JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
iden

Pengendalian Tungro Bedasarkan Virulensi dan Patogenisitas Virus Tungro di Daerah Endemis

Deteksi dini perkembangan serangan tungro di kalbar salah satu caranya adalah dengan melakukan pemetaan serangan tungro di kalbar oleh sebab itu Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolit Tungro) Lanrang, Kab. Sidrap, Sulawesi Selatan bekerjasama dengan BPTP Kalimantan Barat untuk membuat peta virulensi dan patogenisitas virus tungro dari beberapa daerah endemis. Dasar hipotesis dari penelitian ini yaitu virus tungro dari beberapa daerah yang berbeda menunjukkan keberagaman virulensi dan keberagaman dalam menginfeksi semua varietas tahan. Selain itu, wereng hijau dari daerah yang berbeda menunjukkan respon yang bervariasi terhadap golongan varietas tahan wereng hijau T0-T4.

Pengambilan sample sumber inokulum dan vektor tungro di Kalimatan Barat dilakukan di Desa Anjungan, Kec. Anjongan, Kab. Mempawa. Area pertanaman milik petani setempat yang tidak diberikan aplikasi pestisida. Petani menggunakan varietas Inpari 30 dan saat pengambilan sample umur tanaman sekitar 60 HST. Sample yang diambil dari area pertanaman yaitu sumber inokulum tungro dan wereng hijau sebagai vektornya. Sweeping terhadap wereng hijau dilakukan dengan menggunakan jaring penangkap serangga. Wereng-wereng hijau yang tertangkap dimasukkan kedalam wadah berisi tanaman yang diduga terinfeksi tungro untuk diinokulasi. Selain wereng hijau untuk diinokulasikan, diambil juga 20 pasang wereng hijau yang disimpan dalam wadah terpisah untuk dikembangbiakkan di rumah kaca Lolittungro.

Setelah diinokulasi selama 5 jam, wereng hijau diinfestasikan pada bibit tanaman peka dan delapan varietas tahan dalam tabung gelas berumur 10 HSS, masing-masing 10 tabung per varietas. Delapan varietas tahan tungro yang digunakan yaitu Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo, Bondoyudo, Tukad Unda, Tukad Petanu, Tukad Balian, dan Kalimas sedangkan pembanding peka yaitu varietas TN1. Setelah 24 jam penularan dalam tabung reaksi, bibit tanaman dalam pot dan dipelihara di dalam rumah kaca Lolittungro. Pengamatan dilakukan setelah berumur 3 MST dengan mengamati tingkat keparahan gejala tungro sesuai dengan Standard Evaluation System for Rice (SESR) (IRRI, 1996). Koloni wereng hijau hasil perkembangbiakan dipergunakan untuk menguji respon koloni wereng hijau terhadap kelompok varietas tahan T0-T4 dengan melihat kelulushidupannya dari nimfa instar 2.