JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Inovasi Budidaya Seledri di Lahan Gambut

Kebakaran lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Barat pernah memicu kebakaran lahan gambut yang menyebabkan kabut asap dan merusak lingkungan. Kebakaran ini tidak hanya menghasilkan dampak negative bagi kesehatan masyarakat berupa meningkatnya penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) atau kerugian ekonomi karena terganggunya penerbangan tetapi juga telah mengganggu kenyamanan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Berawal dari kondisi ini maka Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat menggandeng petani champion untuk membuat percontohan usahatani sayuran di lahan gambut agar mudah dikunjungi petani lain. Lokasinya di Sungai Selamat, Siantan Hilir, Pontianak. Inovasi teknologinya bertumpu pada penggunaan ameliorant untuk memperbaiki kondisi lahan gambut dan pupuk organic kotoran ayam karena diarahkan pada pertanian organic untuk menekan penggunaan sarana produksi pertanian kimiawi. Ameliorant yang digunakan berupa abu bakar dari bahan limbah pertanian yang dibakar secara terkendali di dalam pondok abu sehingga tidak memicu kebakaran lahan gambut. Sedangkan penggunaan pupuk organic dari kotoran ayam tidak hanya untuk memenuhi seluruh kebutuhan unsur hara makro dan mikro tetapi sekaligus melindungi petani dan konsumen dari residu bahan kimia yang berasal dari pupuk dan obat-obatan.
Praktek pengelolaan gambut ini telah membuka mata para diplomat dari puluhan negara yang menjadi tamu undangan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-37 tahun 2017 bahwa Indonesia memiliki indigenous technology untuk mengelola gambut. Inovasi teknologi ini tidak hanya mampu mengubah lahan gambut terdegradasi menjadi lahan pertanian yang produktif tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan bagi petaninya. Petani yang hanya mengelola 0,25-0,50 per keluarga sudah mampu memperoleh penerimaan usahatani diatas Upah Minimum Regional. Sebagai gambaran adalah petani lahan gambut yang mengembangkan tanaman celery atau seledri dengan bedengan ukuran 1,8x12 meter sebanyak 40 bedengan hanya memerlukan lahan sekitar 1.000 m2 saja. Seledri ini dapat dipanen setiap minggu sehingga si petani dapat memanen sekitar 5-6 bedengan/hari. Produktivitasnya sekitar 10 kg seledri/bedengan sehingga si petani dapat menghasilkan 50-60 kg seledri per hari. Umumnya petani sudah memiliki contract farming dengan pedagang pengumpul yang disebut agen. Mereka menampung dengan flat price yaitu Rp.25.000/kg. Jadi penerimaan kotor antara Rp.1,25-1,50 juta/hari. Input utamanya per hari berupa abu bakar 5 karung, pupuk organic dari kotoran ayam 5 karung, dan limbah ikan asin kering 10 kg ditambah upah panen dengan total biaya < Rp.600.000/hari. Jadi petani masih dapat mengantongi keutungan bersih antara Rp.650.000-900.000 per hari. Untuk menjaga kerusakan tanaman biasanya petani tidak melimpahkan pekerjaan panen seledri kepada tenaga kerjanya tetapi dipanen sendiri oleh petani. Sebab panennya harus dilakukan dengan memotong pelepah daun seledri satu persatu untuk menghindari kerusakan tanamannya.
Yang membuat para diplomat takjub adalah dengan menggabungkan komponen inovasi teknologi berupa penggunaan ameliorant, pupuk organic, pengontrolan water level dengan pembuatan sumur dan pengelolaan parit, terbukti para petani mampu menekan subsidence rate hanya sekitar 5 cm per tahun. Bahkan gambut dalam yang sudah dikelola lebih dari 15 tahun hanya turun kurang dari 1 meter sehingga gambut dalam 6-7 meter berpotensi dapat dikelola untuk pertanian selama lebih dari satu abad. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan lahan gambut tanpa bakar yang utamanya mengandalkan local wisdom terbukti mampu menciptakan pengelolaan lahan gambut terdegradasi menjadi lahan gambut yang produktif, ramah terhadap lingkungan, tetapi sustainable.

(Penulis : Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc, BPTP Kalimantan Barat)

Comments powered by CComment