Panen Perdana Situ Bagendit Kegiatan M-P3MI di Kab. Sambas

Kategori Induk: Berita Dilihat: 2878

Kegiatan M-P3MIDi Kabupaten Sambas, difokuskan pada upaya mewujudkan Sistem Usaha Agribisnis (SUA) padi pada agroekosistem lahan pasang surut. Implementasi program tersebut di lapang berbentuk unit percontohan berskala pengembangan padi berwawasan agribisnis terpadu dari sektor hulu hingga hilir di Desa Semangau, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas.

 

Telah dilaksanakan panen perdana varietas unggul baru padi MT rendengan 2011/2012 sebagai bagian dari kegiatan M-P3MI di Desa Semangau, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Acara panen perdana bertempat di hamparan sawah milik Gapoktan Tekun Usaha di Desa Semangau. Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Wakil Bupati Sambas DR. Pabali Musa, M.Ag, Anggota DPRD Kabupaten Sambas, Kepala Unit Pengelola Terminal Agribisnis Terpadu Prov. Kalimantan Barat, Kepala Unit Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kalbar, Kepala Unit Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Kalimantan Barat, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Prov. Kalbar, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas, Badan Ketahanan Pangan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sambas, perwakilan Badan Pusat Statistik Kabupaten Sambas, Kepala BPTP Kalbar, dan instansi terkait lainnya. Para peserta yang menghadiri Panen Perdana di Desa Semangau selain dihadiri para angggota Gapoktan, juga dihadiri perwakilan petani dari desa dan kecamatan lain di Kabupaten Sambas, dan didukung pula oleh salah satu pengusaha saprodi utama di Kabupaten Sambas.

Berdasarkan hasil perhitungan ubinan, diperoleh hasil panen VUB padi Situ Bagendit yang beradaptasi dengan baik di Desa Semangau sebesar 5,9 ton/ha, yang berarti jauh diatas rata-rata provitas padi di Kabupaten Sambas sebesar 3,3 ton/ha. Selanjutnya dijelaskan pula analisis usahatani padi dari BPTP Kalbar dengan produksi dari 3 ubinan yaitu 5,28 t/ha, 5,36 t/ha, dan 7,1 t/ha, dengan rata-rata produksinya sebesar 5,9 ton/ha tersebut menghasilkan keuntungan finansial di tingkat petani sebesar 15,7 juta rupiah setelah dikurangi pengeluaran input produksi.