PRA dan Baseline Survey, Langkah Awal Kegiatan M-P3MI di Desa Semangau, Kabupaten Sambas

Kategori Induk: Berita Ditulis oleh Dwi P. Widiastuti Dilihat: 4995

Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) adalah salah satu program strategis Badan Litbang Pertanian yang dilakukan di seluruh BPTP di Indonesia. Desa Semangau merupakan salah satu dari dua lokasi M-P3MI di Kalimantan Barat yang pada awal April kemarin dilakukan kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Baseline Survey sebagai langkah awal kegiatan M-P3MI.

Kepala BPTP Kalimantan Barat dan Pengelola BPP Sambas menghadiri hari pertama dimulainya kegiatan PRA sekaligus membuka kegiatan PRA di Desa Semangau. Pada kesempatan tersebut, Kepala BPTP Kalbar mensosialisasikan apa itu kegiatan M-P3MI dan tahapan pelaksanaan M-P3MI kepada para petani di lokasi M-P3MI Desa Semangau, Sambas. Selanjutnya, dimulailah kegiatan PRA yang melibatkan representasi kelompok masyarakat di Desa Semangau, diantaranya para petani, pedagang input/output, aparat desa, tokoh masyarakat dan perwakilan lembaga pendukung agribisnis.

Layaknya sebuah kegiatan pengkajian di BPTP, PRA dilakukan pada tahap awal kegiatan pengkajian. PRA merupakan teknik pengumpulan informasi dan pengenalan kebutuhan masyarakat yang melibatkan secara langsung dan secara aktif partisipasi masyarakat, tim multi disiplin PRA BPTP Kalbar dalam hal ini hanya berperan sebagai fasilitator dan merumuskan informasi yang disampaikan masyarakat Desa Semangau. Beberapa prinsip dasar dalam pelaksanaan PRA adalah melibatkan representasi kelompok masyarakat desa dalam pengenalan potensi sumber daya setempat dan pemahaman permasalahan yang dihadapi, masyarakat setempat merupakan pelaku utama dalam pengenalan situasi dan memilih jenis inovasi yang dikembangkan, menerapkan prinsip triangulasi yang merupakan bentuk cross check dan recheck informasi untuk mendapatkan informasi yang akurat, berorientasi praktis dan mengoptimalkan hasil dalam menggali informasi, santai dan informal, serta menerapkan prinsip demokratis dalam pengertian setiap anggota masyarakat mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan pendapat dan ide-idenya.

Pelaksanaan PRA di Desa Semangau meliputi inventarisasi, prioritas, analisis sumber masalah dan peluang pengembangan inovasi/agribisnis, diagram kelembagaan, pola curah hujan, kalender musim, pola tanam, kalender aktivitas harian petani, sejarah desa dan kecenderungan keberhasilan atau kegagalan program di Desa Semangau, pemetaan lokasi, pembuatan diagram transek Desa Semangau, klarifikasi masalah dan peluang inovasi pertanian.

Sedangkan baseline survey dimaksudkan agar diperoleh informasi awal (menentukan benchmark) sebelum dilakukan kegiatan M-P3MI (pra M-P3MI) untuk kemudian dibandingkan dengan keadaan dimana M-P3MI telah establish (pasca M-P3MI). Baseline survey dilakukan dengan mewawancarai sekitar 30 orang petani di Desa Semangau dan 10 orang petani di luar lokasi M-P3MI (Desa Sei Rambah).

Dari hasil PRA, diketahui bahwa permasalahan utama di Desa Semangau adalah kekurangan modal, serangan OPT, yaitu hama (tikus, burung, orong-orong, penggerek batang dan daun) dan penyakit (blast daun dan leher malai), kemurnian benih (benih sudah tidak murni lagi), tanah bereaksi masam (keracunan besi (Fe)), kesulitan air pada MT Gadu dan pengairan sulit diatur/ditata, dan kekurangan thresher pada saat panen. Dari permasalahan tersebut, BPTP Kalimantan Barat merumuskan beberapa peluang inovasi pertanian, terutama dari segi teknologi dan kelembagaan.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa petani (yang sebagian besar wanita) di Desa Seamangau sangat antusias terlibat dalam kegiatan M-P3MI ini, didukung pula oleh kesiapan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas untuk menyediakan beberapa alat dan mesin pertanian, diantaranya thresher, dryer, dan Rice Milling Unit (RMU). Untuk menandai dimulainya kegiatan M-P3MI pada MT Gadu 2011 di Kabupaten Sambas ini, diserahkan 20 kg VUB Inpara 1 kepada kelompok tani di Desa Semangau.