JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
iden

Kegiatan Demfarm Padi dalam Rangka Pendampingan Program PTT di Kabupaten Sambas

Komoditi tanaman pangan khususnya padi merupakan tanaman pokok utama yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat di Indonesia juga di Kalimantan Barat. Kebutuhan padi / beras meningkatk setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan sehingga dari sisi ketahanan pangan Nasional fungsinya menjadi amat penting dan strategis.

Sasaran produksi padi di Kalimantan Barat tahun 2014 sebesar 1.720.452 ton dengan luas tanam 512.827 Ha dan produktivitas 34,75 ku/ha dan diupayakan dapat dicapai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Berbagai upaya peningkatan produksi dan produktivitas telah dilakukan, salah satunya melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang telah terbukti mendorong peningkatan produksi padi. Tahun 2014 ini, program SL-PTT padi di Kalimantan Barat berjumlah 158.000 Ha (3.620 unit) yang tersebar  di 12 kabupaten. Untuk mendukung SL-PTT di Kalimantan Barat dan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai, maka BPTP Kalimantan Barat yang merupakan perpanjangan tangan Badan Litbang Pertanian di daerah merasa perlu untuk melakukan kegiatan pendampingan program SL-PTT yang telah ditetapkan.

 

Kabupaten Sambas merupakan salah satu kabupaten yang memiliki jumlah SL-PTT terbesar 36.000 Ha (1.440 unit) yang terdiri dari 20.000 Ha kawasan pertumbuhan dan 16.000 Ha kawasan pemantapan. Untuk mendukung SL-PTT di Kabupaten Sambas, maka dilakukan kegiatan pendampingan oleh BPTP Kalbar, salah satunya dalam bentuk demfarm padi.

PELAKSANAAN KEGIATAN DEMFARM

Kegiatan demfarm padi di Kabupaten Sambas dilaksanakan di desa Suah Api Kec. Jawai Selatan dari bulan April – Agustus 2014.

Komponen teknologi PTT yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut :

1.  Varietas Unggul Baru dan Benih bermutu

Varietas unggul baru yang digunakan adalah  Inpara 3 kelas FS dan Cibogo Kelas SS

2.  Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan Tanpa Olah Tanah (TOT), disemprot dengan herbisida pra tumbuh dan di tebas. Jerami yang telah ditebas dikembalikan ke lahan dan digunakan sebagai pupuk organik

3.  Persemaian

Persemaian dilakukan dengan semai kering yaitu semai dengan cara tugal.

4.  Penanaman

Tanam dilakukan pada saat umur bibit 16 hari setelah semai (HSS) dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo 4:1, jarak tanam 25 x 12, 5 x 50 cm. Penanaman dilakukan dengan 2 – 3 bibit/lubang.

5.  Pemupukan

Sebelum penanaman dilakukan pengambilan sampel tanah yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan rekomendasi pemupukan menggunakan PUTS. Berdasarkan hasil analisa tanah (tanah liat) dengan PUTS, diperoleh rekomendasi pemupukan  250 kg urea, 50 kg SP36 dan 100 kg KCl/ha kemudian di.  Pemupukan dasar dilakukan 7 – 10 HST dengan dosis 70 kg urea/ha, 80 kg NPK 15:15:15 dan 40 kg KCl/ha. Pemupukan susulan I dilakukan pada 25 – 28 HST dengan 40 kg NPK 15:15:15/ha dan urea berdasarkan BWD. Pemupukan susulan ke II dilakukan pada 38 – 42 HST menggunakan urea berdasarkan BWD dan 30 Kg KCl/ha.

6.  Pengendalian gulma

Pengendalian gulma di lakukan dengan menggunakan herbisida purna tumbuh dengan bahan aktif 2,4 D dimetil amina 865 gr/ltr. Jika ada gulma yang tidak mati dengan disemprot maka dilakukan penyiangan secara mekanis dan manual.

7.  Pengendalian Hama dan penyakit

Dari pengamatan hama dan penyakit pada masa vegetatif, ternyata tanaman terserang hama penggerek batang namun masih dibawah ambang kendali dan telah dilakukan pengendalian dengan insektisida berbahan aktif klorantiranilipol 100 gr/ltr + thiamethoksam 200 gr/ltr dan serangan ini dapat dikendalikan. Selain itu ada serangan tikus masih dibawah ambang kendali dan telah di kendalikan dengan rodentisida serta dilakukan pemasangan pagar plastik.

8.  Panen dan Perontokan

Panen dilakukan pada saat cuaca cerah dan pagi hari. Taman siap di panen jika 90% malai sudah menguning. Panen dilakukan menggunakan sabit sedang kan perontokan dilakukan dengan menggunakan powerthresher.

HASIL KEGIATAN

Dengan menerapkan komponen PTT secara tepat dan benar maka diperoleh hasil yang cukup memuaskan. Produktivitas padi di lokasi demfarm serta produktvitas padi eksisting di desa Suah Api dapat di lihat pada Grafik di bawah ini.

Dari Grafik di atas memperlihatkan bahwa teknologi PTT yang diterapkan dengan menggunakan varietas unggul Cibogo dan Inpara 3 dibandingkan dengan varietas lokal (Non PTT) meningkatkan produksi 2,25 t/ha sampai 3,4 t/ha. Jadi indikator kinerja VUB dibandingkan varietas lokal meningkat > 75% (SN).