JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Lesson Learned Feati: Diseminasi Inovasi Dengan Pendekatan Quatro Helix di Kalimantan Barat

Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi (FEATI) di Kalimantan Barat tahun 2007-2012.  Targetnya mendiseminasikan inovasi teknologi kepada minimal 60 % anggota Poktan sebagai adopter.  Lalu, 80 % petani adopter tersebut meningkat produktivitasnya.  Lokasinya 80 desa di Kab. Pontianak dan Sambas.  Kuncinya, adalah menggerakkan stakeholder lain ikut berpartisipasi. Pendekatan Quatro Helix yang diperkenalkan Badan Litbang Pertanian menjadi salah satu strateginya yaitu melibatkan akademisi (A), businessmen (B), dan pemerintah daerah (G) untuk agar 60 % community (C) petani mengadopsi inovasi agar produktivitasnya meningkat.  Bagaimana implementasinya?Tahap pertama, melakukan Participatory Rural Appraisal (PRA) di lokasi tersebut untuk mengumpulkan data sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya setempat.  

Dari kegiatan ini teridentifikasi mayoritas sasaran berada pada agro-ecological zones (AEZ) lahan pasang surut.  Komoditas utamanya padi lokal yang ditanam sekali setahun dan produktivitas 1,5-3,0 ton/ha.  Masalah utamanya petani tidak menanam pada musim gadu karena selalu gagal.  Penyebabnya pemerintah selalu menyediakan varietas Ciherang yang tidak sesuai dengan agro-ekosistem.  Dari masalah utama ini maka prioritas tujuannya adalah mendorong petani menanam padi 2 kali/tahun menggunakan varietas unggul baru (VUB) yang cocok dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).  Preferensi petani adalah varietas padi yang tinggi > 1 meter agar mudah dipanen, tekstur nasinya keras agar tidak cepat lapar, tahan keracunan besi dan alluminium, tahan wereng coklat biotipe 3, tahan kekeringan maupun kebanjiran, dan bibitnya dapat ditanam dengan umur 30-40 hari seperti varietas lokal.  Dari hasil PRA ini dapat disimpulkan bahwa alternative inovasi teknologi dari Badan Litbang Pertanian untuk mengatasi masalah tersebut adalah introduksi VUB Inpara-1, 2, dan 3 dengan pendekatan PTT Padi.

Dimotori oleh Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc sebagai penyuluh pertanian BPTP Kalbar maka implementasinya didahului ujicoba VUB Inpara-1, 2, dan 3 dari BB Padi dengan benih 2 ons per varietas karena varietasnya baru dilepas sehingga belum banyak tersedia tahun 2008.  Sesuai hipotesa, varietas Inpara-1 tahan kekeringan, produktivitas 4-5 ton/ha, dapat ditanam dengan umur bibit 40 dan 50 hari tanpa menurunkan produktivitas secara signifikan.  Masalahnya, kualitas berasnya berwarna kusam sehingga agak sulit dipasarkan.  Varietas Inpara-2 kurang diminati petani karena tekstur nasinya relative pulen.  Inpara-3 tahan terendam selama 6 hari, relative tahan kekeringan tetapi jumlah gabah hampa meningkat, tahan hama wereng coklat biotipe 3, tekstur nasinya yang keras, ramping panjang dan warnanya putih jernih sangat disukai petani dan pasar lokal.   Tahun 2009 ujicoba diperluas mencakup 35 desa di Kabupaten Sambas dan Pontianak selama dua musim gadu dan rendengan.  Hasilnya terlihat pada CP/CL SL-PTT Padi di Kabupaten Sambas.  Dari 25.000 hektar luas SL-PTT Padi sebanyak 80 % atau 20.000 hektar meminta varietas Inpara-1 atau 3.  Permintaan ini belum dapat dipenuhi instansi pengaturan dan pelayanan sehingga strateginya diubah dengan membuat model di satu desa.

