Inovasi Teknologi BPTP Kalbar Dukung Desa Pakbuluh Kab. Pontianak Sebagai Desa Mandiri Pangan

Kategori Induk: Berita Ditulis oleh Budi Abduchalek dan Hartono Dilihat: 3516

Saat ini, Kecamatan Anjungan sudah memiliki 3 desa mandiri pangan.  Namun angka ini belum signifikan dibandingkan jumlah total keseluruhan desa  yang ada di Kecamatan Anjungan Kabupaten Pontianak.  Demikian yang dituturkan oleh Camat Anjungan Tarmidji  dalam acara pencanangan desa mandiri pangan di Desa Pakbuluh, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Pontianak bersamaan dengan acara panen raya tanggal 23 Maret 2011.   Pada kesempatan itu  8 Gapoktan yang ada di Desa Pakbuluh berkomitmen untuk mensukseskan dan mewujudkan program tsb. 

 Sementara itu Bupati Pontianak, Ria Norsan sangat berharap melalui pencanangan desa mandiri pangan, bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mewujudkan lembaga makro keuangan desa, maka pelaksanaan program ini tidak boleh berhenti setelah berhasil dan puas mencukupi kebutuhan pangan di desa-desa mandiri pangan yang sudah ada.  "Semangat mencukupi kebutuhan pangan ini harus diteruskan, sehingga jumlah desa mandiri pangan terus berkembang," ujarnya.

 

Kepala Koordinasi Pelaksana Penyuluhan Bidang Ketahanan dan Kerawanan Pangan Provinsi Kalimantan Barat Nurul Ekawati mengatakan, yang dimaksud sebagai desa mandiri pangan adalah desa yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi energi dan protein dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada.  Selain menguntungkan warganya, pemanfaatkan sumber daya desa tersebut diharap juga berguna dan berdampak positif bagi warga sekitarnya.  Sumber daya alam yang dimanfaatkan, menurut Nurul, bisa berupa apa saja. "Namun, khusus untuk di Kalimantan Barat, kegiatan pemenuhan konsumsi energi dan protein di desa mandiri pangan, berbasis pada usaha pertanian dan peternakan," ujarnya.

BPTP Kalimantan Barat sebagai mitra Pemerintah Daerah dan petani mendukung kebijakan pemerintah setempat dengan diterapkannya berbagai teknologi spesifik lokasi hasil inovasi Badan Litbang Pertanian di daerah ini, salah satunya adalah pemakaian benih unggul bersertifikat seperti varietas ciherang dan inpari 1, tanam jajar legowo 4:1, pemupukan berimbang, pengendalian OPT terpadu dan sistem budidaya IP 300.  Dari hasil panen ketiga pada 23 Maret 2011 dihasilkan 9,6 ton/ha gabah kering panen, yang memberikan harapan besar guna suksesnya program ini.