JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Info Aktual

Pada tahun 2011 Badan Litbang Pertanian melaksanakan Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Karya Inovasi bagi siswa-siswi SMA sederajat. Setelah dilakukan sosialisasi pada bulan April yang lalu mengenai lomba tersebut ke sekolah-sekolah di Provinsi Kalimantan Barat, terdapat lima judul tulisan kategori Karya Tulis Ilmiah dan satu judul tulisan kategori Karya Inovasi yang diterima oleh panitia lomba.

Kegiatan pelatihan pengenalan dan pengendalian OPT dilaksanakan di Desa Andeng Kecamatan Sengah Temila (28/7), bertempat di lahan milik Bpk. Alisius. Berdasarkan hasil orientasi yang telah dilakukan, materi yang diberikan diarahkan pada OPT utama yang banyak menyerang di daerah tersebut pada musim pertanaman berikutnya. Antara lain; penggerek batang padi, walang sangit, tikus, keong mas, burung dan Hawar daun bakteri (Xanthomonas).

Tingkat produktivitas yang masih rendah, penerapan teknologi oleh petani yang masih kurang dan pendampingan dari PPL yang belum maksimal menyebabkan pengembangan bidang pertanian di kabupaten Landak sedikit terhambat, sehingga diperlukan bimbingan yang intens terhadap para pekerja di bidang pertanian, yang salah satunya adalah pelatihan. PL-III merupakan salah satu pelatihan dalam rangka pelaksanaan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi dan jagung di kabupaten Landak.

Kegiatan PL-III ini diselenggarakan pada tanggal 28-29 Juli 2011 di Aula Kantor Bupati Kabupaten Landak. Peserta pelatihan berjumlah 70 orang yang terdiri dari Penyuluh Pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Pengawas Benih Tanaman (PBT) dan beberapa ketua Gapoktan. Ketua gapoktan sengaja diundang dengan tujuan agar dapat membantu PPL dalam menyampaikan informasi teknologi ke petani. BPTP Kalbar bertindak sebagai nara sumber. Selain itu, Dinas Pertanian Provinsi Kalbar, Dinas Pertanian kabupaten Landak, BPPKP dan BPSB kabupaten Landak juga turut menyajikan materi. Pada hari pertama dilakukan pemaparan dari masing-masing narasumber dan hari kedua dilakukan fieldtrip.

Materi yang disampaikan dalam PL-III tersebut adalah:

1. BPTP Kalimantan Barat à Peningkatan Produksi Padi melalui pendampingan SL-PTT

2. Dinas Pertanian provinsi à Kebijakan Peningkatan Produksi padi dan Jagung Tahun 2011

3. Dinas Pertanian Kabupaten Landak à Program Strategis Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Tahun 2011 di Kabupaten Landak, Teknologi Produksi Benih Padi dan Jagung, Teknologi Tepat Guna Padi, Pemupukan Hara Spesifik Lokasi, dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman yang ramah lingkungan.

Peserta terlihat antusias mengikuti semua acara yang disajikan. Hal ini terlihat pada sesi diskusi yang terdapat beberapa hal yang diungkapkan oleh peserta pelatihan. Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (Kabid TPH) Kabupaten Landak mengungkapkan bahwa kurangnya penyuluhan atau bimbingan dari PPL menyebabkan kurangnya serapan teknologi. Selain itu faktor sosial masyarakat setempat juga mempengaruhi. Asisten II kabupaten Landak juga mengungkapkan hal yang sama. Perlunya peningkatan bimbingan terhadap para PPL dan pekerja di bidang pertanian untuk mengatasi berbagai faktor yang menghambat pengembangan pertanian di kabupaten Landak.

Kabupaten Landak masih mempunyai peluang untuk meningkatkan produktivitas padi, karena saat ini potensi lahan di kabupaten Landak sebesar 73.346 ha dan yang sudah diusahakan baru mencapai 58.548 ha. Jadi, masih terdapat kesempatan untuk meningkatkan produktivitasnya. Harapan terbesar dari pelatihan ini adalah para peserta pelatihan dapat meningkatkan penerapan teknologi pertanian di kabupaten Landak dan dapat menginformasikan teknologi ini kepada petani lainnya.(Tyk)

Komoditas kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang secara nyata berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan di pedesaan.  Komoditi ini berkembang sejak Proyek  Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor  (PRPTE) pada tahun 1980 an.  Sampai saat ini Indonesia merupakan Negara pengekspor kakao terbesar setelah Pantai Gading dan Ghana. Petani kakao di Indonesia diperkirakan 1,4 juta rumah tangga, umumnya berskala kecil di bawah 2 hektar sekalipun di luar P Jawa (Neilson, 2008)