Untuk melihat dampak maka dibuat kegiatan penyuluhan pertanian yang dikelola oleh petani (FMA) Mother di Desa Sungai Nipah, Kab. Pontianak.  Pada tahun 2009 hanya mampu mengajak 30 petani menanam Inpara-3 seluas 8 hektar.  Percontohan ini dijaga ketat agar berhasil.  Hasil ubinan dengan kooperator Bapak Sulaiman mencapai 6,4 ton/ha sehingga merangsang petani lain ikut berpartisipasi sehingga pertanaman gadu meningkat menjadi 50 ha (2010), 100 ha (2011) dan mencapai 200 ha (2012).  Universitas Tanjungpura dimotori DR. Ir. Radian mengerahkan beberapa mahasiswa Faktultas Pertanian menguji berbagai komponen teknologi VUB Inpara-1, Inpara-2, dan Inpara-3 dari BPTP Kalbar.  Salah satu kesimpulan penting bahwa performance Inpara-3 muncul jika menggunakan pupuk NPK Phonska 15:15:15 sebanyak 300 kg/ha ditambah urea berdasarkan Bagan Warna Daun.

Bank Indonesia ikut berpartisipasi mensosialisasikan pengomposan jerami menggunakan decomposer Trichoderma sp.  Untuk memperluas jangkauan maka inovasi pengomposan jerami ini dikemas dalam bentuk video berdurasi 30 menit dan telah ditayangkan sebanyak 7 kali oleh TVRI Nasional maupun Stasiun Pontianak.  Untuk pengendalian hama terpadu telah diikutsertakan dua perusahaan swasta yaitu formulator PT Dharma Guna Wibawa (DGW) dan PT CBA yang ditugasi mensosialiasikan perlakuan benih (seed treatment) dan pengendalian hama penyakit.  Pemerintah Kabupaten Pontianak berpartisipasi menyediakan hand traktor, power thresher, pompa air dan paddy mower.  Sedangkan program yang disinergikan adalah Program Pencetakan Sawah dan SL-PTT Padi yang dibingkai dalam Program Kawasan Food Estate.  Untuk memperoleh nilai tambah maka ditariklah investor Bapak Slamet Munti Astopo untuk membangun Rice Milling Unit (RMU) dengan investasi tanah dan alsin senilai Rp.330 juta.  Hasil berasnya untuk supply ke Koperasi PT Alas Kusuma dengan demand 20 ton/bulan.  RMU ini direncanakan beroperasi 2013.

Dampak dari program ini terlihat bahwa dengan pendekatan Quatro Helix maka diseminasi inovasi di Desa Sungai Nipah ini mampu mengubah pola tanam dengan IP 100 menjadi 200 pada luasan 200 hektar dengan produktivitas 3,5 ton/ha sehingga mampu memberikan tambahan produksi gabah sebanyak 700 ton/musim gadu.  Dengan harga gabah Rp.3.500/kg maka FMA Mother ini mampu menghasilkan tambahan penerimaan usahatani Rp.3,46 milyar/musim gadu.

Untuk mengimplementasikan program seperti ini maka penyuluh pertanian di BPTP Kalimantan Barat dituntut selain mampu mengidentifikasi masalah secara akurat, mencari alternative teknologi dan mengujinya lebih dulu untuk mengatasi masalah petani, juga dituntut mampu menggerakkan stakeholder lain seperti akademisi, businessmen, dan pemerintah daerah untuk ikut serta berpartisipasi.  Dengan kata lain penyuluh pertanian dituntut agar mampu membangun networking (jejaring) dalam rangka mendiseminasikan inovasi teknologi.  Pada Sistim Diseminasi Multi Channel (SDMC) diseminasi melibatkan berbagai pihak tetapi belum terarah membangun Sistem Agribisnis, sedangkan pada pendekatan Quatro Helix, stakeholder yang terkait terpilih secara purposive untuk mengatasi masalah yang bersifat spesifik lokasi.  Untuk menggerakkan pemerintah daerah maka BPTP Kalimantan Barat mengikuti falsafah “Tut Wuri Handayani”, dimana pemerintah daerah mengembangkan suatu program dan sudah banyak berinvestasi maka BPTP Kalbar masuk mendukung dari sisi konsep dan inovasi dengan membantu mengatur pencapaian tujuan misalnya dalam kerangka ekonomi yang oleh peneliti sosial ekonomi disebut sebagai “Membangun Sindikat Kawasan”.  Dengan cara seperti ini diseminasi inovasi terbukti mampu memperoleh “Impact Recognition” dari berbagai pihak.