“SANG NAGA” ITU TELAH BERBUAH MANIS

Kategori Induk: Berita Ditulis oleh admin1 Dilihat: 1167

Temu Lapang dalam rangka Pendampingan Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH) tahun 2014 di Desa Peniti Besar, Kabupaten Mempawah, mengungkap sisi berat perjuangan membangun kawasan hortikultura yang berorientasi bisnis ini.  Bermula dari bantuan sosial-ekonomi dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional kepada Pemerintah Kabupaten Pontianak, sekarang Kabupaten Mempawah, dalam rangka membangun model pemanfaatan lahan gambut terdegradasi untuk pengembangan kawasan hortikultura dengan fokus meminimalkan kebakaran lahan.  Hasilnya pengembangan kawasan hortikultura seluas 20 hektar dengan komoditas utama buah naga.  Pengembangan oleh Kelompoktani Mekar ini  didahului dengan kunjungan Bupati Mempawah dan diikuti pelatihan bagi 10 anggota poktan ke sentra buah naga di Yogyakarta.  Bupati Mempawah, Drs. H. Ria Norsan, MM. MH., mendukung dengan membangun jalan masuk dari beton tetapi masih kurang 2 km ke lokasi kebun.  Setelah mulai berproduksi buah naga banyak terserang penyakit jamur Fusarium sp.  BPTP Kalimantan Barat mencoba memecahkan masalah serangan penyakit jamur ini dengan mengintroduksikan penggunaan agensia hayati jamur Trichoderma harzianum dan  Mikoriza sp. serta kombinasi perlakuan pupuk dari kotoran sapi dan kotoran ayam.  Dari hasil pengamatan ini diketahui kombinasi perlakuan Trichoderma harzianum dan  Mikoriza sp memberikan hasil terbaik.  Sedangkan penggunaan pupuk yang utama adalah pupuk organik dari bahan kotoran sapi dan kambing.  Para petani mengamati penggunaan pupuk kotoran kambing juga memberikan hasil terbaik.

 

Pada kesempatan tersebut, Kepala BPTP Kalimantan Barat, yang diwakili oleh Ir.Sigit Sapto Wibowo, MSc, mengingatkan beberapa aspek yang perlu dikembangkan. Pertama, perlunya dibangun pintu air untuk mengatur tinggi permukaan air ke permukaan tanah sekitar 50 cm. Tujuannya, agar tidak terjadi over drying dan membantu mencegah kebakaran lahan gambut. Kedua, pemanfaatan limbah ternak sapi terutama urine sapi diolah menjadi BioUrine sebagai pupuk organik cair.  Ketiga, membangun pondok pembuatan abu bakar terutama untuk mengatasi masalah pseudosand dengan cara dibakar di pondok abu dan abunya dikembalikan ke lahan sebagai amelioran.  Keempat, pengomposan pupuk kandang dengan dekomposer jamur Trichoderma sp sekaligus membantu mengendalikana serangan jamur Fusarium sp.  Untuk membantu meningkatkan brix buah naga maka Bupati Mempawah menganjurkan penggunaan kompos dari limbah pabrik kelapa sawit yang ada di Kabupaten Mempawah.  Bupati Mempawah juga berjanji akan membantu 2-4 unit chopper untuk mengolah hasil pangkasan tanaman buah naga menjadi kompos tahun 2015.

Menurut Ambo Angka, Ketua Poktan Mekar, produksi buah naga dari Desa Peniti Besar ini telah mencapai lebih dari 91 ton dengan nilai produksi lebih dari Rp.1,5 milyar.  Buah naga dari Desa Purun Besar ini dikenal oleh konsumen di Kota Pontianak memiliki nilai brix yang cukup tinggi sehingga rasanya lebih manis. Oleh karena itu harga jualnya juga lebih tinggi yaitu Rp.24.000/kg dibandingkan produk serupa dari daerah lain yaitu Rp.20.000/kg seperti dari Singkawang.  Dibandingkan dengan kegiatan di daerah lain yang sama-sama dibiayai oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional ternyata kegiatani ini dinilai lebih baik dari berbagai aspek baik sosial, ekonomi, maupun lingkungan sehingga akan diikutkan dalam pameran tingkat nasional di Riau.