JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Strategi Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri

Penyakit Hawar Daun Bakteri pernah menyerang pertanaman padi di daerah Peniraman, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang mengakibatkan kerusakan cukup parah. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Kerusakan akibat penyakit ini masih menakutkani petani di daerah tersebut. Menurut para ahli, banyak faktor yang diduga sebagai pemicunya. Namun, pengendalian secara terpadu sesuai anjuran sebenarnya cukup ampuh untuk menekan perkembangan penyakit ini. Salah satu komponen pengendaliannya adalah penggunaan varietas tahan HDB seperti Inpari 1, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 31, dan Inpari 32 HDB.

Gejala penyakit hawar daun bakteri ini diawali dengan munculnya bercak kebasahan, kemudian meluas membentuk hawar berwarna hijau keabu-abuan, mulai dari ujung atau tepi daun menuju pangkal daun. Gejala ini menyebabkan daun menjadi kering. Pada varietas yang rentan, gejala menjadi sistemik dan mirip gejala terbakar. Bakteri tersebut masuk melalui hidatoda, stomata,
atau luka alami maupun luka buatan karena pengguntingan daun saat tanam berpindah. Bakteri juga dapat menginfeksi melalui pori-pori daun, melalui luka akibat gesekan daun, atau melalui luka karena serangga. Kehilangan hasil padi akibat penyakit HDB dapat mencapai 15-80% bergantung pada fase petumbuhan saat terserang. Serangan pada saat fase berbunga menyebabkan proses pengisian gabah menjadi terganggu sehingga gabah tidak terisi penuh bahkan hampa. Kondisi tersebut menyebabkan kehilangan hasil hingga 50–70%.

Varietas Tahan Hawar Daun Bakteri

Cara yang masih dianggap efektif dan banyak dilakukan oleh petani untuk mengendalikan penyakit Hawar Daun Bakteri yaitu menanam varietas unggul baru (VUB) tahan terhadap penyakit HDB. Untuk mengendaliakn penyakit ini maka BPTP Kalimantan Barat menganjurkan penanaman varietas Inpari 32 HDB yang sudah cukup dikenal luas oleh para petani di Kalimantan Barat. Varietas tersebut memiliki potensi hasil yang cukup tinggi 8,40 ton/ha, memiliki tekstur nasi sedang dan berumur genjah 120 hari setelah sebar. Kelebihan utama varietas tersebut adalah memiliki ketahanan terhadap HDB patotipe III, dan agak tahan terhadap patotipe IV dan VIII. Untuk mencegah patahnya varietas tersebut akibat patogen HDB, disarankan untuk dilakukan pergiliran varietas dengan gen tahan yang berbeda misalnya Inpari-1.

Pengelolaan Varietas Tahan

Pengendalian penyakit HDB dengan varietas tahan dapat terhambat oleh adanya kemampuan patogen untuk membentuk patotipe baru. Hal ini menyebabkan ketahanan varietas dibatasi oleh tempat dan waktu. Artinya, varietas yang tahan pada suatu musim di suatu tempat dapat menjadi rentan pada musim dan tempat yang lain. Oleh karena itu, teknik pergiliran varietas tahan perlu dirancang secara cermat, agar varietas tahan dapat berfungsi dengan baik dan dapat bertahan lebih lama di lapangan. Penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan keberadaan patotipe Xoo yang ada di suatu tempat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui struktur dan dominasi Xoo yaitu dengan pengujian patotipe bakteri Xoo pada varietas diferensial. Varietas differensial untuk mengidentifikasi patotipe Xoo diantaranya Kinmaze, Kogyoku, Tetep, Wase Aikoku, dan Java 14. Pergiliran varietas dapat dilakukan tiap musim atau beberapa musim bergantung pada keparahan penyakit HDB. Selain itu, dapat juga melakukan sistem tanam mozaik, yaitu tanam beberapa varietas padi pada suatu hamparan.

Pengendalian penyakit secara terpadu.

Dini Yuliani dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi menganjurkan pengendalian secara terapdu sebagai berikut:


  1. Varietas Tahan dan Benih Sehat Bersertifikat. Varietas tahan dengan menggunakan benih sehat dan bersertifikat dapat mencegah penyakit yang ditularkan oleh patogen melalui benih padi.
  2. Waktu Tanam dan Pola Tanam. Keparahan HDB umumnya cukup tinggi pada musim hujan. Tanam padi diusahakan setelah melewati curah hujan yang cukup tinggi. Sedangkan pola tanam padi-padi-palawija berguna untuk memutus rantai penyakit HDB.
  3. Jarak Tanam. Jarak tanam yang cukup rapat menyebabkan kelembapan tinggi dan kondusif untuk perkembangan penyakit HDB. Karena dapat terjadi gesekan antardaun yang sudah terinfeksi dengan daun yang masih sehat sehingga mempercepat terjadinya infeksi patogen. Ideal jarak tanam dibuat agak lebar sekitar 25 cm x 25 cm atau Legowo 2:1 bergantung postur tanaman yang akan ditanam.
  4. Pengairan. Hindari penggenangan air yang terlalu dalam dan terus-menerus, misal satu hari digenangi dan tiga hari dikeringkan sehingga kelembapan dapat berkurang dan oksigen dapat masuk ke lahan.
  5. Pergiliran Varietas. Patogen HDB memiliki patotipe yang cukup banyak dan mudah berubah sehingga sulit dikendalikan. Oleh karena itu, pengembangan varietas tahan harus disesuaikan dengan patotipe yang ada dan dilakukan pergiliran varietas tahan dengan latar belakang genetik ketahanan yang berbeda.
  6. Pemupukan. Aplikasi nitrogen (urea) yang berlebihan dapat mengurangi ketahanan tanaman, sebaliknya pupuk fosfor (TSP) dan kalium (KCl) dapat meningkatkan ketahanan tanaman. Pemupukan diupayakan secara lengkap dan seimbang sesuai dosis anjuran setempat.
  7. Sanitasi Lingkungan. Bakteri patogen HDB dapat bertahan hidup dalam tanah, jerami terinfeksi, singgang, gabah, dan gulma. Sangat penting untuk membersihkan bagian tanaman yang terinfeksi dan gulma sumber patogen di lahan diantara musim tanam.
  8. Pengendalian Hayati. Pengendalian penyakit secara ramah lingkungan diharapkan dapat efektif untuk menekan kehilangan hasil dengan aplikasi kombinasi agens antagonis Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis.
  9. Pengendalian Kimia. Pengendalian terakhir yaitu penggunaan senyawa kimia berupa aplikasi bakterisida saat keparahan penyakit mencapai 15–20% dengan bahan aktif oxytetracycline, streptomycin, dan chloramphenicol.

Comments powered by CComment