JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
iden

Teknik Pengolahan Bio-Urine Sapi Dengan Sistem Kolam

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menjadikan Kecamatan Sungai Kakap, sebagai penyangga (buffer) produksi beras bagi Kota Pontianak. Luasan awalnya sekitar 12.000 hektar dengan mengembangkan tanaman padi pada agro-ekosistem pasang surut. Varietas padi yang dikembangkan terutama Ciherang. Salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman padi di wilayah ini adalah pengggunaan pupuk yang belum optimal baik aplikasi pupuk makro seperti NPK Phonska, urea, SP-36, dan KCl maupun penggunaan pupuk mikro, hormon, dan pupuk hayati. Untuk mendukung upaya meningkatkan produktivitas padi maka pemerintah membantu memperbaiki lantai kandang sapi dari bahan kayu menjadi lantai semen. Perbaikan kandang ini memnungkinkan petani mengumpulkan urine sapi sebagai bahan dasar pembuatan pupuk.
Peningkatan nilai tambah dilakukan dengan mengolah limbah ternak sapi berupa urine sapi menjadi pupuk organik cair (POC) yang diberi nama "Bio-Urine". Menurut Sudana (2014) aplikasi "Bio-Urine" pada tanaman padi tidak hanya diarahkan sebagai pupuk organik cair guna membantu meningkatakan produktivias padi tetapi juga diperkirakan mampu berperan sebagai pengusir hama tikus (rodent repellent) karena aromanya yang menyengat. Hal ini membuka peluang bagi para penyuluh pertanian untuk melakukan kajiterap aplikasi "Bio-Urine" baik sebagai pupuk organik cair maupun sebagai pengusir hama tikus yang menjadi salah satu hama utama tanaman padi terutama pada lahan sawah pasang surut.
Teknologi ini merupakan salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprio Guntoro dari BPTP Bali. Selain diujicoba di Kelompoktani Karya Mulya, Desa Jungkat, Kabupaten Mempawah, mulai tahun 2014 juga diujicoba di Kelompoktani "Usaha Bersama", Parit Madiun, Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
PRINSIP PENGOLAHAN
Prinsip utama pengolahan urine (sapi, kambing, kelinci) adalah mengumpulkan urine ternak dalam suatu wadah dengan volume tertentu lalu ditambahkan bakteri sebagai fermentor untuk menguraikan urine ternak menjadi pupuk organik cair lalu diaerasi selama 3-4 jam. Selanjutnya dilakukan proses fermentasi dengan cara menutup wadah penampung urine dan mendiamkan selama 7 hari. Pada hari ke-8 dilakukan aerasi kembali selama 6-7 jam untuk membuang gas amoniak. Bakteri yang dapat digunakan antara lain adalah Azotobacter sp dan Rumino bacillus. Bakteri Azotobacter sp selain berfungsi dalam proses fermentasi juga memiliki kemampuan mengikat nitrogen dari udara sehingga kadar N akan meningkat. Sedangkan bakteri Rumino bacillus selain membantu proses fermentasi juga berperan dalam meningkatkan kadar Kalium (unsur K) maupun C-organik. Sayangnya belum ada penelitian untuk menambahkan bakteri yang mampu melarutkan pupuk P agar pupuk organik cair ini memiliki kandungan unsur N, P, K, dan C-organik yang seimbang. Para penyuluh pertanian yang ingin memperoleh fermentor berupa bakteri Azotobacter sp dan Rumino bacillus dapat menghubungi produsen yaitu Ir. Suprio Guntoro, MSi di nomor 08123812319. Harga fermentor sekitar Rp.35.000/liter di luar ongkos kirim.
KAJITERAP
Kajiterap pengolahan Bio-Urine sapi dilakukan di Kelompoktani "Karya Mulya", Parit Latong, Desa Jungkat, Kab. Mempawah. Ujicoba dilakukan dengan membuat saluran limbah cair ternak sapi (urine) pada kandang yang ada. Urine dialirkan dan ditampung pada kolam dengan kapasitas tampung 1.600 liter urine sapi. Contoh kolam penampungan ini sebagai berikut:
Kolam penampung dilengkapi dengan pompa air. Pompa air yang digunakan pada kajiterap ini adalah pompa air yang biasa digunakan pada akuarium. Pompa ini dapat digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam air kolam yang mampu memompa dan mengalirkan air setinggi 2 meter. Pedagang ikan hias di Pasar PSP, Pontianak, menjual dengan harga sekitar Rp.250.000/unit.
Proses aerasi dilakukan dengan sistim air terjun (waterfall) yang dibuat dengan tangga dari semen. Fasilitas aerasi ini juga dapat dibuat dari papan dilapisi karpet plastik.
Secara keseluruhan fasilitas pengolahan BioUrine sapi ini sebagai berikut:

PROSES PENGOLAHAN
1. Tampung urine sapi hingga volume mencapai 800 liter.
2. Tambahkan fermentor bakteri Azotobacter sp 1 liter ke kolam penampung.
3. Tambahkan fermentor bakteri Rumino bacillus 1 liter ke kolam penampung.
4. Hidupkan mesin pompa air untuk memompa urine sapi naik ke sistim aerasi waterfall selama 24 jam.
5. Tutup kolam dengan plastik atau tripleks dan diamkan selama 7 hari untuk proses fermentasi.
6. Hari ke-8 BioUrine siap digunakan. Caranya encerkan 1 liter BioUrine dengan 10 liter air. Semprotkan melalui bagian bawah daun.