim konsultan memberikan  pencerahan dan semangat bekerja bagi peserta sosialisasi.

Pengalaman dari beberapa lembaga yang telah bersertifikat ISO,  adalah diantara lain ;  dokumentasi yang lebih teratur, proses  komunikasi antar Unit menjadi lebih lancar, lebih fokus pada pengguna serta produktifiktas kerja meningkat.  Sementara itu, bagi pengguna, manfaat yang didapatkan adalah  kepuasan pelanggan yang meningkat, berkurangnya keluhan pengguna teknologi.

 “Melalui sosialisasi tersebut ISO tersebut, segenap pegawai BPTP Kalimantan Barat bertekad untuk meningkatkan kinerjanya melalui penerapan ISO 9001:2008”, demikian disampaikan Kepala Balai Arry Supriyanto

 

Tujuan dari program pendampingan kawasan hortikultura BPTP Kalbar, diantaranya adalah membuat demplot perbenihan anggrek. Perbenihan anggrek ini diutamakan adalah kelompok anggrek species Kalimantan Barat yang mempunyai nilai komersial tinggi dan sudah dianggap langka. Ribuan anggrek species yang terbesar habitatnya ada di pulai Kalimantan, yaitu antara 2000 – 3000 species.

Anggrek species mempunyai prospek yang sangat cerah antara lain sebagai sumber daya genetik, sebagai bahan persilangan, daya tarik parawisata, sebagai tanaman obat dan kosmetik (Chaerani, dkk, 2005). Saat ini anggrek-anggrek species tersebut sudah sangat langka. Sebagai penyebabnya adalah kebakaran hutan, illegal logging, penambangan liar dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit yang berakibat terjadinya kepunahan. Petani anggrek di Kota Singkawang untuk mendapatkan anggrek-anggrek tersebut sudah sangat kesulitan, sedangkan permintaan cukup tinggi sebagai contoh untuk jenis Phalaenopsis bellina, Phalaenopsis (anggrek ekor tikus) dan Grammatophyllum (anggrek tebu). Permintaan umumnya adalah para hobbis, petani usaha anggrek dan kolektor Jakarta atau dari Negara tetangga (Malaysia, Brunei, dan Singapura). Selain itu harga tanamannya cukup mahal yaitu sekitar Rp. 50.000,- sampai lebih Rp. 200.000,-. Phalaenopsis bellina selain bunganya harum dapat berbunga sepanjang tahun. Contoh hasil silangan dengan Phalaenopsis bellina yang sudah terdaftar di RHS yaitu Spirit of Borneo dan Ld”s Bear Queen.

 

Demplot perbenihan anggrek species Kalimantan Barat, selain memotivasi kepada pelaku utama untuk memanfaatkan paket teknologi hasil Litbang Pertanian juga menjamin kelestarian anggrek species Kalimantan Barat yang mempunyai nilai ekonomi tinggi antara lain jenis Phalaenopsis sp.. Perbenihannya dilakukan secara kultur jaringan dengan mengkulturkan biji secara aseptif. Saat ini sudah diperoleh plb (protocorm like bodies) maupun hasil sub kultur dari plb. yang akan berkembang menjadi tanaman dalam jumlah lebih banyak.

Pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Pontianak salah satunya adalah komoditi nenas. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Pontianak, tahun 2010 Kabupaten Pontianak mengembangkan nenas seluas 735 ha, pengembangan ini didukung oleh tanah dan agrokilmat yang cocok untuk tanaman nenas. Pengembangan kawasan nenas ada di 3 kecamatan yaitu Sungai Pinyuh, Mempawah Timur, Mempawah Hilir. Desa Galang kecamatan Sungai Pinyuh merupakan salah satu sentra produksi Nenas. Luas areal di desa tersebut sekitar 301 ha dan diusahakan oleh 200 petani. Varietas yang dominan ditanam adalah Queen. Dalam 1 ha jumlah populasi tanaman sekitar 20.000 sampai 30.000 tanaman dengan produksi sekitar 4,5 ton.

Teknologi budidaya yang paling utama dilakukan petani adalah pengaturan pembungaan, sehingga dapat memprediksi waktu panen buah. Bahan yang digunakan untuk mengatur pembungaan adalah karbit dosis 3 – 4 ons yang dilarutkan pada bagian pucuk tunas.

Pemasaran buah selain untuk Kabupaten dan Kota Pontianak, gapoktan petani nenas membuka kios-kios sepanjang jalan Trans Kalimantan Desa Galang. Jalan ini termasuk strategis sekali, karena merupakan jalan yang dilalui kendaraan yang menuju Kuching – Malaysia dan Brunei Darussalam. Buah di grading menjadi 3 yaitu Grade A : berat 1,1 – 2 kg harga Rp. 3.000, Grade B : berat 0,7 – 1 kg harga Rp. 1.500 dan Grade C berat < 6 ons harga Rp. 700. Permintaan buah nenas paling tinggi adalah waktu bulan Puasa, Natal dan Imlek. Pada saat-saat tersebut harga nenas dapat mencapai rata-rata Rp. 7.000 perbuah untuk grade A.

Gapoktan nenas Desa Galang selain memasarkan dalam bentuk segar, saat ini sudah mengarah dalam bentuk olahan. Olahan nenas yang telah dicoba adalah sirup nenas, selai nenas dan dodol nenas. Pemanfaatan daun nenas diambil seratnya untuk keperluan industri dan limbah daun digunakan sebagai kompos.