Kalimantan Barat  merupakan salah satu sentera produksi kakao di Kalimantan.  Sampai tahun 2008 luas tanaman kakao sekitar 9.583 ha dengan produksi  2081 ton dan rata-rata produktivitasnya hanya 0,2 ton/ha.  Kabupaten Sanggau sebagai salah satu sentera produksi kakao di Kalimantan Barat mempunyai luas areal 3.919 ha (40,92 % dari total) dan produksinya 725 ton (34,84 % dari total) (BPS Ka;limantan Barat, 2009).  Kalimantan Barat merupakan provinsi yang berbatasan langsung  dengan negarab tetangga Malaysia.  Panjang perbatasan sejauh 996 km yang meliputi lima kabupaten, 15 kecamatan, 98 desa seluas 23.714 km2 dengan kepadatan penduduk rata-rata 8 orang/km2 (Bappeda,1998).  Terdapat lima kabupaten yang berbatasan langsung dengan dengan negara tetangga Malaysia, antara lain :  kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan kabupaten Kapuas Hulu.

Kelembagaan agrobisnis di Kalimantan Barat masih lemah dalam memberi repon dan solusi jawaban terhadap masalah budidaya dan pasca panen kakao di kabupaten Sanggau.  Hal ini menunjukkan belum berfungsinya lembaga dan kelembagaan dalam adpsi teknologi pertanian di Kalimantan Barat sehingga masalah-masalah  yang terjadi di lapang belum dapat ditanggulangi secara cepat dan tepat.  Di sisi lain teknologi budidaya dan pasca panen kakao telah terdokumentasikan di Badan Litbang Pertanian.  Sosialisasi yang diikuti pengawalan penerapan teknologi anjuran  dengan memperkuat kelembagaan agrobisnis akan mempercepat adopsi teknologi  dan difusi terknologi tersebut.  Teknologi yang teradlopsi oleh petani  melalui pemberdayaan kelembagaan agrobisnis akan meningkatkan produksi buah kakao dan mutu hasilnya.

Pengkajian pemberdayaan Kelembagaan Agrobisnis kakao di kabupaten Sanggau ini merupakan penelitian lapang yang melibatkan Dinas terkait, yaitu BPTP Kalimantan Barat sebagai sumber inovasi teknologi, Badan Penyuluhan Kabupaten Sanggau sebagai institusi  penyebaran inovasi teknologi, serta BPP dengan PPL dan Petugas Pengamat Hama & Penyakit sebagai petugas diseminasi dan alih teknologi di lapang.  Disamping itu tenaga pendamping Gernas kakao juga terlibat dalam kegiatan ini.  Kondisi petani kooperatif perlu disiapkan terlebih dahulu sebelum teknologi budidaya anjuran budidaya kakao terpadu dan pengolahan hasil diterapkan melalui pendampingan oleh tenaga pendamping baik dari BPTP maupun dari luar BPTP, dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas teknologi anjuran, meningkatkan produktivitas tanaman dan meningkatkan percepatan difusi teknologi anjuran. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas maka tim Peneliti dari BPTP Kalimantan Barat  sebanyak enam orang Peneliti yang teridiri dari berbagai keahlian (Budidaya, Sumberdaya, Hama & Penyakit) telah terjun ke lapangan dalam rangka sosialisasi kegiatan “Pengkajian pemberdayaan kelembagaan agrobisnis kakao untuk percepatan difusi teknologi budidaya dan pasca panen mendukung Gernas Kakao di kawasan perbatasan kabupaten Sanggau” dan  pengambilan data awal sekaligus melakukan koordinasi dengan tenaga pendamping di daerah dan para petani peserta Gernas Kakao.

Penelitian dilaksanakan di kecamatan Sekayam kabupaten Sanggau yang merupakan lokasi program Gernas Kakao tahun 2010.  Lokasi penelitian tersebar di tiga desa , yakni Pengadang, Sotok dan desa Bungkang yang memiliki 19 kelompok tani yang masing-masing beranggotakan 25 – 30 petani.  Masing-masing kegiatan yang terdiri dari kegiatan peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi yang tersebar pada tiga desa digunakan sebagai unit pengkajian dan memiliki ulangan. Demoplot masing-masing kegiatan kelompok tani, dipilih dari kebun milik seorang petani  kooperator yang selanjutnya digunakan sebagai acuan penerapan teknologi anjuran oleh petani sebelahnya dalam satu  Kelompok Tani yang sama. Berkaitan dengan pembuatan demoplot, pada kesempatan ini telah dilakukan ploting pada ketiga lokasi yaitu demoplot peremajaan di dusun Ruis, demoplot sambung samping di desa Sotok dan demoplot intensifikasi di desa Bungkang.

