JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Memaknai Bersatunya 17 Agustus 2011 M dan 17 Ramadhan 1432 H


Seluruh staf BPTP Kalbar mengadakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI ke-66 pada 17 Agustus 2011 di halaman kantor BPTP Kalbar. Turut dalam acara tersebut dari UPT pusat lingkup Kementerian Pertanian yakni Balai Proteksi Tanaman Perkebunan, dan Badan Karantina Tumbuhan, Hewan dan Perikanan. Sebagai Pembina Upacara Kepala BPTP Kalimantan Barat  Ir. Jiyanto, MM sekaligus yang membacakan proklamasi kemerdekaan.


 

 

17 Agustus 2011 – 17 Ramadhan 1432. Hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia dan kaum muslimin di dunia. Tanggal 17 Agustus 2011 dan 17 Ramadhan 1432 terjadi secara bersamaan. Bertemunya kedua moment penting ini tak usahlah dikait-kaitkan dengan hal-hal yang bersifat klenik. Tetapi tak ada salahnya kalau hal ini kita maknai sebagai sesuatu yang istimewa yang disodorkan ke muka kita yang sehari-hari hanya menatap dan terpaksa harus menatap keadaan negeri yang mengenaskan.


Apa istimewanya kedua moment itu? Kita tahu bagi bangsa Indonesia 17 Agustus merupakan moment pembebasan dominasi manusia atas manusia lainnya (kolonial). Sedangkan 17 Ramadhan adalah moment pembebasan manusia dari belenggu nafsu dan kebodohannya sendiri. 17 Agustus merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia dimana telah di proklamirkan kemerdekaan, sedangkan 17 Ramadhan merupakan tanggal terjadinya peristiwa Nuzulul-Qur’an (turunnya Al-Qur’an) pertama kali kepada Nabi Muhamad SAW. Adapun kandungan Qur’an yang pertama kali diterima beliau adalah anjuran untuk membaca. “Iqro’ bismi rabbikalladzi halaq….” (bacalah! dengan atas nama Tuhanmu…”). Demikian bunyi awal dari ayat Qur’an surat Al-Alaq itu.

Muhamad gemetar mendapat perintah itu karena beliau merasa tidak bisa membaca dan tak tahu apa yang harus dibaca. Belaiau lantas bertanya kepada Jibril, “Apa yang harus kubaca?“. Pertanyaan beliau ini tak mendapat jawaban secara spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan membaca harus meliputi apa saja, baik yang tertulis maupun yang terhampar di alam semesta. Asalkan proses membaca itu selalu didasarkan atas nama Tuhan.