JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Budidaya Bawang Merah di Lahan Gambut

Budidaya Bawang Merah di Lahan Gambut

Oleh : Muhammad Syahri Mubarok, SST    

 

Budidaya bawang merah di lahan gambut mampu menghasilkan provitas sebanyak 12-14 ton/ha bawang kering panen. Produksi ini tentunya sangat luar biasa, karena bisa setara dengan hasil budidaya bawang merah yang dilakukan di lahan konvensional. Para peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat, telah melakukan beberapa kali pengkajian terkait budidaya bawang merah di lahan gambut yang ternyata mampu untuk memberikan hasil produksi yang tinggi. Pengkajian itu telah dilakukan dibeberapa Kabupaten di Kalimantan Barat diantaranya, di Kabupaten Mempawah, Kuburaya, Bengkayang dan Kota Pontianak. Walaupun memiliki perbedaan produksi hasil pengkajian di masing-masing daerah tersebut, namun hal tersebut menunjukkan bahwa budidaya bawang merah di lahan gambut berpontensi untuk memperoleh hasil yang tinggi.

Indonesia merupakan negara keempat dengan hamparan lahan gambut terluas di dunia. Sebagian besar lahan gambut tersebut tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua dengan total luasan sekitar 14.905.574 ha. Luasnya hamparan lahan gambut di Indonesia ini tentunya merupakan potensi yang sangat luar biasa untuk memperbanyak luasan tanam bawang merah di lahan gambut. Namun, pengembangan tanaman bawang merah di lahan gambut relatif kurang. Sehingga kebutuhan akan komoditi ini untuk daerah-daerah yang mempunyai lahan gambut luas masih harus didatangkan dari luar pulau, terutama pulau jawa. Melihat potensi wilayah Indonesia yang mempunyai banyak lahan gambut, maka komoditas ini sangat memungkinkan untuk diadaptasikan pada agroekosistem lahan gambut.

Budidaya bawang merah secara luas di Lahan Gambut masih belum banyak dilakukan. Salah satu penyebabnya yaitu pengetahuan petani yang masih sangat minim. Hal ini menyebabkan pasokan bawang merah sangat tergantung dengan ada atau tidaknya ketersediaan bawang merah dari pulau Jawa. Hal ini menyebabkan harga jualnya menjadi relatif tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya budidaya secara luas untuk mengatasi ketersediaan bawang merah di Lahan Gambut baik secara intensifikasi maupun ektensifikasi.

Petani di Kalimantan Barat dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi lahan gambut yang ada untuk budidaya bawang merah, sehingga produksi bawang merah nantinya tidak hanya terpusat di pulau Jawa. Masih sedikitnya petani yang memanfaatkan dan mengoptimalkan lahan gambut untuk bertanam bawang merah, serta terbatasnya pengetahuan petani dalam budidaya bawang merah. Hal ini menyebabkan potensi lahan gambut yang ada belum dapat teroptimalkan dengan baik pemanfaatannya untuk budidaya bawang merah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menyebarluaskan dan memberikan pemahaman kepada para petani terkait teknik budidaya bawang merah di lahan gambut yang baik dan benar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sukses dalam budidaya bawang merah adalah waktu tanam yang tepat, pemilihan bibit, pengolahan tanah dan teknik menanam, penyiraman dan penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit, serta penangan panen dan pascapanen yang baik.

Waktu Tanam

Waktu yang ideal untuk menanam bawang merah di lahan gambut adalah pada awal-awal musim kemarau. Hal ini dikarena pertumbuhan tanaman sangat membutuhkan air dan tidak tahan dalam kekeringan. Oleh karena itu, areal lahan yang akan ditanami bawang merah harus dilengkapi dengan sistem pengelolaan irigasi dan drainase yang baik. Penanaman bawang merah sebaiknya ketika cuaca cerah. Menanam bawang merah saat perubahan iklim dan cuaca berkabut menyebabkan rugi. Perubahan iklim mengembuskan angin kering yang menyebabkan ujung daun terbakar dan rusak. Cuaca berkabut meningkatkan kelembapan dan mempercepat pertumbuhan cendawan. Petani bawang merah menggunakan umbi disimpan selama 2—3 bulan.

Bibit Bermutu

Dalam menanam bawang merah sebaiknya gunakanlah bibit bawang merah yang baik dan sehat. Ditandai dengan ciri, bentuk umbi yang seragam, serta permukaan kulitnya tidak ada luka dan telah cukup umur masa simpan yaitu 2-3 bulan setelah panen (tanda bibit bawang telah cukup masa simpan dapat dilihat dengan cara membelah umbi bawang, apabila terlihat ada bakal tunas berwarna semu hijau atau kuning berarti bibit bawang tersebut telah cukup umur masa simpannya)

gambar 1. Bibit Bermutu

Pengolahan Lahan dan Cara Tanam

Untuk pengolahan lahan, lakukan pengolahan lahan 1-2 minggu sebelum waktu tanam. Lahan diluku dan digaru lalu dibiarkan selama 1 minggu. Kemudian buat bedengan dengan lebar 100-150 cm, tinggi bedengan 20-40 cm, jarak antar bedengan 40-50 cm dan panjang bedengan menyesuaikan dengan kondisi lahan. Bedengan yang telah siap dibuat selanjutnya dihaluskan dan diratakan, sehingga bedengan siap ditanami.

