JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Info Aktual

Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) adalah salah satu program strategis Badan Litbang Pertanian yang dilakukan di seluruh BPTP di Indonesia. Desa Semangau merupakan salah satu dari dua lokasi M-P3MI di Kalimantan Barat yang pada awal April kemarin dilakukan kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Baseline Survey sebagai langkah awal kegiatan M-P3MI.

Kepala BPTP Kalimantan Barat dan Pengelola BPP Sambas menghadiri hari pertama dimulainya kegiatan PRA sekaligus membuka kegiatan PRA di Desa Semangau. Pada kesempatan tersebut, Kepala BPTP Kalbar mensosialisasikan apa itu kegiatan M-P3MI dan tahapan pelaksanaan M-P3MI kepada para petani di lokasi M-P3MI Desa Semangau, Sambas. Selanjutnya, dimulailah kegiatan PRA yang melibatkan representasi kelompok masyarakat di Desa Semangau, diantaranya para petani, pedagang input/output, aparat desa, tokoh masyarakat dan perwakilan lembaga pendukung agribisnis.

Layaknya sebuah kegiatan pengkajian di BPTP, PRA dilakukan pada tahap awal kegiatan pengkajian. PRA merupakan teknik pengumpulan informasi dan pengenalan kebutuhan masyarakat yang melibatkan secara langsung dan secara aktif partisipasi masyarakat, tim multi disiplin PRA BPTP Kalbar dalam hal ini hanya berperan sebagai fasilitator dan merumuskan informasi yang disampaikan masyarakat Desa Semangau. Beberapa prinsip dasar dalam pelaksanaan PRA adalah melibatkan representasi kelompok masyarakat desa dalam pengenalan potensi sumber daya setempat dan pemahaman permasalahan yang dihadapi, masyarakat setempat merupakan pelaku utama dalam pengenalan situasi dan memilih jenis inovasi yang dikembangkan, menerapkan prinsip triangulasi yang merupakan bentuk cross check dan recheck informasi untuk mendapatkan informasi yang akurat, berorientasi praktis dan mengoptimalkan hasil dalam menggali informasi, santai dan informal, serta menerapkan prinsip demokratis dalam pengertian setiap anggota masyarakat mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan pendapat dan ide-idenya.

Pelaksanaan PRA di Desa Semangau meliputi inventarisasi, prioritas, analisis sumber masalah dan peluang pengembangan inovasi/agribisnis, diagram kelembagaan, pola curah hujan, kalender musim, pola tanam, kalender aktivitas harian petani, sejarah desa dan kecenderungan keberhasilan atau kegagalan program di Desa Semangau, pemetaan lokasi, pembuatan diagram transek Desa Semangau, klarifikasi masalah dan peluang inovasi pertanian.

Sedangkan baseline survey dimaksudkan agar diperoleh informasi awal (menentukan benchmark) sebelum dilakukan kegiatan M-P3MI (pra M-P3MI) untuk kemudian dibandingkan dengan keadaan dimana M-P3MI telah establish (pasca M-P3MI). Baseline survey dilakukan dengan mewawancarai sekitar 30 orang petani di Desa Semangau dan 10 orang petani di luar lokasi M-P3MI (Desa Sei Rambah).

Dari hasil PRA, diketahui bahwa permasalahan utama di Desa Semangau adalah kekurangan modal, serangan OPT, yaitu hama (tikus, burung, orong-orong, penggerek batang dan daun) dan penyakit (blast daun dan leher malai), kemurnian benih (benih sudah tidak murni lagi), tanah bereaksi masam (keracunan besi (Fe)), kesulitan air pada MT Gadu dan pengairan sulit diatur/ditata, dan kekurangan thresher pada saat panen. Dari permasalahan tersebut, BPTP Kalimantan Barat merumuskan beberapa peluang inovasi pertanian, terutama dari segi teknologi dan kelembagaan.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa petani (yang sebagian besar wanita) di Desa Seamangau sangat antusias terlibat dalam kegiatan M-P3MI ini, didukung pula oleh kesiapan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas untuk menyediakan beberapa alat dan mesin pertanian, diantaranya thresher, dryer, dan Rice Milling Unit (RMU). Untuk menandai dimulainya kegiatan M-P3MI pada MT Gadu 2011 di Kabupaten Sambas ini, diserahkan 20 kg VUB Inpara 1 kepada kelompok tani di Desa Semangau.

