JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
iden

Tumpangsari Jagung- Kedele Di Perbatasan Kalbar-Malaysia

Upaya meningkatkan produksi kedelai di Kalimantan Barat dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui 1) Peningkatan produktivitas, 2) Peningkatan intensitas tanam dan 3) Perluasan areal tanam. BPTP Kalimantan Barat melakukan upaya peningkatan produktivitas kedelai melalui introduksi varietas yang cocok seperti Anjasmoro, perbaikan teknik budidaya melalui tumpangsari Jagung-Kedele secara intensif dan menekan kehilangan hasil melalui perbaikan sistem panen dan pasca panen. Paket teknologi ini sedang diujicoba di Desa Santaban, Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.


Perluasan areal ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan suboptimal (marjinal) yang potensi luasannya sangat besar. Salah satunya adalah dengan melakukan introduksi budidaya kedele di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia seperti yang dilakukan di Sajoingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tujuannya agar petani mampu memproduksi kedelai sebagai sumber protein di lokasi yang jauhnya mencapai 300 km dari pusat Kota Pontianak. Teknologi budidaya kedelai pada lahan ini belum pernah dilakukan sehingga perlu diseminasi intensif agar Inovasi Teknologi Badan Litbang pertanian dapat diterapkan secara luas oleh petani. Untuk tanah-tanah yang tergolong masam, Badan Litbang Pertanian pada tahun 2001-2003 telah melepas varietas unggul kedelai yang adaptif di lahan kering masam di Sumatera dan Kalimantan, yaitu Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, dan Seulawah yang memiliki potensi hasil lebih dari 2 t/ha. Tetapi pada ujicoba kali ini dilakukan menggunakan varietas Anjasmoro yang berbiji besar sesuai dengan permintaan pasar.
Upaya peningkatan produktivitas ini dilakukan dengan perbaikan kondisi lahan dengan ameliorasi, pemupukan berimbang dan terpadu, penggunaan varietas unggul dan perbaikan tata air. Alternatif teknologi ameliorasi dan pemupukan telah tersedia namun disesuaikan dengan kondisi lahan di Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mengingat adanya variasi potensi kesesuaian lahannya.
Potensi pengembangan tanaman kedelai diarahkan ke lahan lahan yang sesuai untuk tanaman ini seperti lahan sawah, tegalan dan lahan alang-alang. Lahan perkebunan dan kebun campuran tidak menjadi target pengembangan karena tidak memungkinkan untuk dikonversi. Jadi ujicoba budidaya kedelai ini dilakukan pada musim kemarau di lahan sawah tadah hujan..
Berdasarkan kelas kesesuaian lahannya, lahan sawah dibedakan menjadi lahan sawah berpotensi tinggi, sedang dan rendah. Lahan sawah yang berpotensi tinggi adalah lahan yang memiliki kelas kesesuaian lahan S1 untuk kedelai. Lahan ini tergolong tidak memiliki kendala berarti untuk budidaya kedelai. Sawah yang berpotensi sedang adalah lahan sawah yang memiliki kelas kesesuaian lahan S2 untuk kedelai. Sedangkan sawah berpotensi rendah adalah lahan yang mempunyai kelas kesesuaian S3.
Pada lahan sawah, kedelai bisa ditanam setelah tanaman padi pada pola tanam padi-padi-palawija atau padi-palawija-palawija. Dosis pemupukan NPK spesifik lokasi ditetapkan berdasarkan hasil uji tanah di laboratorium atau uji cepat menggunakan PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah). Namun untuk kepentingan perencanaan di tingkat Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, rekomendasi pemupukan ditetapkan berdasarkan kesesuaian lahan untuk kedelai atau potensinya. Berdasarkan hal tersebut, lahan sawah ini dapat digolongkan menjadi sawah berpotensi sedang. Tanaman kedelai yang ditanam langsung setelah padi bisa mendapatkan manfaat dari residu hara dari pemupukan padi. Oleh karenanya, kedelai yang ditanam setelah padi memerlukan lebih sedikit pupuk dibandingkan ditanam setelah palawija lainnya.
Pupuk N diperlukan pada lahan sawah berpotensi sedang dan rendah sebanyak 25 kg urea/ha sebagai pertumbuhan. Kebutuhan N tanaman bisa dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium. Untuk meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi Rhizobium dengan dosis 200 g untuk 40 kg benih. Produk inokulum yang baik adalah inokulum yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon pertumbuhan, selain bakteri pengikat N udara. Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan 100% kebutuhan N dan 50% kebutuhan pupuk P dan K. Inokulan Rhizobium juga ada yang berbentuk granul yang diaplikasikan dengan cara ditugal dekat benih dengan dosis 200 kg/ha. Inokulan Rhizobium pabrikan tidak tersedia sehingga digunakan inokulan berupa tanah bekas tanaman kedelai yang diambil dari Desa Tengaran, Kabupaten Sambas, sebanyak 2 karung atau sekitar 200 kg/ha.
Para petani di wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malaysia ini masih sangat sulit memperoleh pupuk sehingga Budidaya Tumpangsari Jagung-Kedelai ini dilakukan dengan menggunakan pupuk NPK Phonska dosis 300 kg/ha baik untuk sumber pupuk Nitrogen, Kalium, maupun Phospat. Untuk alasan efisiensi waktu dan biaya, maka diterapkan pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah. Tanam dilakukan dengan sistem tugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm. Untuk mengurangi penguapan dan menekan pertumbuhan gulma sangat disarankan untuk menggunakan jerami sebagai mulsa. Sementara itu, untuk menghindari adanya genangan air apabila hujan, perlu dibuat saluran drainase di sekeliling dan tengah petak sawah dengan interval 5 – 10 m.

Penulis: Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc