JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Info Aktual

Seluruh staf BPTP Kalimantan Barat mengikuti Sosialisasi Penilian Resiko pada 1 Nopember 2010 di Aula BPTP Kalbar. Latar belakang pembentukan Satlak SPI (Sistem Pengendalian Intern) berdasarkan PP.60 Tahun 2008 Tentang Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Permentan RI Nomor : 23/Permentan/OT.140/5/2009 Tentang Pedoman Sistem Pengendalian Intern (SPI) di Lingkungan Departemen Pertanian.

SPI memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan/sasaran dari organisasi akan tercapai secara efektif, efisien, ekonomis, dan sesuai dengan ketentuan. SPI diharapkan dapat mengidentifikasi terjadinya deviasi atau penyimpangan atas pelaksanan kegiatan dibandingkan dengan perencanaan sebagai umpan balik untuk melakukan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi

Melalui kegiatan pengkajian Uji Multilokasi Bawang merah, BPTP Kalbar mendapatkan 3 (tiga) galur/varietas Bawang merah yang sesuai untuk dikembangkan di Kalimantan Barat. Kegiatan yang dikomandoi oleh Ir. Titiek Purbiati ini, mendatangkan benih Bawang merah dari BPTP Jawa Timur, yang terdiri dari 5 varietas dan 1 galur. Yaitu, Bauji, Super Philip, Moujung, Bali Karet, Sumenep (galur) dan Thailand.

Kegiatan uji multilokasi ini dilaksanakan selama bulan Juni sampai September 2010. Waktu dimana musim hujan berkepanjangan melanda hampir seluruh wilayah di tanah air, termasuk di Kalimantan Barat. Lokasi pengkajian (penanaman bawang merah) yang dipilih adalah Kab. Kubu Raya yang memiliki agroekosistem dataran rendah lahan Gambut dan Kab. Bengkayang yang memiliki agroekosistem dataran rendah lahan Kering.

Tujuan dari kegiatan Uji multilokasi Bawang merah ini adalah untuk memperoleh 2-3 galur/varietas Bawang merah yang toleran hama penyakit dan adaptif untuk dikembangkan di Kalbar. Selama ini kabutuhan Bawang merah di Kalbar dipasok dari pulau Jawa. Disisi lain, Kalbar sendiri memiliki luas lahan dan permintaan pasar yang potensial untuk pengembangan Bawang merah.

Hasil pengkajian di Kab. Kubu Raya menunjukkan, galur/varietas Moujung, Bali Karet dan Sumenep cocok untuk dikembangkan di ekosistem lahan Gambut, karena memiliki potensi hasil tertinggi (41 – 50 Ton produksi basah/Ha). Sedangkan galur/varietas Moujung dan Sumenep diketahui paling toleran terhadap serangan penyakit Layu fusarium dan Alternaria, di agroekosistem yang sama.

Di Kab. Bengkayang agroekosistem lahan Kering, galur/varietas Moujung dan Sumenep memiliki potensi hasil tertinggi (6 – 8 Ton produksi basah/Ha), sekaligus diketahui sebagai yang paling toleran terhadap serangan penyakit Layu fusarium dan Alternaria. Perbedaan potensi hasil yang mencolok diantara kedua lokasi, selain disebabkan adanya faktor perbedaan lingkungan tumbuh, disebabkan pula oleh adanya perbedaan perlakuan pestisida. Dimana, serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) di lokasi pengkajian Kab. Bengkayang cenderung tidak dikendalikan / tanaman minim perlakuan pestisida.

Hasil pengkajian ini diharapkan dapat mendorong pengembangan budidaya Bawang merah di Kalimantan Barat. Sebab Bawang merah termasuk komoditi yang bernilai ekonomis tinggi, jika dibudidayakan dengan tepat dapat mendatangkan keuntungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat petani.

 

Selain melestarikan Hablum Minallah, Idul Fitri ini juga berfungsi sebagai sarana Hablum Minannas, sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka hendaklah saling maaf-memaafkan secara lahir dan batin, atas segala perbuatan yang telah lalu. Pada saat Idul Fitri dianjurkan untuk saling mengunjungi, mengucap salam, saling memaafkan dan mengasihi. Untuk itu jadikanlah momen Idul Fitri sebagai sarana menjalin silaturrahmi kembali dan saling memaafkan sesama umat.

Dalam rangka menjalin dan mempererat tali silaturrahmi. Menjalin tali silaturrahmi antara staf dengan pemimpinnya sudah menjadi tradisi, khususnya di Hari Raya Idul Fitri ini. Demikian juga di lingkup BPTP Kalimantan Barat dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Open house dimulai dari kediaman Bapak Ir. Arry Supriyanto, MS pada hari Kamis tanggal 16 September 2010, di kediaman Bapak Ir. Sigit Sapto Wibowo, M.Sc sehari sesudahnya. Kemudian dilanjutkan  di rumah Bapak Kosod pada hari Rabu tanggal 22 September 2010 dan di kediaman Ibu Mariati dua hari sesudahnya. Open house di hadiri oleh staf BPTP Kalimantan Barat, baik yang muslim maupun non muslim. Ini menandakan kerukunan dan silaturahmi terjalin dengan baik.

