JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Kunjungan Direktur Perlindungan Tanaman Hortikultura dan Forum Komunikasi Profesor Riset ke Kawasan Pengembangan Jeruk Di Sambas

Selasa, 2 Oktober 2012 Direktur Perlindungan Tanaman Hortikultura bersama Kepala UPTPH Provinsi Kalimantan Barat didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas melakukan kunjungan kerja ke kawasan pengembangan jeruk di Desa Tebas Sungai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Dalam kunjungan yang bertepatan dengan acara “Penyuluhan Pengenalan Dan Pengendalian Penyakit CVPD” kepada petani jeruk oleh BPTP Kalimantan Barat ini,

Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura menyampaikan bantuan insektisida pengendali kutu loncat, bubur california untuk pengendali penyakit diplodia, serta pupuk organik menggunakan Trichoderma. Pada sore hari itu, Bapak Direktur Perlindungan Tanaman Hortikultura juga menyampaikan motivasi kepada petani agar terus-menerus memelihara tanaman jeruk dan menyelamatkannya dari serangan hama penyakit yang banyak menyerang terutama penyakit CVPD dan diplodia dengan teknologi yang tepat. Beliau juga mengharapkan BPTP Kalimantan Barat untuk senantiasa melakukan bimbingan teknologi ke petani jeruk seperti pertemuan-pertemuan penyuluhan.

 

Keesokan harinya yakni Rabu, 3 Oktober 2012, giliran Tim dari Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) yang datang ke Tebas Sungai untuk mengunjungi demplot jeruk penerapan teknologi PTKJS (Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat). Demplot yang dibina BPTP Kalimantan Barat ini merupakan bagian dari Kegiatan Pendampingan Program Pengembangan Kawasan Hortikultura yang bertujuan untuk mendiseminasikan teknologi pengendali penyakit CVPD yang telah banyak menyerang pertanaman jeruk di Kabupaten Sambas.

Didampingi oleh Kepala BPTP Kalimantan Barat, Ir. Djiyanto, MM, tim yang terdiri dari Prof. Ir. Abu Bakar, Prof. Dr. Irsal Las, dan Dr. Suwarno ini ternyata sangat tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang pengembangan jeruk di Kabupaten Sambas. Hal ini ditunjukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ke petani pemilik kebun demplot tersebut diantaranya tentang luas kepemilikan kebun, teknologi budidaya yang diterapkan hingga pemasaran jeruk yang dilakukan oleh petani. Dua petani jeruk yang kebunnya menjadi tempat demplot penerapan PTKJS yakni Buhanif dan Abu Kalahan secara antusias menjelaskan kegiatan budidaya jeruk yang mereka lakukan hingga pemasaran hasil panennya. Petani kooperator tersebut juga menyampaikan peningkatan yang signifikan tentang kondisi kebun mereka saat ini dibandingkan dengan sebelum adanya bimbingan teknologi dari BPTP Kalimantan Barat. Sebelum adanya penerapan PTKJS, tanaman jeruk yang terserang penyakit CVPD serta vektor penyebarnya (kutu loncat) cukup banyak di kebun mereka. Namun, setelah PTKJS diterapkan diantaranya melalui pemangkasan cabang/ranting sakit CVPD, eradikasi tanaman sakit CVPD, penanaman kembali menggunakan bibit sehat berlabel, pemeliharaan optimal, dan pengendalian vektor penyebar CVPD kini di kebun mereka hanya beberapa pohon saja yang menunjukkan gejala terserang CVPD. Demikian pula, keberadaan kutu loncat di pertanaman jeruk yang diamati dengan perangkap kuning (yellow trap) juga telah jauh berkurang. Secara visual, tanaman jeruk yang dulu agak kurus dengan warna daun kekuningan kini menjadi lebih rimbun dengan daun yang lebih hijau.

Dalam kunjungan yang cukup singkat ini, beberapa kali Tim FKPR menyampaikan pujian tentang rasa buah Jeruk Siam Pontianak yang mereka cicipi. Menurut mereka, rasa Jeruk Siam Pontianak sangat manis. Ketika cuaca panas seperti saat kunjungan ini berlangsung, makan buah jeruk Jeruk Siam Pontianak ternyata sangat menyegarkan.

 

Mengakhiri kunjungannya, Tim FKPR mendorong petani kooperator untuk terus memelihara tanaman jeruk mereka. Kepada BPTP Kalimantan Barat, Tim FKPR menyarankan agar kegiatan pendampingan seperti demplot penerapan PTKJS ini dapat ditambahkan kegiatan yang bersifat pengkajian, misalnya percobaan-percobaan perlakuan dalam kegiatan budidaya jeruk. Selain untuk mendapatkan teknologi yang lebih baik, kegiatan pengkajian ini juga dapat menjadi bahan tulisan bagi pelaksana kegiatan baik peneliti maupun penyuluh.