Bupati Sambas : “Tularkan Model Feati ke Daerah Lain”

Kategori Induk: Berita Dilihat: 1338

workshop feati kabupaten sambasWorkshop Advokasi Keberlanjutan Program FEATI yang dipimpin langsung oleh Bupati Sambas telah dilaksanakan 3 Oktober 2012 di Kantor BKP4K Kabupaten Sambas.  Kegiatan ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan terutama dinas lingkup pertanian, Bappeda, Disperindagkop, BKP4K, para Kepala BPP, para Ketua FMA desa, para Kontaktani di luar lokasi FMA, hingga lembaga swadaya masyarakat.  Istimewanya kegiatan ini juga dihadiri tiga professor riset Badan Litbang Pertanian, petugas monev Badan Pengembangan SDM Pertanian, serta perencana Bappenas.  Kegiatan diawali dengan presentasi Kepala BPTP Kalbar yang memaparkan konsep pemberdayaan petani melalui teknologi dan informasi dilanjutkan dengan inovasi teknologi yang sudah diintroduksikan, hingga prestasi yang sudah diraih.  Kepala BPTP Kalbar menegaskan inovasi VUB padi Inpara pertama kali diujicoba oleh FMA Desa Harapan, Kab. Sambas, hanya 2 bulan setelah dilepas oleh Presiden RI pada acara Pekan Padi Nasional bulan Juni 2008.  Ini membuktikan tidak ada time lag inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian dilaunching hingga tiba di tangan pengguna.  Hanya perlu waktu setahun VUB Inpara-3 menyebar ke Kabupaten Pontianak dan Inpara-2 ke Kabupaten Kubu Raya.

Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua FMA Desa Gelik yang mengembangkan agribisnis itik dengan focus meworkshop feati kabupaten sambasmproduksi Day Old Duck atau bibit itik umur seminggu.   Dengan bantuan informasi dari BPTP Kalbar maka sang Penyuluh Pertanian Swadaya, Bapak Ratijo, mampu mengembangkan mesin tetas bersinergi dengan pengrajin meubel.  Dengan mesin ini maka penetasan itik dengan induk yang menghasilkan 10 ekor DOD melonjak menjadi 300 ekor dengan daya tetas 70 % jika memakai mesin tetas.  Di tengah diskusi ini perencana Bappenas yang hadir di acara ini menegaskan bahwa salah satu tugasnya adalah untuk melihat apakah kegiatan ini memberi manfaat maksimal terutama dari sisi ekonomi.  Ketua FMA Gelik memperlihatkan dengan gamblang.  Setelah belajar inovasi mesin tetas maka dalam kurun Juni 2011-Juni 2012 telah dibuat 23 unit mesin tetas yang menghasilkan 39.272 ekor DOD senilai Rp.196.390.000.  Padahal pembelajaran ini hanya didukung dana hibah FMA 2011 sebesar Rp.16.150.000.  Jika dianalisis secara ekonomi maka kegiatan pembelajaran ini menghasilkan Benefit Cost Ratio sebesar 12,1.  Hal ini menunjukkan bahwa setiap dana pemerintah berupa hibah yang diberikan kepada FMA Desa Gelik mampu workshop feati kabupaten sambasmenghasilkan manfaat berupa penerimaan usahatani sebesar Rp.12,1 juta.  Jelas kegiatan ini sangat feasible.

Hasil pembelajaran inilah yang mendorong Bupati Sambas, dr Juliarti Djuhardi Alwi MPh., memberikan instruksi: “ Tularkan model pembelajaran FMA Desa Gelik ini ke desa lainnya”.  Beliau berjanji untuk mengupayakan adanya APBD untuk mendukung keberlanjutan Program FEATI di Kabupaten Sambas. Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan Dokumen Hasil Participatory Rural Appraisal (PRA) di wilyaha perbatasan Kab. Sambas dengan Malaysia oleh Ketua Tim FKPR kepada Bupati Sambas.  Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan Dokumen Kalender Tanam dan Kinerja Varietas Unggul Baru (VUB) di Kabupaten Sambas dari Kepala BPTP Kalbar kepada Bupati Sambas.