JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Panen Kedelai di Lahan Pasang Surut di Kab. Sambas

Dalam rangka mendukung program strategis Kementrian Pertanian untuk pencapaian sasaran produksi 7 (tujuh) Komoditas utama salah satunya kedelai  maka perlu adanya pengembangan sentra-sentra produksi yang baru di lahan-lahan sub optimal seperti lahan pasang surut. Pengembangan usaha produksi kedelai  dilakukan melalui pengembangan dan perluasan areal sentra untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dalam jangka panjang untuk memenuhi ekspor.  Upaya peningkatan produksi kedelai untuk mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional menghadapi beberapa tantangan seperti: kekeringan, degradasi lahan, terbatasnya lahan subur, hama dan penyakit serta terbatasnya kemampuan genetik varietas yang ada untuk produksi lebih tinggi. 

Lahan pasang surut merupakan salah satu lahan marginal yang dijumpai sangat luas di Kalimantan Barat. Luas lahan pasang surut dan lebak sekitar 2.803.744 ha (18,32%) dari luas propinsi Kalimantan Barat, dan lahan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Keadaan lahan pasang surut pada umumnya mempunyai keragaman biofisik yang sangat tinggi, dan oleh karena itu penggunaannya harus benar-benar berlandaskan pada kesesuaian lahan atau tipologinya. Kendala yang sering dihadapi di lahan pasang surut antara lain pH rendah, salinitas tinggi, kahat unsur hara makro (N, P, K, Ca dan Mg ) maupun  mikro (Cu), drainase jelek, serangan hama dan penyakit yang lebih tinggi. Pengembangan lahan pasang surut merupakan alternatif pilihan yang sangat strategis untuk mengatasi tantangan peningkatan produksi dan alih fungsi lahan-lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Lahan pasang surut mempunyai prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian untuk tanaman kedelai terutama dalam kaitannya dengan pelestarian swasembada pangan, peningkatan produksi, peningkatan pendapatan petani dan lapangan kerja serta pengembangan agribisnis.

Produksi Kedelai di Kalimantan Barat pada Tahun 2013 sebesar  1.677 Ton mengalami peningkatan menjadi 3.161 Ton pada Tahun 2014, dengan luas panen sebesar  2.026 Ha atau 823 Ha lebih luas dari tahun sebelumnya. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri, pemerintah mencanangkan program swasembada kedelai pada tahun 2014. Untuk memacu tercapainya program tersebut, perlu dilakukan berbagai terobosan baik melalui perluasan areal ke lahan-lahan berpotensi, intensifikasi pertanaman yang ada dan kebijakan khusus untuk memacu produksi kedelai (crass program kedelai).

Kedelai pada dasarnya dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah termasuk di lahan rawa, baik lahan pasang surut maupun lahan lebak. Tetapi agar tanaman kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik diperlukan persyaratan tumbuh tertentu. Kedelai tergolong tanaman yang tidak tahan terhadap kemasaman tanah tinggi dan genangan. Oleh karena itu syarat utama agar kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik diperlukan lahan dengan tingkat kemasaman tanah sedang (pH >4,5), kandungan C-organik rendah, N-total sedang, P2O5 tinggi, K2O sedang dan kejenuhan Al < 20% serta tidak terjadi genangan air. Untuk itu diperlukan rekomendasi teknologi yang mantap agar produksi kedelai dapat meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan petani dan peningkatan kesejahteraannya.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat telah melakukan kegiatan Kajian SUT Kedelai di Lahan Pasang Surut. Adapun lokasi pengkajian SUT Kedelai  dilaksanakan di Desa Simpang Empat, Kec. Tangaran, Kab. Sambas, Pengkajian SUT ini  berskala agribisnis  dengan melibatkan 2  kelompok tani  dengan hamparan seluas   10 ha. Waktu pelaksanaan pada musim kemarau (April – Juli 2017). Adapun Varietas yang digunakan adalah Grobogan dan Anjasmoro. Rekomendasi pemupukan berdasarkan dosis yang telah dianjurkan yaitu 150 kg/ha NPK, 50 kg/ha SP, dan 50 kg/ha KCl.

 Pada akhir kegiatan telah dilaksanakan Acara Temu Lapang dan Panen tanaman kedelai  di lokasi demplot di Desa Simpang Empat, Kec. Tangaran, Kab. Sambas.  Temu Lapang dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari: Bupati Sambas,  Kelompok tani,  Dinas Pertanian, BP3K  Kecamatan Tangaran, Kapolsek, Dandim dan para pemangku kebijakan di Desa Simpang Empat. Pada Temu lapang tersebut dilakukan dialog antara Bupati, petani dan  instansi terkait mengenai kendala pengembangan kedelai  di lapangan

Berdasarkan hasil panen dilapangan untuk Varietas Grobogan yang dilakukan secara ubinan diperoleh hasil sebesar 3.42 ton/ha, sedangkan Anjasmoro sebesar 2,4 ton/ha. Penanganan pasca panen dilakukan dengan melakukan penjemuran kedelai yang telah dipanen. Adapun lama penjemuran dilakukan selama 3 hari apabila panas mataharinya maksimal. Susut kedelai selama penjemuran rata-rata bisa mencapai 12,5 %. Selain itu juga dilakukan pembersihan biji kedelai yang telah dijemur dari sisa-sisa berangkasan dan kotoran yang terikut pada saat panen. Setelah kedelai dibersihkan kemudian dilakukan pengambilan sampel oleh BPSB yang kemudian dilakukan pelabelan dan pemberian sertifikat pada benih yang dinilai layak untuk dibudidayakan kembali. Untuk kedelai yang akan digunakan untuk benih dilakukan packing di dalam plastik yang berukuran 5 kg yang kemudian didistribusikan di Kecamatan lain yang akan melakukan penanaman kedelai di musim mendatang. Pengkajian ini akan berlanjut pada tahun berikutnya dengan skala yang lebih luas.