Naik Dango Tingkatkan Pelestarian Budaya Adat dan Produksi Pertanian

Kategori Induk: Berita Dilihat: 2387

Adil Ka’ Talino Bacuramin Ka’ Saruga Basengat Ka’ Jubata” demikian diungkapkan Bapak Gubernur Kalimantan Drs. Cornelis, MH mengawali sambutannya dalam acara Gawai Naik Dango ke-28 di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak yang dibuka pada tanggal 14 Mei 2013 yang dihadiri oleh Ketua HKTI Bapak Oesman Sapta Odang, Staf Ali Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bapak Kuntoro Hadi Drajad, Bupati, SKPD propinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, masyarakat serta Pemuka Adat.

Naik Dango merupakan apresiasi kebudayaan masyarakat Adat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat yang rata-rata berprofesi sebagai petani sebagai bentuk ungkapan syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang boleh dilimpahkan kepada Talino (manusia) seraya menaikkan pula doa dan permohonan kepada sang Jubata (Tuhan) agar diberkati kembali usaha dan hasil pertaniannya di tahun-tahun yang akan datang. Dalam hal ini hendaknya melalui acara naik dango diharapkan adanya peningkatan teknologi pertanian yang kedepan diselaraskan bagaimana menghadapi iklim global dalam rangka mendukung ketahanan pangan, setidaknya diharapkan ke depan petani di Kalbar bisa seperti petani di New Zealand yang memilki hak milik lahan 1.000 ha. Oleh sebab itu perlu adanya reformasi Agraria dan tentunya hal ini didukung oleh Pemerintah Propinsi Kalbar melalui dukungan sarana pertanian seperti bantuan traktor yang disalurkan melalui kelompok tani. Diharapkan melalui naik dango menambah semangat petani sehingga kedepan nantinya keperluan pangan tidak perlu lagi impor dengan meningkatkan potensi pangan alternatif seperti Ubi, Jagung dan bahkan Sukun. Demikian Bapak Gubernur mengakhiri kata sambutannya seraya disambut tepuk tangan oleh masyarakat.

 

Bapak Kuntoro Hadi drajad dalam sambutannya menyampaikan Naik Dango sebagai sebuah kreatif budaya bangsa Indonesia dan dapat dijadikan daya tarik dan obyek pariwisata terbesar yang terutama saat ini dilaksanakan di Rumah Panjang saham yang merupakan budaya natural yang dihuni oleh suku dayak sebanyak 34 KK, dimana senantiasa dilestarikan untuk meningkatkan ekonomi kreatif. Hal ini didukung oleh sambutan Bapak Bupati Landak Drs Adrianus Asia Sidot, bahwa kawasan rumah panjang saham akan dijadikan kawasan pariwisata dan acara naik dango ini yang dilaksanakan setiap tahun ke depan akan dijadikan event pariwisata. Harapan Bapak Bupati Landak semangat naik dango dapat memotivasi petani untuk mengoptimalkan potensi lahan sawah di Kabupaten Landak seluas ± 70.000 hektar meskipun saat ini beberapa kendala dihadapkan seperti irigasi yang belum optimal, namun disisi lain sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan terutama Kabupaten Landak sebagai penyumbang sentra produksi beras kedua setelah Sambas, meskipun tingkat produktivitas masih jauh yaitu dengan rata-rata 2,5 – 3,5 ton/ha. Akan tetapi dari penelitian yang telah dilakukan bekerjasama dengan BPTP melalui inovasi teknologi yaitu varietas Inpari 14, Inpari 3, Cibogo dan varietas irigasi lainnya mampu mencapai produksi 5,0 – 6,0 ton/ha.

Selain mengadakan ritual adat syukuran, acara naik dango juga diisi dengan pertandingan dan perlombaan kesenian tradisional yang dikemas sedemikian rupa untuk turut memeriahkan dan meramaikan pagelaran prosesi upacara adat Naik Dango tersebut dan seiring waktu perkembangannya diselipkan pula dengan beberapa kegiatan bersifat tinjauan ilmiah dlam bentuk seminar, diskusi, lokakarya yang intinya mengangkat tema, isu, dan wacana-wacana termutakhir mengenai pelestarian adat istiadat dan kebudayaan Dayak Kanayatn serta hal-hal langsung berkaitan dengan kemajuan pertanian masyarakat. Tidak kalah pentingnya juga adanya stan pameran dari berbagai instansi yang menampilkan hasil karyanya sehingga merupakan ajang diseminasi kepada petani. Melalui acara ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian mengisi acara Stan Pameran dan terlihat antusias masyarakat, petani mengunjungi stan BPTP dan yang sangat digemari adanya produk berupa varietas padi hasil pengembangan UPBS BPTP dan pemutaran-pemutaran film-film pertanian seperti SL-PTT dan KRPL.