 

 

Sejak dicanangkan pada tahun 2009 baru pada tahun 2011 ini BPTP Kalimantan Barat terlibat langsung dalam program Gernas Kakao yang bertujuan untuk memperbaiki tingkat produktivitas dan mutu hasil kakao secara nasional. Seperti diketahui pada intinya ada tigal hal yang harus dilakukan pada pelaksanaan program ini yaitu : 1) Peremajaan tanaman yang telah tua yang dilakukan pada pertanaman yang telah berumur > 25 tahun, 2) Rehabilitas tanaman yang dilakukan pada pertanaman yang berumur 20 – 15 tahun dengan menggunakan teknologi sambung samping dan 3) Program intensifikasi tanaman yang dilakukan pada pertanaman yang berumur 15 – 20 tahun. Terkait dengan hal ini BPTP Kalimantan Barat melalui kegiatan “Pendampingan Gernas Kakao pada >60 % Lokasi untuk Peningkatan Produktivitas >15 %, “ telah mengerahkan tim Penelitinya untuk terjun langsung ke lapangan dalam rangka mendukung keberhasilan program ini.

Program Gernas Kakao di provinsi Kalimantan Barat telah dimulai pada tahun 2010 dan tersebar dibeberapa kabupaten antara lain di Kabupaten Sanggau, Bengkayang dan kota Singkawang. Rencananya program pendampingan ini akan berlangsung secara multiyears sampai akhir tahun anggaran 2014.  Pada tahun ini program pendampingan akan difokuskan di kabupaten Sanggau pada  kawasan >60 lokasi Gernas Kakao yang ada di kabupaten Sanggau sesuai dengan SK Bupati Sanggau nomor 327/2010 tentang penetapan Kelompok Tani Penerima Bantuan Kegiatan Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional di kabupaten Sanggau.

Bentuk pendampingan yang dilakukan di kabupaten Sanggau oleh Tim Pendamping dari BPTP Kalbar antara lain adalah : a) Pembuatan demplot kebun intensifikasi, rehabilitasi dan kebun peremajaan masing-masing dalam skala luasan 0,5 Ha, b) sebagai nara sumber, c) Mengadakan pelatihan-pelatihan, d) Penentuan dosis pupuk berimbang berdasarkan analisis tanah dan e) Penyebaran infromasi dalam bentuk brosur dan leaflet. Saat ini yang telah dilakukan adalah pembuatan demplot peremajaan tanaman dan kebun rehabilitasi dengan menggunakan teknologi sambung samping. Untuk demplot kebun intensifikasi yang lokasinya terletak di desa Bungkang hanya akan diberikan panduan teknis tentang pemupukan berimbang yang harus dilakukan melalui penyebaran leaflet yang dibagikan kepada anggota kelompok tani peserta Gernas Kakao.

Pada pembuatan demplot peremajaan tanaman yang dilakukan di dusun Ruis desa Pengadang kecamatan Sekayam telah dilakukan penanaman dengan menggunakan bibit Somatic emrbyogenesis (SE). Bibit yang merupakan hasil kultur jaringan ini menurut para petani diterima melalui Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar yang dikirim dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) Jember. Pada saat didatangkan ukuran bibit baru sekitar 10 cm tingginya yang kemudian diaklimatisasikan lagi di kebun pesemaian sampai berumur 5-6 bulan dan telah siap ditanam di lapangan. Meskipun telah cukup besar namun pada saat ditanam dilapangan tetap diberikan pelindung sementara yaitu dengan menggunakan daun kelapa sebagai atap naungannya.

Pada pembuatan demplot rehabilitasi tanaman yang menggunakan teknologi sambung samping, telah ditetapkan lokasinya di desa Sotok, kecamatan Sekayam, kabupaten Sanggau. Di sini telah tersedia pertanaman kakao hasil sambung samping pada kawasan 100 ha yang diikuti oleh 6 kelompok tani yang terdiri dari kelompok tani Mudip Bauh 1 (MB-1), MB-2, MB-3 dan kelompok tani Sotok Hulu. Untuk keperluan demplot telah ditetapkan salah satu areal pertanaman yang telah dilakukan sambung samping dengan tingkat keberhasilannya sekitar 70 %. Pertumbuhan tanaman hasil sambung samping ternyata cukup baik, sejak dilakukan penyambungan pada bulan Nopember 2010 sampai saat ini pertumbuhannya cukup pesat dimana panjang batang pokok hasil sambung samping ada yang mencapai panjang satu meter dan rata-rata telah bercabang dua. Tim Pendamping Gernas Kakao dari BPTP KALBAR sampai saat ini telah melakukan dua kali pertemuan dengan kelompok tani peserta Gernas Kakao baik di dusun Ruis maupun di desa Sotok. Dalam kedua pertemuan tersebut telah disosialisasikan peran BPTP Kalbar dalam program pendampingan Gernas Kakao.