Pada intinya kegiatan pengkajian ini terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu 1) Pemberdayaan kelembagaan agrobisnis yang dilakukan dengan a) PRA Kelembagaan, b) Penyusunan rancangan Pengembangan Kelembagaan, c) Pembentukan Kelembagaan Agrobisnis dan d) Manajemen Agrobisnis.  2) Pengkajian Budidaya Kakao Terpadu untuk peningkatan produktivitas > 15 %, dilakukan dengan membandingkan produksi kakao di demoplot kelompok tani terpilih dan kelompok tani lain dalam Gapoktan serta dari kebun kakao milik petani  dikecamatan Sekayam. Teknologi anjuran yang akan dievaluasi adalah Budidaya kakao terpadu yang ditekankan pada komponen teknologi bibit SE, sambung samping, pemupukan, pengendalian hama & penyakit terpadu dan penanganan panen dan pasca panennya.  3) Pengkajian mutu hasil kakao dan pengolahan hasil kakao, dilakukan dengn membandingkan aspek panen dan penanganan pasca panenkakao dari demoplot kelompok tani terpilih dan kelompok tani  dalam Gapoktan dari kebun kakao milik petani di kecamatan Sekayam.

Adanya rencana kegiaan pengkajian ini mendapat respon yang positif dari pihak-pihak yang terkait di kabupaten Sanggau antara lain dari BAPPEDA, Dinas Perindustrian  dan Perdagangan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan serta dari Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sanggau.  Hal ini terlihat dari antusianya para peserta yang hadir dalam rangka memberikan masukan – masukan pada pertemuan yang diselenggarakan di gedung Pertemuan BAPPEDA kabupaten Sanggau.

Tanaman di masing-masing demoplot nantinya akan dikelola dengan menggunakan teknologi anjuran lengkap, yaitu teknologi utama dan teknologi pendukung yang agroinputnya disediakan  dan pengawalan penerapannya dilakukan langsung oleh tim peneliti dari BPTP Kalimantan Barat. Di Kebun milik anggota tiga kelompok Tani terpilih, pengelolaan kebunnya menggunakan teknologi utama yang Agroinputnya disediakan oleh petani sendiri. Kebun kakao petani di luar tiga kelompok tani terpilih, tetap mendapat penyuluhan tetapi penerapan teknologi anjuran dan teknologi pendukungnya , semua agro inputnya disediakan oleh petani sendiri.

 

 

Pelatihan Pemandu Lapang III (PL-III) Sekolah      Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi di Kab. Sambas dilaksanakan tanggal 10–12 Mei 2011 di Gedung Resto Rambi Cafe. Peserta pelatihan berjumlah 40 orang terdiri dari Penyuluh Pertanian, Pengendalian Organisme Pengganggu  Tanaman (POPT), Petugas Benih Tanaman, dan Petugas Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Sambas.

Pada PL-III SLPTT Padi di Kab. Sambas selain BPTP Kalimantan Barat, Balai Besar Padi Sukamandi juga berpartisipasi sebagai narasumber. Materi yang disampaikan dalam pelatihan PL-III adalah:

1.  Balai Besar Padi

o  Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP),

o  Pemahaman tentang PTT Padi,

o  Pengaturan populasi tanaman dengan legowo 2:1 dan 4:1,

o  Penggunaan PUTS dan BWD,

o  Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman.

2.  BPTP Kalimantan Barat

o  Pendampingan SLPTT Padi di Kab. Sambas 2011,

o  Hasil Pendampingan dan Pengawalan SLPTT Padi di Kab. Sambas 2010.

         Dalam PL-III tersebut, terlihat peserta cukup antusias dalam mengikuti materi yang disampaikan. Saat diskusi, ada beberapa masalah yang diungkapkan oleh peserta dalam pelaksanaan SLPTT Padi di Kab. Sambas, yaitu:

·      Benih selalu datang terlambat, pada saat petani sudah semai, benih baru datang, dan untuk tahun ini keterlambatan benih padi SLPTT lebih parah dari tahun lalu.

·      Benih datang tidak sesuai dengan permintaan petani, contoh di Kab. Sambas, permintaan benih Inpara sekitar 80% namun yang datang adalah Ciherang, Inpari, IR 64, dan lain-lain.

·      Dalam SLPTT ada pertemuan petani sebanyak 8-12 kali yang seharusnya dilaksanakan di lapangan, namun biasanya petani sibuk pada siang hari, sehingga kita melakukan pertemuan pada malam hari dan tidak di lapangan.

Saran dari narasumber terhadap masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan SLPTT Padi di Kab. Sambas adalah:

·      Mungkin dilakukan penangkaran benih di desa untuk mengantisipasi keterlambatan benih dan kesesuaian benih yang diperlukan. Selain itu perlu digalakkan lagi jalur benih antar lapang (JABAL).

·      Pertemuan sebaiknya dilaksanakan pada waktu luang petani dan yang menentukan waktu pertemuan adalah petani sendiri.