JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengendalian Penyakit Blas Pada Tanaman Padi

Komoditi tanaman pangan terutama padi yang merupakan sumber utama makanan pokok memegang peranan penting dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Dalam usahatani padi, organisme pengganggu tanaman (OPT) selalu menjadi  faktor  pembatas  potensi  hasil yang diharapkan.  Salah satu  OPT   yang mempengaruhi produksi padi di Kalimantan Barat adalah penyakit blas. Berdasarkan data dari UPTPH Prov. Kalbar (2015) pada kurun musim tanam MK 2014 - MH 2015 terdapat serangan penyakit blas di Kalimantan Barat seluas 2.506 ha. Hal inilah sebagai salah satu penyebab rendahnya produksi padi di Kalimantan Barat.

Penyakit blas merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea pada seluruh bagian tanaman padi, baik itu padi sawah, padi gogo maupun padi pasang surut. Penyakit blas ini jika menyerang daun disebut blas daun dan jika menyerang leher malai disebut blas leher (neck blast). Gejala serangan penyakit blas daun ditandai dengan munculnya bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan ujung runcing pada daun dan pelepah daun. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Kehilangan hasil akibat penyakit blas dapat mencapai 50% bahkan bisa gagal panen jika penanganannya tidak cepat dan tepat.

Selama ini, sebagian besar varietas padi yang digunakan oleh petani adalah varietas Ciherang yang sudah rentan terhadap ras penyakit blas yang ada. Selain itu, penggunaan suatu varietas yang terus menerus dalam kurun waktu yang cukup lama juga turut mematahkan ketahanan suatu varietas terhadap penyakit tertentu. Hal itu jugalan yang menjadi kebiasaan petani di Kalimantan Barat, dimana kalau sudah menyenangi suatu varietas unggul tertentu, maka varietas tersebut akan dipakai terus menerus. Inilah yang terjadi pada varietas Inpara 1 dan Inpara 3 di lahan pasang surut beberapa Kabupaten di Kalimantan Barat, dimana varietas ini berdasarkan deskripsi varietas, tahan terhadap penyait blas namun karena ditanam terus menerus mengakibatkan varietas ini patah juga ketahanannya terhadap ras blas yang ada. Penerapan teknik budidaya  yang kurang tepat terkait penggunaan dosis pupuk yang belum berimbang terutama penggunaan dosis urea serta aplikasi fungisida yang tidak sesuai anjuran turut menyebabkan tanaman rentan terhadap penyakit blas. Upaya pengendalian penyakit blas dapat dilakukan dengan mengintroduksikan  varietas unggul baru (VUB) yang mempunyai ketahanan terhadap penyakit blas seperti Situ Patenggang, Batutegi, Inpari 39, Inpago 8, Inpara 6 serta penerapan teknologi budidaya yang tepat terkait penggunaan dosis pupuk yang berimbang melalui  perangkat uji tanah sawah (PUTS), perangkat uji tanah rawa (PUTR) atau perangkat uji tanah kering (PUTK) untuk menentukan pupuk P dan K dan BWD untuk menentukan pupuk N serta penggunaan fungsida yang sesuai anjuran.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat pada tahun 2016 telah melaksanakan kajian paket teknologi pengendalian penyakit blas yang dilaksanakan di lahan tadah hujan Kabupaten Mempawah pada Musim Kemarau 2016. Berdasakan Hasil kajian dari Subekti (2016) diperoleh 2 paket teknologi yang dapat mengendalikan penyakit blas yaitu paket I yang masih menginginkan menggunakan varietas Ciherang dengan komponen teknologi dosis pemupukan berdasarkan PUTS dan BWD serta penggunaan fungisida dan paket II dengan menggunakan varietas unggul yang tahan blas (Situ Patenggang) dengan komponen teknologi dosis pemupukan berdasarkan PUTS dan BWD serta pelakuan benih dengan fungisida. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

 

Dengan diperolehnya paket teknologi pengendalian penyakit blas ini, diharapkan dapat menjadi acuan bagi para petani dalam mengendalian blas. Petani dapat memilih diantara dua paket teknologi ini mana yang dapat diterapkan disesuaikan dengan kondisi spesifik dan sosial budaya di masing-masing lokasi.  Namun demikian, perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas diharapkan suatu varietas jangan digunakan terus menerus karena dikhawatirkan ketahanannya akan patah. Untuk itu perlu dilakukan pergiliran varietas yang tahan blas agar dapat memperlambat terjadinya ras baru patogen dan patahnya ketahanan suatu varietas (Sari Nurita).

 

Sumber:

Pusat Penelitian dan pengembangan Tanaman Pangan dan Iinternational Rice Research Institute, 2011., Masalah Lapang Hama, Penyakit, dan Hara, Pada Padi. Puslitbangtan, Bogor

Subekti, A. 2016. Laporan Hasil Pengkajian Paket Teknologi Pengendalian  Penyakit Blas  Pada Tanaman Padi Di Lahan Tadah Hujan  Kalimantan Barat. BPTP Kalimantan Barat.

Unit Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, 2015, Laporan Keadaan Serangan OPT. UPTPH. Pontianak.