 

Saat ini beberapa kabupaten di Pulau Jawa dan Bali sedang disibukan oleh adanya fenomena ledakan ulat bulu. Hama yang sebelumnya ditemukan mewabah di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur ini disinyalir telah meluas ke daerah-daerah lain di sekitarnya, diantaranya di Kabupaten Pasuruan, Jombang, Mojokerto, Bojonegoro dan Banyuwangi. Di Jawa Tengah, serangan ulat bulu setidaknya ditemukan di Kabupaten  Semarang, Demak dan Kendal. Di Jawa Barat, serangan ditemukan di Sumedang dan Bekasi. Yang terbaru, di Bali ulat bulu mulai menyerang tiga kecamatan di Kabupaten Buleleng.

Beberapa ahli hama menduga serangan ulat bulu ini ada kaitannya dengan perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini. Perubahan iklim yang dimaksud salah satunya adalah Temperatur lingkungan, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu, demikian yang dikemukakan pakar hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Suputa. "Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain," katanya dalam diskusi Fenomena Wabah Hama Ulat Bulu di Jawa Timur, di Yogyakarta, Kamis.

Sementara itu, pakar Ilmu Hama dari Universitas Jember, Ir. Sigit Prastowo, MP mengatakan, musim hujan yang berkepanjangan kemungkinan turut memberi andil dalam memberikan kondisi kelembaban yang sesuai bagi perkembangan hama dan menyebabkan terjadinya ledakan populasi ulat bulu.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Ahli Hama Tumbuhan sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UNRAM, Prof. Ir. H.M. Sarjan , M.Agr.CP., Ph.D. Menurutnya, aspek lingkungan abiotik berupa perubahan iklim global yang sulit diprediksi seperti terjadinya hujan terus menerus selama dua tahun terakhir ini akan menyebabkan meningkatnya kelembaban lingkungan. Apalagi setelah hujan terus menerus diselingi oleh kondisi panas beberapa hari, hal ini akan sangat disukai oleh berbagai serangga hama termasuk ulat bulu dan beberapa hama ordo Lepidoptera (ulat-ulatan) lainnya.

Perubahan iklim global juga mempengaruhi lingkungan biotik yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan hama menjadi tidak terkendali, seperti yang disampaikan oleh Kepala Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Dr. Ir. Totok Himawan. Dia menjelaskan, ulat bulu cepat berkembang biak sejalan dengan cuaca buruk yang terus terjadi. Para predator yang selama ini menjadi musuhnya, tidak mampu bertahan hidup dengan kondisi cuaca seperti itu. "Ada namanya braconid dan apanteles, jenis predator yang biasa memangsa ulat bulu" terangnya. Maka dengan sendirinya, kata dia, populasi ulat bulu menjadi tak terbendung.

Kasus ledakan populasi ulat bulu di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali ini merupakan pelajaran berharga bagi daerah lain termasuk Kalimantan Barat agar mewaspadai terjadinya eksplosi hama. Karena cepat atau lambat masalah ledakan hama sebagai dampak perubahan iklim secara global akan dapat terjadi dimana saja, kalau tidak diantisipasi lebih awal. Akan tetapi sampai saat ini belum ada penelitian dan kajian secara komprehensif tentang hubungan langsung antara perubahan iklim dengan munculnya ledakan hama penyakit di lapangan.  Namun, tanda-tanda di lapangan menunjukkan kaitan kuat antara masalah hama dan penyakit dengan perubahan iklim yang terjadi. BPTP Kalimantan Barat sebagai salah satu perpanjangan tangan Kementerian Pertanian di daerah, diharapkan lebih berperan aktif dalam melakukan advokasi, pelatihan dan pengkajian untuk menjawab tantangan perubahan iklim global tersebut.

 

 

 

Pada hari Jum’at tanggal 01 April 2011 di Selakau,   Kepala BPTP Kalimantan Barat Ir. Jiyanto, MM.  melakukan  serah terima jabatan Penanggung Jawab Kebun Percobaan Selakau dari pejabat lama Sdr. Dadan Permana, A.Md kepada pejabat yang baru Sdr. Yuni Murdi Harti. Sertijab tersebut merupakan tindak lanjut penetapan pejabat Penanggung Jawab Kebun Percobaan sesuai Surat Keputusan Kepala BPTP Kalimantan Barat nomor : 27/OT.210/I.10.15/03/2011 tanggal 25 Maret 2011 tentang Penugasan Penanggung Jawab Kebun Percobaan Selakau BPTP Kalimantan Barat.

