JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Perubahan Iklim Global, Pemicu Ledakan Hama Ulat Bulu

Saat ini beberapa kabupaten di Pulau Jawa dan Bali sedang disibukan oleh adanya fenomena ledakan ulat bulu. Hama yang sebelumnya ditemukan mewabah di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur ini disinyalir telah meluas ke daerah-daerah lain di sekitarnya, diantaranya di Kabupaten Pasuruan, Jombang, Mojokerto, Bojonegoro dan Banyuwangi. Di Jawa Tengah, serangan ulat bulu setidaknya ditemukan di Kabupaten  Semarang, Demak dan Kendal. Di Jawa Barat, serangan ditemukan di Sumedang dan Bekasi. Yang terbaru, di Bali ulat bulu mulai menyerang tiga kecamatan di Kabupaten Buleleng.

Beberapa ahli hama menduga serangan ulat bulu ini ada kaitannya dengan perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini. Perubahan iklim yang dimaksud salah satunya adalah Temperatur lingkungan, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu, demikian yang dikemukakan pakar hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Suputa. "Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain," katanya dalam diskusi Fenomena Wabah Hama Ulat Bulu di Jawa Timur, di Yogyakarta, Kamis.

Sementara itu, pakar Ilmu Hama dari Universitas Jember, Ir. Sigit Prastowo, MP mengatakan, musim hujan yang berkepanjangan kemungkinan turut memberi andil dalam memberikan kondisi kelembaban yang sesuai bagi perkembangan hama dan menyebabkan terjadinya ledakan populasi ulat bulu.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Ahli Hama Tumbuhan sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UNRAM, Prof. Ir. H.M. Sarjan , M.Agr.CP., Ph.D. Menurutnya, aspek lingkungan abiotik berupa perubahan iklim global yang sulit diprediksi seperti terjadinya hujan terus menerus selama dua tahun terakhir ini akan menyebabkan meningkatnya kelembaban lingkungan. Apalagi setelah hujan terus menerus diselingi oleh kondisi panas beberapa hari, hal ini akan sangat disukai oleh berbagai serangga hama termasuk ulat bulu dan beberapa hama ordo Lepidoptera (ulat-ulatan) lainnya.

Perubahan iklim global juga mempengaruhi lingkungan biotik yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan hama menjadi tidak terkendali, seperti yang disampaikan oleh Kepala Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Dr. Ir. Totok Himawan. Dia menjelaskan, ulat bulu cepat berkembang biak sejalan dengan cuaca buruk yang terus terjadi. Para predator yang selama ini menjadi musuhnya, tidak mampu bertahan hidup dengan kondisi cuaca seperti itu. "Ada namanya braconid dan apanteles, jenis predator yang biasa memangsa ulat bulu" terangnya. Maka dengan sendirinya, kata dia, populasi ulat bulu menjadi tak terbendung.

Kasus ledakan populasi ulat bulu di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali ini merupakan pelajaran berharga bagi daerah lain termasuk Kalimantan Barat agar mewaspadai terjadinya eksplosi hama. Karena cepat atau lambat masalah ledakan hama sebagai dampak perubahan iklim secara global akan dapat terjadi dimana saja, kalau tidak diantisipasi lebih awal. Akan tetapi sampai saat ini belum ada penelitian dan kajian secara komprehensif tentang hubungan langsung antara perubahan iklim dengan munculnya ledakan hama penyakit di lapangan.  Namun, tanda-tanda di lapangan menunjukkan kaitan kuat antara masalah hama dan penyakit dengan perubahan iklim yang terjadi. BPTP Kalimantan Barat sebagai salah satu perpanjangan tangan Kementerian Pertanian di daerah, diharapkan lebih berperan aktif dalam melakukan advokasi, pelatihan dan pengkajian untuk menjawab tantangan perubahan iklim global tersebut.