Open house yang digelar setiap Hari Raya Idul Fitri ini merupakan sarana untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus silaturrahmi dan saling memaafkan.

 

Reaksi banjir buah impor yang pernah menyentak keterlenaan kita selama ini, kini makin mereda seiring dengan makin tidak berdayanya buah nasional menghadapi gempuran buah mancanegara yang menjadikan Indonesia sebagai pasar potensialnya.  Impor buah Indonesia yang terus meningkat,  pada tahun 2008 telah mencapai 4 triliun rupiah dan sekitar  25% adalah untuk impor buah jeruk. Mulai dari pasar swalayan hingga ke pedagang kaki lima di tepi trotoar jalan strategis, buah impor semakin mudah diperoleh.  Berbagai upaya telah dilakukan guna meningkatkan pengembangan agribisnis jeruk keprok Indonesia yang diharapkan bisa dipertarungkan dengan jeruk  impor yang sebenarnya telah menjalani penyimpanan lama. Walaupun demikian upaya percepatan masih harus dilakukan paling tidak guna menghambat laju impor buah jeruk terutama dari China yang semakin sulit untuk dibendung.

Harus diakui, bahwa agribisnis jeruk di Indonesia belum sepenuhnya didukung oleh inovasi teknologi jeruk,  akibatnya  mutu buah yang dihasilkan petani tidak bagus  dengan daya saing rendah. Sistem pemasaran yang berlangsung sekarang  juga belum berpihak kepada petani karena  kelembagaan petani yang masih sangat lemah. Pada dasarnya petani cenderung menyukai  menanam jeruk yang buahnya sangat disukai oleh konsumen, yaitu yang kulit buahnya berwarna kuning-orange yang dapat diperoleh jika diusahakan di dataran tinggi,  sedangkan varietas jeruk keprok dataran rendah biasanya  berwarna hijau kekuningan seperti yang dimiliki jeruk Siam yang kini sudah  mencapai 85% dari total pertanaman jeruk yang ada di Indonesia. Dari berbagai acara festival jeruk nasional,  jenis jeruk keprok Indonesia, seperti keprok Batu 55, Garut, SoE, Berasitepu, Sioumpu dan lainnya berpotensi dan berkemampuan bersaing dengan jeruk impor.

Dukungan inovasi teknologi  terhadap pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia perlu terus ditingkatkan melalui akeselerasi diseminasi dan alih teknologi anjuran kepada semua pelaku agribisnis jeruk.  Inovasi teknologi jeruk yang mudah diadopsi petani adalah yang memiliki kriteria  spesifik lokasi, efektif, mudah diaplikasikan, murah, dan sarana pendukung mudah diperoleh. Teknologi yang dibutuhkan masyarakat perjerukkan di Indonesia adalah (1). Ketersediaan benih berlabel pada saat tanam, (2). Teknologi pengendalian hama penyakit dan pemupukan  pada pohon jeruk yang berbuah secara berjenjang, yaitu dalam satu pohon dijumpai 3-5 stadia perkembangan buah, (3). Teknologi agar warna kulit buah cerah dan merata (4). Sistem pemasaran yang berpihak kepada petani,  dan (5).  Penguatan kelembagaan petani yang mampu mengakses inovasi teknologi,  modal, dan informasi pasar.  Mari kita perbaiki sentra produksi jeruk yang ada,  kita tingkatkan pengelolaan pasca panennya,  lakukan promosi kekuatan kita,  Insya Allah buah jeruk kita akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan sebagai tamu terhormat di negara lain.

Dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1431 H, staf BPTP Kalimantan Barat beserta  Dharma Wanita mengadakan ceramah agama (siraman rohani), di aula BPTP Kalbar tanggal 6 Agustus 2010). Kegiatan ini rutin dilaksanakan menjelang bulan puasa dan berlanjut pada tiap jum'at selama bulan Ramadhan guna meningkatkan Iman dan Taqwa staf yang beragama Islam.

Tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Ustadz H. Arif Sopyan, M.Ag mengatakan “Pada dasarnya bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan maghfirah (ampunan) sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari menyatakan bahwa pada bulan ini Allah SWT akan membuka setiap pintu surga dan akan mem-belenggu syaithan. Maka dengan terbukanya pintu surga dan dibelenggunya syaithon dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan umat muslim. Selain itu ramadhan pun merupakan satu bulan yang Allah SWT telah mewajibkan puasa terhadap orang yang beriman. QS. Al-Baqarah 183.”

Nilai Formal yaitu yang berlaku dalam perspektif ini puasa hanya tinjau dari segi menahan lapar, haus dan birahi. Maka menurut nilai ini, seseorang telah dikatakan berpuasa apabila dia tidak makan, minum dan melakukan hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan warning terhadap umat muslim melalui sebuah haditnya yang berbunyi :
"Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja". H.R. bukhari, lanjutnya.