JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Pelatihan Identifikasi dan Pengendalian OPT bagi Petani Kooperator M-P3MI Kabupaten Landak

Kegiatan pelatihan pengenalan dan pengendalian OPT dilaksanakan di Desa Andeng Kecamatan Sengah Temila (28/7), bertempat di lahan milik Bpk. Alisius. Berdasarkan hasil orientasi yang telah dilakukan, materi yang diberikan diarahkan pada OPT utama yang banyak menyerang di daerah tersebut pada musim pertanaman berikutnya. Antara lain; penggerek batang padi, walang sangit, tikus, keong mas, burung dan Hawar daun bakteri (Xanthomonas).

 

Dari hasil diskusi yang berkembang diketahui, bahwa salah satu OPT utama yang menyerang pertanaman padi di Desa Andeng adalah hama Tikus. Kerusakan yang ditimbulkannya sangat merugikan petani dan sulit dikendalikan. Karenanya, para petani menjadi sangat antusias mendapatkan tambahan informasi teknologi pengendalian yang efektif untuk mengendalikannya.

Di tingkat petani sendiri, kegiatan pengendalian hama Tikus terus berlangsung dan memiliki variasi tehnik terutama dalam hal penggunaan umpan beracun. Pada umumnya, petani lebih menyukai penggunaan Rodentisida racun akut (phosphide, temix) disebabkan racun akut memiliki cara kerja yang cepat dan hasilnya bisa segera nampak berupa kematian tikus. Pada tahap ini, para petani disarankan agar melakukan pergiliran jenis Rodentisida. Pada awalnya, gunakan racun akut maksimum sebanyak 2 kali, selanjutnya gunakan racun anti-koagulan.

 

Pergiliran jenis Rodentisida bertujuan untuk menghindari kasus jera umpan pada penggunaan racun akut. Sebab, jika ini yang terjadi, maka umpan beracun akan “dikenali” oleh tikus dan menjadi tidak efektif lagi. Selain itu, penggunaan racun anti-koagulan seperti Klerat, memiliki keuntungan, antara lain tidak mudah hanyut terbawa aliran air, terutama pada saat musim hujan. Walaupun racun jenis ini memiliki kekurangan, diantaranya tikus yang memakan umpan baru mengalami kematian setelah 5 – 7 hari kemudian.

Sebagai tambahan wawasan, petani diperkenalkan pada jenis-jenis pestisida racun kontak dan sistemik serta OPT sasarannya. Disampaikan juga tentang tehnik pencampuran 2 jenis (atau lebih) pestisida dan aturan-aturannya. Bahwa sarat utama dari pencampuran adalah, tidak boleh mencampur antara pestisida yang bersifat asam dengan basa.

Setelah proses diskusi, petani diajak untuk melakukan praktek identifikasi jenis patogen (jamur, bakteri, virus) yang menjadi penyebab penyakit pada tanaman padi, berdasarkan gejala yang muncul pada tanaman.

Prosesnya, para petani dibekali dengan “kunci identifikasi penyakit tanaman padi” yang disusun secara sederhana agar mudah diikuti oleh petani. Tujuan dari kegiatan ini, agar setiap pengendalian (terutama kimiawi) yang dilakukan petani menjadi efektif dan tepat sasaran.

Hari berikurnya, dilaksanakan Gerakan Pengendalian OPT pada lahan demoplot, setelah sebelumnya dilakukan distribusi bahan-bahan pengendali OPT, pada masing-masing petani kooperator.

Dari hasil pengamatan diketahui, OPT yang menyerang antara lain: tikus (intensitas ringan), imago penggerek batang (populasi 0,05/rumpun), Xanthomonas (intensitas ringan), hama putih palsu (intensitas ringan) dan keong mas (intensitas ringan).

Sebagai tindakan pengendalian untuk hama tikus dilakukan pemasangan LTBS diantara habitat tikus (hutan) dengan persawahan lokasi demplot, serta pemasangan umpan beracun phosphide dan temix.

Sebagai tindakan preventif serangan hama penggerek batang, dilakukan pengendalian kimiawi dengan insektisida virtako dengan dosis 5 – 7,5 ml/tangki 15 liter.(Tyk)