Koordinasi antara BPTP Kalimantan Barat dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Kalimantan Barat

Kategori Induk: Berita Ditulis oleh Ester Justina Dilihat: 146
Koordinasi antara Kepala BPTP Kalimantan Barat, Dr. Rustan Massinai dan Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Barat kembali dilakukan (18/03/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di ruang rapat Kepala Bappeda Provinsi Kalbar dan juga dihadiri biro ekon dan tim. Pada kesempatan ini, dua hal dibahas yaitu rencana pelaksanaan program Integrated Corporation of Agricultural Research, Development, and Empowerment (I-CARE) di Kalbar, khususnya di Kabupaten Sambas untuk pengembangan model kawasan Jeruk-Padi.
 
I-CARE sendiri adalah program yang terselenggara dengan dukungan dari World Bank dalam jangka waktu lima tahun dan harus menghasilkan outcomes yang riil yaitu berupa: (1) Peningkatan jumlah kelompok petani yang beralih menjadi korporasi usaha tertentu, (2) Perbaikan kualitas dan produk pertanian dengan indikator jumlah produk pertanian yang memiliki sertifikat dan label, (3) Peningkatan daya saing produk pertanian dengan indikator jumlah negara pengimport dan volume ekspor produk pertanian, (4) Peningkatan adopsi teknologi dalam sebuah kawasan dengan indikator jumlah petani pemanfaatan teknologi, dan (5) Teradopsinya inovasi teknologi Balitbangtan dalam satu kawasan (jumlah).
 
Selain itu juga dibahas kegiatan pengembangan IP2TP Sui Kakap sebagai wahana agro edu wisata. Pengembangan IP2TP ini dilakukan sebagai upaya untuk memberdayakan potensi lahan agar dapat difungsikan secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. IP2TP dalam melaksanakan fungsinya telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai,, baik untuk mendukung kegiatan litkaji maupun untuk kegiatan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian.
Koordinasi seperti ini sangat berdampak positif bagi ke dua belah instansi. Suasana kerja yang harmonis dapat tercipta melalui komunikasi dan koordinasi yang baik antar pimpinan instansi dan lembaga. Di lembaga pemerintahan khususnya, kurangnya silaturahmi antar pimpinan dapat menjadi salah satu faktor buruk yang berpotensi menyebabkan suasana bekerja yang tidak kondusif.