JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Temu Lapang Uji Adaptasi VUB di Kabupaten Sekadau

BPTP Kalimantan Barat bersama Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan, serta Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Sekadau menyelenggarakan acara Temu Lapang dan Panen Raya hasil kegiatan uji adaptasi Varietas Unggul Baru (VUB) padi varietas Cibogo, Inpari 20, Inpari 24 dan Inpari 30, di Desa Timpuk Kecamatan Sekadau Hilir (21/01/2015).

Produktivitas VUB padi berdasarkan hasil ubinan menunjukkan hasil yang cukup baik, yaitu 6,3 t GKP/Ha pada Inpari 20, 6,42 t GKP/Ha pada Inpari 30 dan 5,76 t GKP/Ha pada Cibogo (telah dikurangi faktor koreksi 25%). Sedangkan varietas Inpari 24 belum dapat dilakukan pengubinan karena umur panennya diperkirakan masih satu minggu kemudian.

Hasil uji adaptasi menunjukkan, varietas Inpari 24, satu-satunya padi beras merah yang dilepas sebagai VUB oleh Balitpa Sukamandi, memiliki umur panen yang lebih panjang dibanding varietas lain yang diuji. Secara deskriptif umur tanaman Inpari 24 adalah 111 hari setelah semai, namun di lapangan umur panennya dapat lebih panjang terutama jika ditanam pada MH, karena intensitas sinar matahari dan curah hujan sangat mempengaruhi proses pemasakan bulir padi.

Acara yang dihadiri oleh Bapak Kepala BPTP Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pertanian, Perwakilan Badan Ketahanan Pangan, Camat Sekadau Hilir, Kepala Desa Timpuk dan PPL se-kecamatan Sekadau Hilir ini, secara keseluruhan berlangsung baik. Cuaca mendung dan hujan rintik-rintik tidak menyurutkan semangat para petugas dan tamu undangan yang hadir.

Dalam sambutannya, Bapak Sabas, Kepala Dinas Pertanian menyatakan: “Kami menaruh perhatian pada uji adaptasi VUB yang dilakukan oleh BPTP dan berharap para petani dapat mengembangkan hasilnya, terutama padi beras merah Inpari 24 karena kandungan gizi dan seratnya tinggi serta harga jualnya mahal”.

“Hasil panen uji adaptasi VUB ini sebaiknya tidak langsung dijadikan beras untuk dikonsumsi tetapi diprioritaskan untuk dikembangkan lagi sebagai benih dan ditanam kembali, sehingga semakin banyak petani yang memperoleh manfaatnya”, demikian disampaikan Bapak Jiyanto, Kepala BPTP Kalimantan Barat dalam sambutannya.

Hasil analisa usaha tani padi varietas Inpari 20 di Desa Timpuk, seperti yang disampaikan oleh PPL Desa Timpuk, Bapak Suryadi, memerlukan pengeluaran sebesar Rp. 3.190.000,- untuk saprodi + Rp. 10.480.000,- untuk tenaga kerja = Rp. 13.670.000,- per hektar. Perkiraan produksi sesuai hasil ubinan sebesar 5.880 kg gabah kering giling (GKG) x Rp. 5.000,- harga gabah kering giling = Rp. 29.400.000,-. Dengan demikian, usaha tani padi Inpari 20 akan menghasilkan pendapatan sebesar 29.400.000 - 13.670.000 = Rp. 15.730.000,- per hektar per musim tanam.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa, dan pembagian door prize bagi petani dan petugas yang berhasil memenangkan lomba tebak hasil ubinan. (au)

 

Foto kegiatan terkait:

https://www.dropbox.com/s/rdcpyoajt79u56j/temu%20lapang%20timpuk%2001.jpg?dl=0

https://www.dropbox.com/s/llkuwspcli9l6q8/temu%20lapang%20timpuk%2002.jpg?dl=0