Dalam sambutannya, Kepala BPTP Kalimantan Barat menyampaikan bahwa pada prinsipnya alih tugas (tour of duty ataupun tour of area)  merupakan suatu proses manajemen yang wajar dilakukan, hal ini untuk kemajuan unit kerja yang bersangkutan, dalam pengertian untuk meningkatkan kinerja, tentunya dalam memberikan kontribusi untuk mendukung kemajuan institusi BPTP Kalimantan Barat.

 

Kepala Balai mengharapkan  pejabat yang baru agar segera bekerja untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pejabat sebelumnya, mendorong perkembangan pikiran-pikiran dan kreativitas baru serta mempromosikan hasil penelitian/pengkajian untuk meningkatkan prestasi unit kerjanya sesuai dengan visi BPTP Kalbar yaitu untuk menjadikan suatu institusi penelitian dan pengembangan di Kalimantan Barat yang mampu memainkan peranan dalam penyediaan teknologi spesifik lokasi untuk mendukung percepatan pengembangan agribisnis di Kalimantan Barat ini.  Sedangkan kepada pejabat yang lama, ”Saya mengharapkan agar lebih berkarya dalam jabatannya sebagai Penanggung jawab Kebun Percobaan Simpang Monterado”, imbuhnya.  

 

Lebih lanjut Kepala Balai menaruh harapan besar kepada  Penanggung Jawab Kebun Percobaan Selakau yang baru agar :

·           Lebih inten dan giat bekerja, karena peran promosi unit kerja BPTP salah satunya berada tanggung jawab di pundak Saudara, tentunya dengan didukung oleh unit kerja yang lain.

·           Menjaga kehangatan dan kebersamaan baik dengan unit kerja lain maupun dengan institusi lain atau pihak luar, sehinga dapat memberikan kinerja yang optimal, lakukan dynamic group untuk meningkatkan jiwa korsa dalam rangka membina lingkungan timbal balik dengan lingkungan sekitar.

 

·           Tingkatkan pelayanan yang prima kepada masyarakat, karena unit kerja ini yang lebih inten langsung berhubungan dengan masyarakat pengguna teknologi dalam rangka peningkatan hubungan timbal balik dan pengabdian kepada masyarakat (civil mission).

 

Turut serta menyaksikan acara serah terima jabatan ini Kepala Badan/Dinas/Kantor Lingkup Pertanian Kab.Sambas, Kab.Bengkayang dan Kota Singkawang serta Muspika Kecamatan Selakau, karyawan/karyawati  lingkup BPTP Kalbar dan tamu undangan lain

Mengingat, Penduduk miskin di Kalimantan Barat tahun 2010 berdasarkan data Statistik ada: 428.800  jiwa (9,02 % ) dengan katagori  penduduk Kota 84.400 jiwa (6,31%) dan  penduduk Desa   345.300 jiwa (10,06 %).   Garis kemiskinan dalam   Rp. Standart Regional berdasarkan data statistic 2010  katagori Kota+Desa Rp. 189.407,-   untuk Kota Rp. 207.884,-   dan  Desa Rp. 182.293,-   Berdasarkan hal tersebut di atas perlu adanya program bantuan penanggulangan kemiskinan.

Tujuan Program PUAP adalah mulia; (1) untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah, (2) meningkatkan kemampuan pelaku agribisnis, pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Penyuluh Pendamping, dan Penyelia Mitra Tani, (3) memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha agribisnis, dan (4) meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan dalam rangka akses permodalan.

 

Berdasarkan data, pelaksanaan program PUAP di Kalimantan Barat, Gapoktan yang telah menerima dana BLM – PUAP berjumlah 631 Gapoktan terdiri tahun 2008 = 231 Gapoktan, Tahun 2009 = 210 Gapoktan dan Tahun 2010 = 190 Gapoktan yang tersebar di 14 Kabupaten /Kota, Untuk tahun 2011 menunggu proses penetapan Gapoktan/ Desa calon penerima Dana BLM-PUAP.  Anjuran kami, dana bantuan tersebut untuk digunakan sebaik-baiknya sebagai modal usahatani sesuai Rencana Usaha Bersama (RUB). Jika telah berhasil dana tersebut dikembalikan ke Gapoktan lagi untuk di gulirkan pada kelompoktani dalam Gapoktan yang belum mendapatkannya dan begitu seterusnya sampai semua kelompoktani. Harapan kami, modal Gapoktan semakin berkembang dan mengutamakan pelayanannya kepada para anggota Kelompoktani. Adanya Pelaksanaan Program PUAP,  petani dan keluarganya terbantu kebutuhan usaha taninya hingga kebutuhan semakin tercukupi dan tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat diperkecil. Menurut Bapak & Ibu Petani Apakah PUAP masih diperlukan mohon tanggapan Para Pengurus Gapoktan dan Anggotanya.