 

gambar 2. Proses Pengolahan Lahan dan Cara Tanam

Penanaman bawang merah sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari dengan kondisi cuaca cerah. Cara tanam yaitu dengan membenamkan ¾ bagian umbi kedalam tanah, jangan sampai tertutup tanah ujung umbinya. Jika usia simpan bibit belum sampai 2 bulan lebih, maka cara tanamnya dengan memotong 1/3 bagian ujung umbinya dan dibiarkan/kering anginkan selama semalam, baru setelah itu lakukan penanaman seperti hal diatas. Dalam budidaya bawang merah jarak tanam tergantung dari jenis varietas bawang merah yang digunakan serta musim tanamnya. Pada musim kemarau bisa menggunakan jarak tanam 15x15 cm atau 20x15 cm, sedangkan untuk musim hujan bisa menggunakan jarak tanam 20x10 cm atau 25x10 cm.

Penyiraman dan Penyiangan Gulma

Penyiraman bawang merah pada fase awal pertumbuhan (0-20 hst), pada awal masa pertumbuhan tanaman bawang merah sangat memerlukan air, lakukan penyiraman setiap hari minimal sehari 1 kali pada waktu pagi atau sore hari. Pada fase vegetatif (21-35 hst) penyiraman bawang merah cukup dilakukan 2-3 kali per minggu, atau tergantung kondisi tanaman. Fase pembentukan umbi (36-50 hst) tanaman bawang merah sangat memerlukan air, lakukan penyiraman setiap hari minimal sehari 1 kali pada waktu pagi atau sore hari. Di fase akhir fase pematangan umbi (51-60 hst) tanaman bawang merah sudah tidak memerlukan air dalam jumlah banyak, cukup dilakukan 2-3 kali per minggu.

 

gambar 3. Proses Penyiangan Gulma di usia 15-20 hst dan 35-40 hst

Selama masa pertumbuhan bawang merah, penyiangan gulma cukup dilakukan sebanyak 2 kali pada usia 15-20 hst dan usia 35-40 hst atau sebelum melakukan pemupukan susulan ke-1 dan ke-2. Penyiangan dengan tangan atau alat-alat lain harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman bawang merah. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu waktu.

Pemupukan

Pemberian pupuk dalam budidaya bawang dilakukan sebanyak 3 kali diantaranya pemupukan dasar, pemupukan susulan ke-1 dan pemupukan susulan ke-2. Pemupukan dasar diberikan bersamaan dengan olah tanah, pupuk yang diberikan yaitu berupa dolomit/kapur sebanyak 1,5-2 ton/ha, pupuk kandang 6-8 ton/ha, pupuk NPK 200 kg/ha, dan pupuk TSP/SP-36 sebanyak 150 kg/ha. Pemupukan susulan pertama dilakukan pada usia 20 hst atau setelah melakukan penyiangan gulma. Adapun pupuk yang diberikan yaitu NPK 200 kg/ha dan KCL 100 kg/ha. Sedangkan untuk pemupukan susulan kedua dilakukan pada usia 40 hst atau setelah melakukan penyiangan gulma. Pupuk yang diberikan yaitu NPK 100 kg/ha dan KCL 100 kg/ha. Cara aplikasinya kedua pupuk tersebut dicampur kemudian taburkan secara merata pada larikan tanaman yang telah dibuat kemudian tutup kembali.

 

gambar 4. Proses Pemupukan Dasar dan Pemupukan Susulan

Pengendalian Hama dan Penyakit

Dalam budidaya bawang merah di lahan gambut banyak jenis serangan hama dan penyakitnya. Namun hama penyakit yang paling sering menyerang adalah hama ulat dan penyakit layu fusarium. Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini dapat diatasi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos atau bayrusil 250 EC atau Azodrin 15 WSC. Dosis : 2 ml/1 air. Sedangkan penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin atau menggulung. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa dilakukan dengan menggunakan fungsida yang berbahan aktif Difolatan 4F. Untuk penjagaan diawal masa pertumbuhan cukup lakukan pengendalian dengan melakukan penyemprotan fungisida atau insektisida sebanyak 2-3 kali atau 7 hari sekali. Lakukan pengendalian dengan melakukan penyemprotan fungisida atau insektisida setiap 4-5 hari sekali atau tergantung kondisi tanaman. pada masa pembentukan umbi pengamatan hama penyakit juga perlu dilakukan secara intensif dan rutin, sama seperti pada masa vegetatif.

 

gambar 5. Proses Pengendalian Hama dan Penyakit

Proses Panen dan Pascapanen

Pemanenan dilakukan setelah tanaman bawang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 80 % daun rebah, warna daun menguning dan leher batang lemah atau rebah, umbi bawang tampak menonjol ke permukaan tanah dan telah mengeluarkan/tercium aroma khas bawang. Hal ini biasanya terjadi pada saat tanaman bawang merah berumur 55-65 hst, atau tergantung varietas dan daerah penanamannya. Khusus untuk bawang merah yang akan digunakan untuk menjadi bibit, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%. Waktu pemanenan bawang merah sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari dengan kondisi cuaca cerah. Lakukan pemanenan bawang merah dengan cara hati-hati yaitu dengan mencabut umbi beserta daun-daunnya dari dalam tanah, prioritaskan terlebih dahulu bawang merah yang masih ada daunya. Selanjutnya lakukan pengikatan pada bagian ujung daunnya, besarnya ikatan sebanyak 1 genggam tangan atau tiap 10 rumpun bawang. Bawang merah yang telah selesai dipanen kemudian dilakukan penjemuran dengan menggunakan para-para/anyaman bambu. Penjemuran pertama dilakukan selama kurang lebih 5 hari dengan bagian daun menghadap keatas (lamanya penjemuran sekitar 2-3 jam setiap harinya), penjemuran kedua dilakukan selama kurang lebih 2 hari dengan membolak-balikan bagian umbinya (lamanya penjemuran sekitar 2-3 jam setiap harinya). Penjemuran dianggap cukup apabila kulit paling luar umbi sudah mengelupas dan kondisi daun kering lembut tidak kaku.

   

gambar 6. Proses Penanganan Panen dan Pascapanen