JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
id Bahasa Indonesia en English

Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) di Kalimantan Barat

Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) merupakan kegiatan pengembangan konsep diseminasi inovasi yang lebih efektif dengan basis lesson learn dari PRIMATANI, PUAP, FEATI, dan pendampingan program strategis Kemtan (SL-PTT, Kawasan Hortikultura, PSDS, dan Gernas Kakao).

Konsep M-P3MI yang dimulai pada tahun 2011 ini mengacu pada konsep Prima Tani, yang merupakan keterpaduan berbagai program pembangunan pertanian berkelanjutan untuk mewujudkan swasembada atau kemandirian pangan dalam negeri sebagai salah satu upaya untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Beberapa program pembangunan pertanian berkelanjutan pendukung M-P3MI tersebut antara lain adalah SL-PTT, FEATI, PUAP, Desa Mandiri Pangan, dan program daerah (KUAT, Food Estate).

M-P3MI di Kalimantan Barat berorientasi kepada percepatan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dalam pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) padi. Oleh karena itu, pembangunan pertanian di kawasan M-P3MI di Kalimantan Barat diimplementasikan hanya pada satu komoditas, yaitu padi untuk pengembangan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) padi secara terpadu dari sektor hulu ke hilir. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak yang merupakan daerah sentra produksi/lumbung padi di Kalimantan Barat. Sebagian besar sentra produksi padi di Kalimantan Barat adalah di lahan produktif dengan agroekosistem lahan irigasi dan pasang surut. Kabupaten Landak merupakan representasi lahan irigasi produktif di Kalimantan Barat, dengan luas lahan pertanaman padi sekitar 19.586 hektar, sedangkan lahan pasang surut potensial untuk pertanaman padi di Kabupaten Sambas adalah seluas 67.807 hektar.

Untuk memantapkan pelaksanaan kegiatan M-P3MI di Kalimantan Barat, maka telah dilakukan persiapan pelaksanaan kegiatan dengan berkoordinasi dengan stakeholders di daearh. Koordinasi dilakukan dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian dan BP4K di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak (Gambar 1).

Dari koordinasi telah dihasilkan adanya komitmen yang baik dari Pemda Provinsi, Pemda Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak, untuk mendukung keberhasilan pencapaian target dari kegiatan ini antara lain dengan akan diarahkannya beberapa program nasional terkait seperti SL-PTT, PUAP, dan FEATI, serta program daearh seperti KUAT dan Food Estate untuk mendukung kegiatan M-P3MI. Selain itu juga telah ditetapkan dua lokasi pelaksanaan kegiatan M-P3MI di Kalimantan Barat, yaitu di Desa Semangau, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, dan Desa Andeng, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak (Gambar 2a dan 2b).

Ditetepkannya Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak sebagai lokasi kegiatan M-P3MI adalah karena kedua kabupaten ini merupakan lumbung padi di Kalbar yang mewakili kawasan pertanian padi dengan agroekosistem lahan pasang surut dan irigasi, yang diharapkan mampu menyumbang PAD dan memberikan andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak. Untuk itu, dengan pengembangan agribisnis padi secara terpadu melalui M-P3MI diharapkan adanya respon positif dari Pemerintah Daerah Provinsi Kalbar, sehingga memberi peluang besar bagi teradopsinya kegiatan ini oleh stakeholder, Dinas/Instansi terkait, Pemerintah Daerah setempat dan memberikan dampak terhadap kawasan lainnya di luar binaan M-P3MI.

Keberhasilan pengembangan M-P3MI pada agroekosistem lahan irigasi dan pasang surut ini ditentukan oleh adanya dukungan yang kuat dalam sinergisitas antar instansi terkait, dalam hal ini Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten), BUMN, swasta, dan petani, sehingga dapat berjalan sesuai dengan harapan. Kelembagaan yang ada di tingkat petani seperti gapoktan, Kelompok Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT), dukungan permodalan dari PUAP, dan kelembagaan lainnya dapat berfungsi dengan baik sebagai wadah petani berkolaborasi, sehingga pengembangan agribisnis padi dapat berjalan dengan baik.

Dengan implementasi M-P3MI secara komprehensif, diharapkan dapat mewujudkan terciptanya Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) padi secara terpadu dari sektor hulu (sumberdaya lahan dan manusia, teknologi produksi, dan permodalan) hingga sektor hilir (pasca panen dan kelembagaan), yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), menciptakan nilai tambah, penumbuhan simpul-simpul agribisnis, pemantapan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di kawasan binaan Kabupaten Landak dan Sambas. Dengan demikian, Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi dapat menjawab apa yang diharapkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.