Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Banner Kanan Alsin
Banner Kanan Pupuk
Baner kanan katam
Banner Kanan Agritek
Baner Kanan Bank

Kalender Kegiatan

tomcat2.jpg
Teknologi Pengendalian Pecah Buah Pada Jeruk PDF Cetak E-mail
Jumat, 16 Maret 2012 07:00

pecah buahDi Kabupaten Sambas, jeruk merupakan komoditas pertanian unggulan yang diharapkan dapat memberi kontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat dan pembangunan wilayah secara umum. Saat ini, jenis jeruk di Kabupaten Sambas masih didominasi oleh Siam Pontianak. Dalam beberapa tahun terakhir ini petani juga mulai mencoba mengembangkan jenis jeruk yang baru dengan harga jual lebih tinggi yaitu Keprok Terigas.

.Meskipun petani memiliki antusiasme yang tinggi untuk menanam Jeruk Keprok Terigas, namun  pengembangan jenis jeruk yang lebih komersial ini masih terhambat oleh banyaknya buah yang pecah sebelum siap dipanen. Pecah buah umumnya terjadi pada fase buah dalam pertumbuhan cepat yaitu buah dengan ukuran diameter berkisar 3,7-5,4 cm.

Pecah buah di tingkat petani dapat mencapai 40-60%, bahkan di musim kemarau tahun 2009 tanaman Jeruk Keprok Terigas yang dikelola dengan teknologi petani mengalami pecah buah hingga sekitar 90%. Tingginya persen buah yang pecah tersebut sangat merugikan sehingga banyak petani yang sudah menanam Jeruk Keprok Terigas merasa kecewa. Masalah tersebut juga membuat banyak petani yang membatalkan rencananya untuk menanam Jeruk Keprok Terigas. Mengingat seriusnya masalah pecah buah dalam pengembangan Jeruk Keprok Terigas, maka BPTP Kalimantan Barat pada tahun 2010 melakukan pengkajian untuk mendapatkan teknologi yang dapat mengendalikan pecah buah tersebut.

Untuk itu, pada tahun 2010 BPTP Kalimantan Barat melakukan pengkajian menggunakan metode Split Plot Design sebagai berikut:

  • Petak Utama, terdiri dari:
  1. Lahan dengan parit digenangi, yaitu lahan jeruk yang parit drainasenya digenangi selama tidak ada hujan
  2. Lahan dengan parit tidak digenangi, yaitu lahan jeruk yang parit drainasenya tidak digenangi selama tidak ada hujan (dibiarkan kering)
  • Anak Petak, terdiri dari:
  1. Pupuk anorganik (teknologi petani)
  2. Pupuk anorganik + pupuk organik + mulsa
  3. Pupuk anorganik + pupuk organik + mulsa + (Ca + B)

Tabel 1. Jumlah pecah buah pada Jeruk Keprok Terigas dari setiap perlakuan pengkajian.

Perlakuan

Jumlah Buah Pecah (%)

A. Lahan dengan parit digenangi
  1. Pupuk anorganik (teknologi petani)
  2. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa
  3. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa + (Ca + B)

 

30,15

26,02

19,75

B. Lahan dengan parit tidak digenangi
  1. Pupuk anorganik (teknologi petani)
  2. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa
  3. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa + (Ca + B)

 

47,25

42,17

30,23

Dari tabel diatas dapat disimpulkan untuk mengurangi terjadinya pecah buah, diperlukan pemberian hara yang cukup melalui pupuk anorganik maupun pupuk organik. Selain menambah hara tanah, pupuk organik sebenarnya lebih diperlukan sebagai penyerap dan pengikat air dalam tanah sehingga kadar air, suhu dan kelembaban tanah tidak terlalu berfluktuasi ketika terjadi perubahan dari musim kemarau ke musim hujan. Demikian pula mulsa, perannya sangat diperlukan untuk mengurangi penguapan air tanah dimusim kemarau sehingga kadar air tanah tidak cepat berkurang yang dapat memicu berkurangnya kelembaban tanah dan peningkatan suhu tanah.


 

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com