JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

KOMISI B APRESIASI SINERGI FEATI-PROGRAM FOOD ESTATE

Workshop Advokasi Keberalanjutan Program FEATI di Provinsi Kalimantan Barat telah dilaksanakan pada hari Senin 24 September 2012 di Kantor Bappeda.  Pertemuan yang dipimpin oleh Kepala BPTP Kalimantan Barat menghadirkan para pemangku kepentingan di tingkat provinsi.  Sesi pertama diisi oleh Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc selaku penanggungjawab kegiatan FEATI di BPTP Kalimantan Barat.  Hal penting yang disampaikan adalah model pemberdayaan yang dimulai dari kegiatan Farming System Analysis (FSA) mampu memotret farmer needs berupa alternative intervensi teknologi pertanian dari Badan LItbang Pertanian untuk mengatasi masalah usahatani utama yaitu padi. Komponen teknologi utama yang diperlukan adalah varietas padi pasang surut yang tahan cekaman lingkungan biotic dan abiotic tetapi memiliki memiliki tinggi tanaman > 1meter dan tekstur nasi keras.  Hasilnya ditindaklanjuti melalui kegiatan Action Research Facilities (ARF) dan mengerucutkan pilihan utama pada VUB Inpara-3 sebagai inovasi utama.  Introduksi VUB Inpara-3 segera menyebar luas dari FMA Sungai Nipah ke Jungkat, Sungai Burung, Peniti Dalam I, Peniti Luar, Bakau Besar Laut, Parit Banjar hingga FMA Bukit Batu sejauh 50 km.

Sesi berikutnya diisi oleh Ketua FMA Desa Sungai Nipah yang memaparkan bagaimana inovasi Inpara-3 dari BPTP Kalimantan Barat mampu merubah wajah usahatani padi di desa ini.  Ketika kegiatan ini dimulai tahun 2009 petani di desa ini bersikukuh bahwa menanam padi pada musim gadu tidak akan berhasil karena selama ini selalu menggunakan varietas Ciherang.  Upaya diseminasi inovasi ini hanya mampu merangkul petani pada luasan 8 hektar yang didominasi wanita tani.  Para petani kaget ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka bisa panen demplot 6,4 ton GKP/ha.  Contoh dan bukti nyata di lapangan segera menyebar.  Dana pemerintah berupa hibah FMA senilai Rp.60 juta selama tahun 2009-2011 menghasilkan tambahan luas tanam gadu menjadi 200 hektar menghasilkan tambahan produksi padi 700 ton senilai Rp.2,45 milyar pada musim gadu 2012.  Produktivitas rata-rata memang hanya 3,5 ton/ha karena kekeringan ekstrim selama 2 bulan dan penggunaan pupuk yang belum optimal.  Dengan rerata pengelolaan lahan 0,8 ha/KK mereka mampu menjual sekitar 1.700 kg beras.  Harga beras Inpara-3 yang tadinya hanya Rp.6.000-6.500/kg melejit menjadi Rp.8.000/kg sehingga menghasilkan penerimaan usahatani bersih Rp.9,6 juta/KK/musim 5 bulan atau setara Rp.1,92 juta/KK/bulan.  FMA Desa Sungai Nipah menggandeng pengusaha membangun Rice Milling Unit kapasitas 15 ton/hari yang sisa operasi Oktober 2012 dan menggandeng FMA baby menjadi supplier gabahnya.

Seminggu sebelum workshop sebanyak 7 orang anggota Komisi B DPRD Provinsi Kalimantan Barat mengunjungi FMA Desa Jungkat yang bersebelahan dengan Desa Sungai Nipah dan menjadi lokasi Program Food Estate.  Setelah mendengar langsung dari petani dan melihat kondisi lapangan Bapak Sumitro dari Komisi B ini memberi apresiasi kepada BPTP Kalimantan Barat atas kerja keras yang dilakukan terutama mendukung Program Food Estate.   Kuncinya keberhasilannya terletak pada upaya BPTP Kalimantan Barat memadukan dan mensinergikan berbagai pihak dan program dinas seperti SL-PTT Padi, SL-PHT, SL-Iklim, bantuan alsin hingga kemitraan dengan program GP3K dari BUMN untuk mendukung Program Food Estate.  Anggota komisi B ini mempersilahkan para pemangku kepentingan melanjutkan program tersebut baik melalui scaling up maupun replikasi asal pengajuannya diberi uraian yang jelas maka mereka siap mendukungnya.  Sesi ini ditutup oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Kalimantan  Barat yang pada akhir tahun ini akan bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura melakukan review Program FEATI serta menentukan tindak lanjutnya.

 

Kunjungan Komisi B di FMA Desa Jungkat sebagai lokasi

Program Food Esate di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat