JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Padi Inpara di Lahan Pasang Surut

Teknologi Budidaya Padi Inpara di Lahan Pasang Surut

 

Budidaya padi pada lahan pasang surut di Kalimantan Barat perlu memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan teknis seperpti kondisi agro-ekosistem wilayah pasang surut terutama tipe luapan dan adanya pirit.  Di beberapa lokasi seperti Desa Wajok Hilir, Wajok Hulu, Jungkat, Sungai Nipah, dan Sungai Burung di Kabupaten Pontianak umumnya didominasi lahan pasang surut dengan tipe luapan B, C, dan D.  Tanahnya bervariasi dari bergambut < 30 cm hingga sulfat masam aktual.

Pengolahan lahan

Untuk pengolahan lahan lahan pasang surut bergambut < 30 cm dapat dilakukan dengan traktor rotary (gelebeg), sedangkan untuk lahan sulfat masam potensial dengan kedalaman pirit < 30 cm dilakukan tanpa olah tanah (TOT) menghindari oksidasi pirit.

Pemberian  Bahan  Organik

Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan, kimia dan biologi tanah.  Bahan organik dapat berupa pupuk kandang, sisa tanaman, pupuk hijau dan kompos sebanyak 5 ton/ha. Jerami dikembalikan ke lahan dengan cara dibenamkan atau dalam bentuk kompos atau dijadikan pakan ternak yang kotorannya diolah menjadi pupuk kandang.

Benih

Benih yang dianjurkan pada MT Gadu adalah: (1) Varietas Inpara-1 untuk mengatasi kekeringan dan kemungkinan intrusi air asin atau (2) Varietas Inpara-2 untuk mengurangi serangan burung pipit karena memiliki daun bendera tegak.  Hasil Inpara-1 diarahkan untuk konsumsi petani karena tekstur nasinya keras dan warnanya kusam tetapi memiliki produktivitas tinggi.  Sedangkan hasil Inpara-2 dapat diarahkan untuk dijual terutama ke pasar di Pontianak karena tekstur nasinya pulen.  Pada MT Rendengan dianjurkan untuk menanam Inpara-3 atau Inpara-5 untuk mengatasi rendaman air hujan dan air pasang.  Hasil Inpara-3 diarahkan untuk pasar lokal karena berasnya ramping panjang putih jernih tekstur nasinya keras.  Sedangkan hasil Inpara-5 dapat diarahkan untuk dijual terutama ke pasar di Pontianak karena tekstur nasinya pulen seperti IR-64.

Penanaman

Penggunaan dianjurkan menggunakan bibit muda yang dipindahkan pada umur < 21 hari setelah tanam (HSS) agar tidak stres akibat pencabutan bibit dan pengangkutan dibandingkan bibit tua. Di daerah yang ada serangan keong mas, gunakan bibit yang berumur tua. Jumlah bibit 1-3 tanaman/lubang. Penanaman bibit lebih dari 3 batang / rumpun akan meningkatkan persaingan antar bibit dalam rumpun. Penanaman dianjurkan dengan cara Jajar Legowo untuk meningkatkan populasi tanaman dan mengurangi hama keong mas, tikus serta keracunan besi.  Jajar Legowo adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua baris (Legowo 2:1) atau empat baris (Legowo 4:1) dan tanaman dalam barisan dirapatkan. Jarak tanamnya 20 x 10 x 40 cm atau 25 x 12,5 x 50 cm.

Pemupukan

Kebutuhan pupuk ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).  Untuk Desa Wajok Hilir, Wajok Hulu, Jungkat, Sungai Nipah, Sungai Burung, Peniraman, Nusapati, dan Bakau Besar Laut di Kabupaten Pontianak direkomendasikan dosis pupuk urea 200 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, KCl 50 kg dan kompos jerami 5 ton/ha.  Untuk memperoleh hasil optimal kebutuhan pupuk N tanaman diketahui dengan mengukur tingkat kehijauan daun menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) yang digunakan pada pemupukan ke 2 umur 25 – 28 HST dan pemupukan ke 3 umur 38 – 42 HST. Jika skor pada BWD nilainya 2-3 maka perlu dipupuk 75 kg urea/ha, jika nilainya antara 3 – 4 maka perlu dipupuk 50 kg/ha.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman

Lakukanlah pengamatan OPT sejak dari persemaian sampai di pertanaman. Pengendalian dilakukan setelah serangan mencapai ambang ekonomi. Taktik dan teknik pengendalian : 1) Usahakan tanaman selalu sehat , 2) Gunakan varietas tahan, 3) Terapkan pengendalian hayati, biopestisida, atau pestisida kimia sesuai anjuran.  Hama Utama : tikus sawah, wereng coklat, penggerek batang padi, dan keong mas.  Pada MT Rendengan 2010 juga ditemukan serangan hama kepik hitam di daerah Anjungan, Kecurit, dan sekitarnya sehingga perlu diwaspadai karena menyebabkan rasa nasi menjadi pahit. Penyakit utama : tungro dan hawar daun bakteri. Pengendalian tikus dianjurkan dengan sistim Trap Barrier System (TBS).

Penyiangan

Lakukan penyiangan gulma pertama kali kurang dari 21 hari setelah tanam (HST) dan setelah itu dilihat dari banyaknya gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara mekanis misalnya menggunakan mesin penyiang (power weeder) bila kondisi memungkinkan atau secara manual dengan tangan. Bila kurang tenaga kerja dapat digunakan herbisida sesuai anjuran.

Panen.

Tanaman dipanen jika sebagian besar gabah (90 – 95%) telah bernas dan berwarna kuning.  Panen dianjurkan menggunakan arit bergerigi untuk menggantikan ani-ani agar lebih cepat.  Jika tenaga kerja terbatas maka panen juga dapat dilakukan menggunakan mesin panen (mower).  Jika menanam varietas Inpara-3 sebaiknya jangan dipanen dengan mower karena gabahnya mudah rontok.  Setelah dipanen segera secepatnya dilakukan perontokan menggunakan gebod, pampung, atau power thresher untuk menghindari gabah menjadi hitam.