 

Program utama Litbang Pertanian 2010-2014 adalah mendukung kegiatan strategis Kementerian Pertanian, 80-85% anggaran untuk mendukung kegiatan strategis deptan (SL-PTT Padi dan Jagung, P2SDS, Kawasan Horti, GERNAS KAKAO), Badan Litbang Pertanian akan mendampingi minimum 60% dari  lokasi  SLPTT  yang  dilaksanakan  oleh  Provinsi  Kalimantan  Barat.

 

 

Sasaran   SL-PTT  Kalbar

 

Terkoordinasi  dan  terpadunya  pelaksanaan peningkatan  produksi  melalui  kegiatan  SL-PTT padi  dan jagung

Teradopsinya  berbagai  alternatif pilihan  komponen  teknologi  PTT padi  dan jagung

Meningkatnya  produktivitas  padi  non hibrida 0,5-1,0  ton/ha,  padi  hibrida  1,5-2,5 ton/ha dan  jagung  hibrida  sekitar  2,0-3,0  ton/ha.

 

Lokasi  Pendampingan SL-PTT  Padi  Dan  Jagung Di Kalbar Tahun 2010 (60% = 2.802 UNIT)

 

Kabupaten Bengkayang

Padi Non Hibrida      : 7,250 (ha)

Padi Hibrida             : 200 (ha)

Padi Lahan Kering     : 375 (ha)

Jagung  Hibrida        : 1,455 (ha)

 

 

Kabupaten Sambas

 

Padi Non Hibrida      : 25,000 (ha)

Padi Hibrida             : 200 (ha)

Padi Lahan Kering     : -

Jagung  Hibrida        : -

 

 

Kabupaten Landak

 

Padi Non Hibrida       : 10,000 (ha)

Padi Hibrida             : 200 (ha)

Padi Lahan Kering     : 375 (ha)

Jagung  Hibrida        : 555 (ha)

 

 

Kabupaten Pontianak  

Padi Non Hibrida       : 4,200 (ha)

Padi Hibrida             : 200 (ha)

Padi Lahan Kering     : -  

Jagung  Hibrida        : 225 (ha)

 

 

Kabupaten Kubu Raya 

Padi Non Hibrida       : 10,000 (ha)

Padi Hibrida 500       : (ha)

Padi Lahan Kering     : -

Jagung  Hibrida        : 840 (ha)

 

Kabupaten Sanggau

Padi Non Hibrida      : 3,750 (ha)

Padi Hibrida             : -

Padi Lahan Kering     : 375 (ha)

Jagung  Hibrida        : 195 (ha)

 

 KECAMATAN  FOKUS   KABUPATEN  PRIORITAS  I

Kabupaten  Sambas       : Kecamatan Selakau, Tebas, dan Sebawi

Kabupaten  Bengkayang : Kecamatan  Monterado,  Teriak, dan Lumar

Kabupaten  Kubu  Raya  : Kecamatan Sungai  Raya, Sungai  Kakap  dan Ambawang

Kabupaten  Landak        : Kecamatan Sompak, Menjalin, Mempawah Hulu

  

KECAMATAN  FOKUS   KABUPATEN  PRIORITAS  II  

Kabupaten  Pontianak     : Kecamatan  Siantan

Kabupaten  Sanggau      : Kecamatan  Balai

 

 Pengawalan  dan  pendampingan  oleh Pengkaji  BPTP  Kalbar :  

Kegiatan  yang  dilakukan  pengkaji BPTP  Kalbar didukung oleh  UK/UPT Lingkup  Badan  Litbang Pertanian guna  meningkatkan  pemahaman dan  akselerasi  dan adopsi  PTT  dengan  menjadi  nara  sumber pada pelatihan, penyebaran  informasi,  melakukan  uji adaptasi VUB,  demoplot  dan supervisi  penerapan  teknologi.

  

Peran  BPTP  Kalbar 

  • Mendukung  pelaksanaan  SL-PTT  padi  dan  jagung  di  Kalimantan  Barat melalui pendamping/pengawalan  teknologi
  • Mendorong  pencapaian  tujuan  dan sasaran  peningkatan  produktivitas  padi  dan  jagung di  Kalimantan  Barat sebesar 10 – 15 %.

 

 Bentuk  Pendampingan BPTP Kalbar 

  • Uji Adaptasi VUB 4-5  Varietas di luar LL.

  • Demonstrasi Plot ; Dilakukan pada lahan seluas 0,25 ha di luar  SL-PTT pada : 1-2  Unit/Kecamatan fokus
  • Penentuan  Pupuk  Berimbang ; Penentuan dosis pemupukan berimbang dengan PUTS/PUTK dan BWD
  • Penyediaan Informasi berupa brosur,  leaflet, poster dan VCD mendukung SL-PTT Padi dan Jagung
  • Pelatihan Berpartisipasi dalam pelatihan PL-III sebagai narasumber
  • Narasumber Menghadirkan Peneliti/Penyuluh (BPTP, BALIT, PUSLIT, LOLIT) sebagai narasumber pada waktu pertemuan petani

 

Kemajuan  Pelaksanaan SL-PTT

  • Bersinergi  dengan  kabupaten  prioritas dalam  perencanaan  dan  pelaksanaan  SL-PTT
  • Benih  VUB  padi telah  tiba  di Pontianak  tanggal  14  April  2010  dan  sebagian  besar  telah didistribusikan  ke beberapa  unit pelaksanaan  SL-PTT.
  • Benih  VUB  jagung  direncanakan  baru  tiba  akhir  bulan  April  2010